Ilmuan Temukan ‘Kota Hilang’ di Bawah Laut Artik

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 30 Januari 2026 - 02:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kota Hilang

Kota Hilang "kota yang hilang" di gunung bawah laut arktik

INTERNASIONAL,JS – Para peneliti menemukan lanskap bawah laut menakjubkan di puncak gunung bawah laut dekat Mid-Atlantic Ridge, yang mereka beri nama Lost City atau “Kota yang Hilang”. Penemuan ini menunjukkan bahwa ekosistem bisa bertahan tanpa sinar Matahari dan oksigen.

Menara Karbonat yang Menakjubkan

Kawasan ini dipenuhi menara-menara karbonat krem yang berkilau kebiruan ketika disinari lampu kendaraan kendali jarak jauh. Struktur menara bervariasi, mulai dari tumpukan kecil seukuran jamur hingga monolit raksasa setinggi 600 meter. Monolit tertinggi dinamai Poseidon, diambil dari dewa laut Yunani. Lanskap ini terlihat seperti kota kuno di dasar laut.

Ekosistem Ekstrem yang Penuh Kehidupan

Baca Juga :  Paspor Malaysia Tembus Peringkat 9 Dunia, Akses ke 180 Negara

Lost City berada lebih dari 700 meter di bawah permukaan laut dan merupakan bagian dari Lapangan Ventilasi Hidrotermal tertua yang diketahui. Selama sekitar 120.000 tahun, mantel Bumi terdorong ke atas, bereaksi dengan air laut, dan menghasilkan hidrogen, metana, serta gas terlarut yang memberi energi bagi mikroba.

Para peneliti juga menemukan cerobong yang menyemburkan fluida hingga 40°C, tempat siput dan krustasea berkembang. Hewan lebih besar, seperti kepiting, udang, bulu babi, dan belut, muncul meski jarang. Kondisi ini menunjukkan bahwa kehidupan bisa bertahan di lingkungan ekstrem.

Rekor Baru Pengambilan Inti Batu Mantel

Baca Juga :  NASA Temukan Kandidat Planet Super Dingin Mirip Bumi

Pada 2024, tim peneliti mengambil inti batu mantel sepanjang 1.268 meter dari lapangan hidrotermal. Sampel ini memberi petunjuk tentang bagaimana kehidupan muncul di Bumi miliaran tahun lalu, karena mineral-mineral di sana mempertahankan kondisi awal yang unik.

Menariknya, hidrokarbon di Lost City muncul dari reaksi kimia di dasar laut, bukan dari CO₂ atmosfer atau cahaya Matahari. Hal ini menunjukkan kemungkinan kehidupan muncul di lingkungan serupa di planet atau bulan lain, seperti Europa, Enceladus, atau Mars di masa lalu, menurut mikrobiolog William Brazelton.

Bedanya dengan Black Smokers

Berbeda dari black smokers, ventilasi Lost City tidak bergantung pada panas magma. Black smokers kaya besi dan sulfur, sedangkan cerobong Lost City menghasilkan hidrogen dan metana hingga 100 kali lebih banyak. Selain itu, ukuran ventilasi lebih besar dan aktivitasnya berlangsung jauh lebih lama.

Ancaman dan Upaya Perlindungan

Baca Juga :  Singapura Perketat Perbatasan, Maskapai Bisa Tolak Penumpang

Kawasan ini menarik perhatian industri. Pada 2018, Polandia memperoleh hak menambang di sekitar wilayah Lost City. Para peneliti khawatir sedimen atau limbah penambangan dapat merusak habitat unik ini.

Sebagai respons, sejumlah pakar mendorong Lost City menjadi Situs Warisan Dunia untuk melindungi ekosistem ekstrem ini dari ancaman manusia.

Kota Bawah Laut sebagai Bukti Kehidupan Ekstrem

Lost City bukan sekadar lanskap bawah laut; ia membuktikan bahwa kehidupan mampu berkembang bahkan di lingkungan paling keras sekalipun. Penemuan ini memberi wawasan penting tentang asal-usul kehidupan dan potensi kehidupan di luar Bumi.(*)

Berita Terkait

Lemang Kantong Semar from Kerinci: Indonesia’s Rare Culinary Heritage That Captivates Tourists and Food Lovers
TKI Indonesia di Malaysia Bisa Kirim Uang Lebih Besar! Cek Kurs MYR ke IDR Terbaru
OJK Sounds Alarm as Online Scam Cases Explode in Indonesia, More Than 530,000 Reports Trigger National Financial Security Warning
Aturan Baru Haji 2026 Jadi Sorotan, Kamera Ponsel Bisa Bikin Jemaah Masuk Penjara
Instagram Geger! Jutaan Followers Artis Mendadak Hilang, Ternyata Ini Penyebabnya
BCA Expands QRIS Cross Border to China: Easy Cashless Payments for Indonesian Travelers in 2026
QRIS Goes Global 2026: Indonesia–China Payment Integration Unlocks Massive Opportunities for SMEs and Digital Economy Growth
Kerinci Coffee Poised to Dominate Global Export Market: Premium Arabica from Indonesia Attracts International Buyers
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 03:02 WIB

Lemang Kantong Semar from Kerinci: Indonesia’s Rare Culinary Heritage That Captivates Tourists and Food Lovers

Minggu, 17 Mei 2026 - 23:01 WIB

TKI Indonesia di Malaysia Bisa Kirim Uang Lebih Besar! Cek Kurs MYR ke IDR Terbaru

Minggu, 17 Mei 2026 - 03:02 WIB

OJK Sounds Alarm as Online Scam Cases Explode in Indonesia, More Than 530,000 Reports Trigger National Financial Security Warning

Selasa, 12 Mei 2026 - 21:35 WIB

Aturan Baru Haji 2026 Jadi Sorotan, Kamera Ponsel Bisa Bikin Jemaah Masuk Penjara

Minggu, 10 Mei 2026 - 21:00 WIB

Instagram Geger! Jutaan Followers Artis Mendadak Hilang, Ternyata Ini Penyebabnya

Berita Terbaru