MOSKOW,JS – Presiden Rusia, Vladimir Putin, menegaskan operasi militer di Ukraina hanya akan berhenti jika Kyiv menarik pasukannya dari wilayah yang diklaim Moskwa. “Jika pasukan Ukraina meninggalkan wilayah yang mereka kuasai, kami akan menghentikan operasi tempur. Jika tidak, kami akan merebutnya dengan kekuatan militer,” ujarnya saat berkunjung ke Kirgistan.
Rusia Terus Memperluas Kontrol di Timur Ukraina
Rusia kini menguasai sekitar 20% wilayah Ukraina. Pasukan Rusia terus menyerang secara lambat namun konsisten di timur negara itu. Wilayah pendudukan menjadi hambatan utama dalam negosiasi damai karena Kyiv menolak menyerahkan tanahnya.
Upaya Perdamaian AS Menuai Kontroversi
Amerika Serikat mendorong upaya mengakhiri konflik yang hampir memasuki tahun keempat. Rencana awal Washington meminta Ukraina menarik diri dari Donetsk. Dokumen itu secara implisit mengakui Donetsk, Crimea, dan Lugansk sebagai bagian Rusia. Setelah mendapat kritik, AS merevisi dokumen, tetapi belum mempublikasikan versi terbaru. Putin menyebut draf baru itu bisa menjadi titik awal negosiasi.
Ukraina Tegaskan Tidak Akan Menyerah
Kepala Staf Kepresidenan Ukraina, Andriy Yermak, menolak klaim Rusia. “Selama Zelensky masih presiden, tidak ada yang bisa berharap Ukraina menyerahkan wilayah. Yang realistis sekarang hanyalah menetapkan garis kontak sepanjang 1.100 kilometer,” tegasnya.
Klaim Pengepungan di Donetsk
Putin mengklaim pasukannya mengepung kota Pokrovsk dan Myrnograd di Donetsk. Ukraina membantah klaim itu dan mempertahankan garis pertahanannya. Rusia terus maju di beberapa titik strategis, termasuk Vovchansk, Siversk, dan mendekati Guliaipole.
Dampak Konflik
Sejak invasi penuh Februari 2022, konflik menewaskan ratusan ribu orang. Jutaan warga Ukraina terpaksa meninggalkan rumah. Menurut Institute for the Study of War (ISW), Rusia merebut rata-rata 467 km² per bulan sepanjang 2025. Angka ini meningkat dibanding capaian 2024.








