Dana Bank Parkir di SRBI Tembus Rp673 Triliun, Kredit Seret dan Suku Bunga Tinggi Jadi Pemicu

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 20 Mei 2026 - 11:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dana Bank Parkir di SRBI

Dana Bank Parkir di SRBI

BISNIS,JS- Perbankan nasional terus menambah penempatan dana pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sepanjang awal 2026. Kondisi tersebut menunjukkan sikap hati-hati industri perbankan di tengah tekanan ekonomi global, tingginya suku bunga dunia, dan lemahnya permintaan kredit.

Data Bank Indonesia mencatat kepemilikan perbankan pada SRBI mencapai Rp673,90 triliun per April 2026. Nilai itu naik 22,73 persen secara tahunan atau year on year (YoY).

Perbankan juga menambah dana sekitar Rp59,12 triliun sejak awal tahun. Pada Januari 2026, posisi SRBI perbankan masih berada di level Rp589,42 triliun.

Kenaikan tersebut memperlihatkan perubahan strategi bank dalam mengelola likuiditas. Banyak bank kini memilih instrumen aman dengan imbal hasil tinggi dibanding memperbesar penyaluran kredit.

SRBI menjadi pilihan utama karena menawarkan risiko rendah dan return menarik saat kondisi ekonomi belum stabil.

Bank Pilih Main Aman di Tengah Tekanan Global

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai lonjakan dana di SRBI mencerminkan sikap defensif industri perbankan.

Menurut Rizal, bank sebenarnya memiliki likuiditas yang cukup kuat. Namun dunia usaha belum menunjukkan keberanian untuk melakukan ekspansi besar.

Tekanan daya beli masyarakat, volatilitas rupiah, dan ketidakpastian global membuat banyak pelaku usaha menunda investasi baru.

Akibatnya, permintaan kredit belum tumbuh maksimal meski likuiditas bank tetap longgar.

“Persoalan utama saat ini bukan semata likuiditas, tetapi lemahnya confidence dunia usaha untuk berekspansi,” ujar Rizal.

Ia menjelaskan pertumbuhan kredit masih berjalan, tetapi sektor BUMN dan beberapa industri tertentu menjadi penopang utama.

Sebaliknya, banyak perusahaan swasta memilih menunggu situasi ekonomi lebih stabil sebelum menambah pembiayaan baru.

Kondisi itu membuat bank lebih nyaman menempatkan dana di SRBI daripada mengambil risiko kredit lebih besar.

Dana Mengendap di SRBI Bisa Hambat Ekonomi

Rizal mengingatkan tren penempatan dana di SRBI dapat melemahkan fungsi intermediasi perbankan jika berlangsung terlalu lama.

Bank akan lebih banyak menyimpan dana pada instrumen moneter daripada menyalurkannya ke sektor riil. Situasi itu dapat memperlambat investasi, ekspansi bisnis, dan penciptaan lapangan kerja.

Dalam jangka pendek, strategi tersebut memang membantu stabilitas rupiah dan pasar keuangan. Namun ekonomi nasional bisa kehilangan momentum pertumbuhan jika kredit produktif tidak bergerak lebih cepat.

Rizal juga memperkirakan tren penempatan dana di SRBI masih bertahan hingga akhir 2026.

Baca Juga :  Investasi Properti vs Tanah 2026: Mana Lebih Untung? Ini Strategi Rahasia Para Investor

Tekanan terhadap rupiah dan tingginya suku bunga global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi strategi perbankan.

“Selama instrumen moneter memberikan risk-return yang lebih menarik dibanding risiko kredit, perbankan akan tetap berhati-hati dalam ekspansi pembiayaan,” katanya.

The Fed Hawkish Bikin Bank Jaga Likuiditas

Direktur Utama PT Bank KB Indonesia Tbk, Kunardy Lie, mengakui perusahaannya ikut meningkatkan penempatan dana pada SRBI.

KB Bank mengambil langkah tersebut untuk menjaga likuiditas sekaligus mengoptimalkan pendapatan bunga.

Kunardy menyebut kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve atau The Fed ikut mendorong kehati-hatian industri perbankan nasional.

Selain itu, tingginya yield US Treasury dan tensi geopolitik di Timur Tengah serta Asia menambah tekanan terhadap pasar keuangan global.

“Hal ini didorong oleh kebijakan The Fed yang cenderung hawkish, tingginya yield US Treasury, serta tensi geopolitik di Timur Tengah dan Asia,” ujar Kunardy.

KB Bank memperkirakan kepemilikan SRBI masih tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Bank memanfaatkan instrumen tersebut sebagai buffer likuiditas sekaligus sumber pendapatan bunga.

Selain SRBI, KB Bank juga mempertimbangkan excess reserves Bank Indonesia untuk pengelolaan likuiditas.

Kunardy menegaskan perusahaan tetap menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan penempatan dana pada instrumen aman.

Per Maret 2026, nilai surat berharga milik KB Bank mencapai Rp19,40 triliun. Angka itu naik dibanding posisi akhir 2025 sebesar Rp18,96 triliun.

BCA Fokus Salurkan Kredit

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengambil pendekatan berbeda. Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menegaskan perusahaan hanya memanfaatkan SRBI sebagai tempat sementara.

BCA tetap menjadikan pertumbuhan kredit sebagai fokus utama sepanjang 2026.

Menurut Hendra, perseroan akan mengalihkan dana dari SRBI ke kredit produktif ketika permintaan pembiayaan mulai meningkat.

“SRBI ini sebetulnya hanya tempat sementara sampai ada pertumbuhan kredit,” ujar Hendra.

Sebagian besar SRBI milik BCA memiliki tenor pendek mulai dari enam bulan hingga satu tahun.

Karena itu, posisi kepemilikan SRBI tetap stabil. BCA terus menyesuaikan pembelian baru dengan instrumen yang jatuh tempo.

“Fokusnya tetap di pertumbuhan kredit. Jadi sambil menunggu kredit cair, sebagian dana ditempatkan ke SRBI,” katanya.

Hendra juga menegaskan BCA tidak menetapkan target khusus untuk kepemilikan SRBI.

Baca Juga :  Cara Upgrade GoPay Plus Terbaru 2026, Limit Saldo Naik Rp20 Juta dan Bisa Transfer ke Bank

Perusahaan menggunakan instrumen tersebut untuk menjaga fleksibilitas likuiditas di tengah dinamika penyaluran kredit.

Per Maret 2026, nilai surat berharga milik BCA mencapai Rp444,51 triliun atau sekitar 27,96 persen dari total aset perusahaan.

CIMB Niaga Kurangi Dana di SRBI

PT Bank CIMB Niaga Tbk justru mengurangi penempatan dana pada SRBI sepanjang setahun terakhir.

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan perusahaan menurunkan penempatan dana di SRBI sekitar 30 persen secara tahunan.

CIMB Niaga kini lebih fokus mengembangkan fee based income melalui bisnis wealth management.

“Penempatan dana di SRBI sudah turun 30 persen secara tahunan. Mayoritas likuiditas kami arahkan ke fee income lewat wealth management,” jelas Lani.

Meski demikian, nilai surat berharga milik CIMB Niaga tetap meningkat.

Laporan keuangan per Maret 2026 mencatat kepemilikan surat berharga CIMB Niaga mencapai Rp81,96 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, nilainya berada di level Rp74,74 triliun.

Perbedaan strategi antarbank menunjukkan industri perbankan masih mencari formula terbaik untuk menjaga likuiditas sekaligus mempertahankan pertumbuhan bisnis.

SRBI Jadi Sinyal Pemulihan Ekonomi Belum Kuat

Lonjakan dana perbankan di SRBI menjadi sinyal penting bagi kondisi ekonomi nasional saat ini.

Bank memang berhasil menjaga stabilitas likuiditas dan meminimalkan risiko di tengah tekanan global. Namun besarnya dana yang mengendap di instrumen moneter menunjukkan sektor riil belum pulih sepenuhnya.

Dunia usaha masih menahan ekspansi. Permintaan kredit juga belum bergerak agresif.

Karena itu, bank memilih instrumen aman dengan imbal hasil menarik sambil menunggu kondisi ekonomi membaik.

Pelaku pasar kini menunggu penurunan suku bunga global, stabilisasi rupiah, dan pemulihan daya beli masyarakat.

Jika kondisi tersebut membaik, dana ratusan triliun rupiah yang saat ini berada di SRBI dapat kembali mengalir ke sektor produktif dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional lebih cepat.(*)

Berita Terkait

Harga Emas Perhiasan Cenderung Stabil, Ini Daftar Lengkap Semua Kadar Karat
Investasi Berlian vs Emas, Mana yang Lebih Untung? Ini Rahasia Orang Kaya Menyimpan Kekayaan di Batu Mulia
Emas atau Reksa Dana? Ini Investasi Paling Untung untuk Pemula di 2026
Rahasia Personal Branding Digital yang Bikin Karier dan Bisnis Makin Melejit di 2026
Biaya Shopee dan TikTok Shop Makin Mahal? Brand Lokal Ramai Tinggalkan Marketplace, UMKM Mulai Pilih Jualan Mandiri
Harga Emas Pecah Rekor Rp75 Juta, Haruskah Dana Pensiun Dipindahkan ke Emas?
Rupiah Jebol Rp17.700 per Dolar AS, BI Terdesak Naikkan Suku Bunga? Investor Mulai Panik
Cara Upgrade GoPay Plus Terbaru 2026, Limit Saldo Naik Rp20 Juta dan Bisa Transfer ke Bank
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 20 Mei 2026 - 11:35 WIB

Harga Emas Perhiasan Cenderung Stabil, Ini Daftar Lengkap Semua Kadar Karat

Rabu, 20 Mei 2026 - 11:06 WIB

Dana Bank Parkir di SRBI Tembus Rp673 Triliun, Kredit Seret dan Suku Bunga Tinggi Jadi Pemicu

Rabu, 20 Mei 2026 - 06:01 WIB

Investasi Berlian vs Emas, Mana yang Lebih Untung? Ini Rahasia Orang Kaya Menyimpan Kekayaan di Batu Mulia

Selasa, 19 Mei 2026 - 23:08 WIB

Emas atau Reksa Dana? Ini Investasi Paling Untung untuk Pemula di 2026

Selasa, 19 Mei 2026 - 22:03 WIB

Rahasia Personal Branding Digital yang Bikin Karier dan Bisnis Makin Melejit di 2026

Berita Terbaru