BISNIS,JS- Di tengah gejolak pasar saham dan tekanan ekonomi global sepanjang 2026, strategi berburu dividen kembali menjadi perhatian investor. Ketika pergerakan harga saham sulit diprediksi, pembagian dividen tunai dianggap mampu memberikan “napas tambahan” bagi portofolio investasi.
Tidak heran jika saham-saham dengan dividend yield tinggi langsung menjadi incaran menjelang periode cum dividen. Beberapa emiten bahkan menawarkan imbal hasil jauh di atas bunga deposito perbankan yang saat ini berada di kisaran 2%–3%.
Namun, investor kini tidak hanya mengejar yield besar. Mereka mulai lebih selektif dan memperhatikan kualitas fundamental perusahaan, keberlanjutan laba, hingga potensi penurunan harga saham setelah ex-date.
Pekan ini, sejumlah emiten besar dijadwalkan memasuki periode cum dividen. Di antaranya PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), PT Semen Indonesia Persero Tbk (SMGR), PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Medela Potentia Tbk (MDLA), PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN), PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), dan PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA).
Masing-masing menawarkan dividend yield yang berbeda. Bahkan, ada yang mencapai dua digit dan langsung menarik perhatian pasar.
Daftar Saham dengan Dividend Yield Tertinggi Pekan Ini
Berikut rincian dividen dan estimasi dividend yield beberapa emiten yang akan cum dividen:
- CDIA: dividen Rp5,56 per saham, yield sekitar 0,5%
- SMGR: dividen Rp28,33 per saham, yield sekitar 1,3%
- RALS: dividen Rp50 per saham, yield sekitar 11%
- MDLA: dividen Rp12,6 per saham, yield sekitar 5%
- PLIN: dividen Rp79 per saham, yield sekitar 3,5%–4%
- TOTL: dividen Rp110 per saham, yield sekitar 9%
- RATU: dividen Rp45 per saham, yield sekitar 5%–6%
- WEHA: dividen Rp6 per saham, yield sekitar 4%–5%
Di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, saham dengan dividend yield besar memang terlihat menggiurkan. Namun, para analis mengingatkan investor agar tidak hanya terpaku pada nominal dividen.
Yield Tinggi Belum Tentu Aman, Waspadai Dividend Trap
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menilai dividen tetap menjadi bantalan return saat pasar volatile. Meski begitu, investor harus tetap fokus pada kualitas bisnis dan keberlanjutan laba perusahaan.
Menurutnya, dividend yield tinggi tanpa pertumbuhan fundamental justru bisa menjadi sinyal bahaya.
RALS misalnya, saat ini menawarkan dividend yield sekitar 11%, tertinggi di antara emiten lain yang akan cum dividen pekan ini. Namun, sektor ritel masih menghadapi tekanan daya beli masyarakat.
Kinerja RALS juga menunjukkan pelemahan laba bersih dan penjualan secara tahunan. Situasi tersebut meningkatkan risiko terjadinya dividend trap, yakni kondisi ketika investor mengejar dividen tinggi tetapi harga saham justru turun tajam setelah ex-date.
Berbeda dengan RALS, saham TOTL justru mendapat sorotan positif dari analis.
Dividend yield TOTL memang sedikit lebih rendah dibanding RALS, yakni sekitar 9%. Namun, perusahaan konstruksi tersebut mencatat pertumbuhan laba yang solid pada kuartal I-2026.
Arus kas perusahaan juga tetap sehat sehingga memperkuat keyakinan investor terhadap keberlanjutan dividen ke depan.
Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menyebut TOTL menawarkan kombinasi menarik antara yield tinggi dan fundamental yang masih bertumbuh.
Menurutnya, laba bersih TOTL naik sekitar 37% secara tahunan pada kuartal pertama 2026.
Manajemen TOTL bahkan menargetkan pendapatan sekitar Rp3,9 triliun serta laba bersih Rp400 miliar sepanjang 2026.
Ekky merekomendasikan buy on weakness untuk TOTL di kisaran Rp1.000–Rp1.100 per saham dengan target harga Rp1.300–Rp1.400 per saham.
Saham Energi RATU Diuntungkan Harga Minyak Global
Di sektor energi, saham RATU juga mulai menarik perhatian investor.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, melihat RATU masih memiliki prospek kuat sepanjang 2026.
Perusahaan tersebut memperoleh arus kas stabil dari Blok Cepu serta memiliki dividend payout ratio sekitar 46%.
Selain itu, kenaikan harga minyak global akibat tensi geopolitik Timur Tengah memberi sentimen positif bagi emiten migas.
Dalam kondisi rupiah melemah dan pasar saham domestik volatile, saham berbasis komoditas dolar AS seperti RATU biasanya menjadi pilihan defensif investor.
Brigita menilai RATU berpotensi mencatat kenaikan average selling price (ASP) dan arus kas yang lebih kuat apabila harga minyak tetap tinggi.
Ketika harga minyak naik, saham energi bisa melesat sangat cepat. Sebaliknya, jika harga komoditas terkoreksi atau tensi geopolitik mereda, harga saham juga dapat turun tajam dalam waktu singkat.
Karena itu, RATU lebih cocok disebut sebagai cyclical commodity play dengan momentum jangka pendek yang kuat.
Wafi merekomendasikan beli RATU dengan target harga Rp6.400 per saham.
SMGR dan CDIA Hadapi Tantangan Berat
Tidak semua saham dividen mendapat prospek cerah tahun ini.
SMGR misalnya, masih menghadapi tekanan oversupply industri semen nasional. Selain itu, dividend payout ratio yang mencapai 100% dianggap menjadi sinyal terbatasnya ruang reinvestasi untuk ekspansi bisnis.
Sementara itu, CDIA juga menghadapi tantangan serius setelah laba kuartal I-2026 turun sekitar 68,6% secara tahunan.
Wafi menilai dividen perdana CDIA lebih bersifat simbolis dibanding mencerminkan kekuatan fundamental perusahaan.
Karena itu, investor perlu lebih berhati-hati terhadap saham dengan dividend yield kecil tetapi kinerja laba yang melemah.
Strategi Dividend Investing Masih Relevan di 2026
Meski pasar saham bergerak fluktuatif, strategi dividend investing masih dianggap relevan pada 2026. Namun, pendekatan investor kini berubah.
Investor tidak lagi sekadar membeli saham menjelang cum date demi mengejar dividen cepat. Strategi tersebut justru berisiko tinggi karena harga saham biasanya terkoreksi setelah ex-date.
Brigita menyarankan investor memilih saham dengan dividend yield moderat sekitar 5%–8% tetapi memiliki pertumbuhan laba yang sehat.
Strategi ini membantu investor menghindari dividend trap sekaligus memperoleh peluang capital gain jangka panjang.
Selain itu, sektor defensif seperti konstruksi, kesehatan, dan energi berbasis arus kas stabil dinilai lebih aman menghadapi volatilitas pasar global.
Investor juga sebaiknya membeli saham ketika harga sedang diskon atau jauh sebelum periode cum dividen dimulai.
Wafi menambahkan bahwa strategi income investing yang dikombinasikan dengan defensive positioning masih menjadi pilihan terbaik di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tingginya volatilitas IHSG.
RALS Tetap Menarik untuk Trading Jangka Pendek
Meski fundamentalnya masih menantang, saham RALS tetap memiliki daya tarik besar di kalangan pemburu dividen.
Dividend yield dua digit membuat saham ritel ini berpotensi menjadi instrumen trading jangka pendek menjelang pembagian dividen.
Ekky melihat sentimen positif RALS bisa muncul jika konsumsi rumah tangga mulai pulih, terutama saat musim belanja dan momentum peningkatan daya beli masyarakat.
Posisi kas perusahaan yang masih kuat juga menjadi faktor penopang keberlanjutan dividen.
Namun, investor tetap harus memperhatikan risiko tekanan harga setelah ex-date. Apalagi, pendapatan RALS pada kuartal I-2026 turun sekitar 14% secara tahunan, sedangkan laba bersih melemah 11,3%.
Karena itu, RALS lebih cocok dipandang sebagai saham dividend play jangka pendek dibanding saham pertumbuhan.
Wafi merekomendasikan beli RALS dengan target harga Rp580 per saham.
Saham Dividen Mana yang Paling Menarik?
Jika melihat kombinasi dividend yield dan fundamental bisnis, banyak analis menilai TOTL menjadi pilihan paling seimbang saat ini.
Saham ini menawarkan yield tinggi, pertumbuhan laba yang masih solid, serta prospek bisnis konstruksi yang tetap berjalan di tengah ketidakpastian pasar.
Sementara itu, RATU menarik bagi investor agresif yang ingin memanfaatkan momentum kenaikan harga minyak global.
Adapun RALS lebih cocok bagi trader jangka pendek yang memburu dividen besar, tetapi siap menghadapi volatilitas harga saham setelah ex-date.
Di tengah kondisi pasar yang belum stabil, investor tetap perlu disiplin memilih saham berdasarkan kualitas fundamental, arus kas, dan keberlanjutan dividen.
Sebab, dividend yield besar memang terlihat menggiurkan. Namun tanpa bisnis yang kuat, dividen tinggi justru bisa berubah menjadi jebakan yang menggerus nilai investasi dalam waktu singkat.(*)









