TEKNOLOGI,JS- PT Bukalapak.com Tbk akhirnya membalikkan kinerja keuangan pada 2025 dengan mencatat laba bersih Rp 3,14 triliun. Sebelumnya, perusahaan masih membukukan rugi Rp 1,54 triliun pada 2024. Kini, perubahan strategi bisnis langsung mendorong hasil yang signifikan.
Pendapatan Melonjak Tajam Berkat Strategi Baru
Seiring perubahan fokus bisnis, pendapatan Bukalapak meningkat pesat. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis melalui Bursa Efek Indonesia, perusahaan mencatat kenaikan pendapatan 46 persen secara tahunan menjadi Rp 6,5 triliun.
Selain itu, perbaikan kinerja investasi turut memperkuat hasil tersebut. Bukalapak berhasil membalikkan posisi dari rugi Rp 1,54 triliun menjadi laba Rp 2,37 triliun. Dampaknya, laba usaha ikut terdongkrak hingga Rp 2,41 triliun.
Gaming Melesat, Jadi Motor Utama Pertumbuhan
Di sisi lain, segmen gaming tampil sebagai pendorong utama. Bukalapak mencatat lonjakan pendapatan gaming sebesar 205,09 persen menjadi Rp 5,34 triliun.
Pertumbuhan ini tidak terjadi secara kebetulan. Perusahaan mengoptimalkan platform seperti Itemku dan Lapakgaming untuk menangkap lonjakan transaksi pemain.
Pada kuartal IV 2025, kedua platform tersebut menghasilkan Rp 1,5 triliun. Angka ini naik 8 persen dibanding kuartal sebelumnya. Peningkatan transaksi serta strategi pemasaran akhir tahun ikut mempercepat pertumbuhan ini.
Segmen Lain Tertekan, Namun Tetap Berkontribusi
Namun demikian, tidak semua lini bisnis mencatatkan pertumbuhan. Segmen online to offline (omnichannel) turun 61,74 persen menjadi Rp 794,47 miliar. Sementara itu, segmen ritel juga menyusut 48,12 persen menjadi Rp 301,77 miliar.
Meski tertekan, kedua segmen tersebut tetap menjadi bagian dari ekosistem perusahaan. Bahkan, Bukalapak masih mempertahankan strategi omnichannel untuk menjaga keseimbangan bisnis.
Mitra Bukalapak Perkuat Ekosistem Digital
Selanjutnya, program Mitra Bukalapak terus menunjukkan perkembangan positif. Program ini berfokus pada pemberdayaan UMKM melalui akses produk digital.
Pada kuartal IV 2025, segmen ini mencatat pendapatan Rp 191 miliar. Angka tersebut tumbuh 12 persen dibanding kuartal sebelumnya. Peningkatan permintaan terhadap voucher, token listrik, dan mata uang gim mendorong kinerja ini.
Platform Investasi Tumbuh Semakin Agresif
Tidak hanya itu, Bukalapak juga mempercepat ekspansi di sektor investasi digital melalui B-Money.
Pendapatan dari segmen ini naik 39 persen secara kuartalan menjadi Rp 25 miliar. Pertumbuhan ini terjadi karena jumlah investor terus bertambah. Selain itu, frekuensi transaksi pengguna juga meningkat secara konsisten.
Ritel Omnichannel Tetap Dijaga untuk Stabilitas
Sementara itu, Bukalapak tetap menjaga lini ritel berbasis omnichannel. Perusahaan memanfaatkan segmen ini untuk memperkuat ekosistem.
Pada kuartal IV 2025, segmen ritel menghasilkan Rp 74 miliar. Angka tersebut tumbuh 12 persen dibanding kuartal sebelumnya. Permintaan akhir tahun serta strategi cuci gudang mendorong peningkatan ini.
Profitabilitas Membaik, Dekati Titik Impas
Lebih lanjut, Bukalapak berhasil memperbaiki struktur biaya. Perusahaan menekan adjusted EBITDA dari minus Rp 340 miliar pada 2024 menjadi minus Rp 62 miliar pada 2025.
Bahkan, pada kuartal IV 2025, posisi EBITDA hampir mencapai titik impas dengan minus Rp 9 miliar. Perbaikan ini menunjukkan arah bisnis yang semakin sehat.
Direktur Bukalapak, Victor Putra Lesmana, menegaskan bahwa 2025 menjadi fase penting dalam transformasi perusahaan. Ia menekankan fokus pada strategi jangka panjang yang berkelanjutan.
Cadangan Kas Besar Jadi Modal Ekspansi
Terakhir, Bukalapak mengantongi cadangan kas, setara kas, dan investasi likuid sebesar Rp 17,8 triliun. Dengan modal ini, perusahaan memiliki ruang luas untuk memperluas inovasi.
Ke depan, Bukalapak berpeluang memperkuat posisinya di sektor ekonomi digital. Transformasi yang dijalankan saat ini mulai menunjukkan hasil nyata dan membuka peluang pertumbuhan baru.(*)









