Asing Jual Saham BBCA Rp34 Triliun, Bagaimana Prospek Saham Bank BCA, BRI dan Mandiri?

- Jurnalis

Minggu, 18 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Saham BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI Dilepas Asing, Data Net Sell Terbaru 2026

Saham BBCA, BBRI, BMRI dan BBNI Dilepas Asing, Data Net Sell Terbaru 2026

BISNIS,JS- Investor asing terus melepas saham-saham berkapitalisasi pasar besar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang 2026. Saham perbankan menjadi salah satu sektor yang menghadapi tekanan jual cukup besar, terutama saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).

Berdasarkan data RTI Business untuk periode awal tahun hingga 16 Oktober 2026, investor asing mencatatkan net sell BBCA sekitar Rp34,4 triliun. Nilai tersebut menempatkan BBCA sebagai saham dengan penjualan bersih asing terbesar di antara saham-saham yang tercatat dalam daftar pemantauan tersebut.

Tekanan serupa juga menyasar saham bank jumbo lainnya. Investor asing melepas saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan nilai net sell Rp16,8 triliun. Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatatkan penjualan bersih asing Rp13,4 triliun, sedangkan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mencapai Rp3,4 triliun.

Jika menjumlahkan keempat saham tersebut, nilai penjualan bersih asing mencapai sekitar Rp68 triliun sejak awal tahun. Angka ini memperlihatkan besarnya tekanan yang harus dihadapi saham perbankan berkapitalisasi besar di tengah dinamika pasar modal Indonesia.

Namun, derasnya arus jual asing tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh saham bank kehilangan prospek. Investor juga perlu mencermati kinerja keuangan, valuasi, kualitas kredit, serta kemampuan masing-masing bank menjaga profitabilitas.

BBCA Jadi Saham dengan Net Sell Asing Terbesar

BBCA menempati posisi teratas dalam daftar saham yang paling banyak dilepas investor asing sepanjang 2026. Nilai penjualan bersih yang mencapai puluhan triliun rupiah menjadikan pergerakan saham bank swasta terbesar di Indonesia tersebut sebagai salah satu perhatian pelaku pasar.

Selain BBCA, saham BMRI dan BBRI juga mencatatkan arus keluar dana asing dalam jumlah besar. Kedua bank tersebut memiliki peran penting dalam industri perbankan nasional, baik melalui pembiayaan korporasi maupun penyaluran kredit kepada masyarakat dan pelaku usaha.

Sementara itu, BBNI mencatatkan net sell asing sebesar Rp3,4 triliun. Walaupun nilainya lebih rendah daripada tiga bank lainnya, tekanan jual tersebut tetap menunjukkan bahwa investor asing mengurangi kepemilikan pada sejumlah saham perbankan besar.

Secara keseluruhan, data tersebut menggambarkan kecenderungan investor asing mengurangi eksposur pada sejumlah saham unggulan di pasar domestik. Meski demikian, data net sell tidak secara langsung menjelaskan alasan setiap investor menjual sahamnya.

Arus keluar dana asing dapat berkaitan dengan perubahan strategi investasi, pengelolaan risiko, penyesuaian portofolio global, hingga penilaian terhadap prospek ekonomi dan pasar keuangan.

Laba Perbankan Diperkirakan Tumbuh Lebih Lambat

Di tengah tekanan pasar, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan proyeksi pertumbuhan laba bersih agregat perbankan sebesar 4% secara tahunan untuk tahun buku 2026.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Nataniella Eva Kezia, memperkirakan pertumbuhan tersebut lebih rendah daripada capaian pertumbuhan laba bersih sebesar 11% pada semester I/2026.

Perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa analis memperkirakan kinerja perbankan akan menghadapi tantangan yang lebih berat pada paruh kedua tahun ini.

Salah satu faktor yang perlu investor perhatikan ialah margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Indikator ini menggambarkan kemampuan bank menghasilkan pendapatan bunga bersih dari aset produktifnya.

Ketika NIM menyusut, ruang bank untuk meningkatkan pendapatan bunga bersih ikut berkurang. Kondisi tersebut dapat menekan profitabilitas, terutama jika bank tidak mampu mengimbanginya melalui pertumbuhan kredit, pendapatan berbasis komisi, atau efisiensi operasional.

Selain itu, kenaikan biaya dana atau cost of fund (CoF) juga menjadi perhatian. Bank perlu mengelola biaya penghimpunan dana agar tetap kompetitif dalam menawarkan bunga simpanan sekaligus menjaga margin keuntungan.

Apabila biaya dana meningkat lebih cepat daripada pendapatan bunga, kemampuan bank mempertahankan laba dapat menghadapi tekanan.

Baca Juga :  Bisnis-27 Anjlok 1,37%, Saham DEWA dan BUMI Kompak Merah

Risiko Kredit UMKM dan Konsumer Masih Menjadi Perhatian

Selain NIM dan biaya dana, kualitas kredit turut menentukan prospek kinerja perbankan pada semester II/2026.

BRI Danareksa Sekuritas menyoroti potensi kenaikan biaya kredit atau cost of credit (CoC), seiring perhatian terhadap rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL), terutama pada segmen konsumer dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Biaya kredit mencerminkan beban yang perlu bank tanggung untuk mengantisipasi risiko penurunan kualitas pinjaman. Jika risiko gagal bayar meningkat, bank berpotensi menambah pencadangan kerugian kredit.

Langkah tersebut dapat mengurangi laba bersih, meskipun bank tetap mampu meningkatkan penyaluran kredit. Karena itu, investor perlu melihat pertumbuhan kredit bersama perkembangan NPL, pencadangan, dan kemampuan debitur memenuhi kewajibannya.

Segmen UMKM memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Namun, kemampuan pelaku usaha membayar pinjaman juga dapat menghadapi tantangan ketika permintaan melemah, biaya operasional meningkat, atau arus kas usaha terganggu.

Pada segmen konsumer, bank juga perlu menjaga kualitas kredit dari berbagai produk pembiayaan rumah tangga. Perkembangan pendapatan debitur dan kemampuan membayar cicilan menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas aset.

Dengan mempertimbangkan berbagai risiko tersebut, pertumbuhan laba perbankan pada semester II/2026 berpotensi lebih terbatas dibandingkan semester pertama, sesuai proyeksi analis yang dikutip.

BRI Danareksa Sekuritas Tetap Mempertahankan Rekomendasi Overweight

Walaupun tekanan jual asing masih berlangsung, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perbankan.

Rekomendasi tersebut mencerminkan pandangan analis terhadap prospek sektor secara keseluruhan. Namun, investor tetap perlu membedakan rekomendasi jangka panjang dengan kondisi pergerakan harga dalam jangka pendek.

BRI Danareksa Sekuritas juga memberikan pandangan taktis untuk tiga bulan pada level neutral. Dengan demikian, pelaku pasar perlu memperhatikan kemungkinan pergerakan harga yang masih berfluktuasi meskipun analis tetap melihat peluang pada sektor perbankan.

Dalam daftar saham pilihan utamanya, BBCA mendapat perhatian karena menunjukkan ketahanan harga yang relatif baik. Menurut analisis yang disampaikan, saham tersebut hanya turun sekitar 2% dalam periode pengamatan yang mereka gunakan.

Analis menilai karakteristik BBCA sebagai saham defensif menjadi salah satu faktor yang mendukung ketahanan relatif tersebut. Selain itu, prospek NIM yang dinilai solid turut menjadi pertimbangan dalam mempertahankan BBCA sebagai saham pilihan utama.

Meski begitu, ketahanan harga pada periode tertentu tidak menjamin saham akan terus menguat. Investor tetap perlu memeriksa valuasi, perkembangan laporan keuangan, kebijakan suku bunga, serta arah arus dana asing sebelum mengambil keputusan investasi.

Daftar 10 Saham dengan Net Sell Asing Terbesar

Data RTI Business untuk periode awal tahun hingga 16 Oktober 2026 mencatat sejumlah saham dengan penjualan bersih asing yang besar.

Berikut daftar saham berdasarkan nilai net sell yang tercantum dalam data tersebut.

Kode saham Emiten Net sell asing
BBCA Bank Central Asia Rp34,3 triliun
FAPA FAP Agri Rp17,9 triliun
BMRI Bank Mandiri Rp16,8 triliun
BBRI Bank Rakyat Indonesia Rp13,4 triliun
BUMI Bumi Resources Rp10,1 triliun
TPIA Chandra Asri Pacific Rp7,4 triliun
AMMN Amman Mineral Internasional Rp4,8 triliun
GOTO GoTo Gojek Tokopedia Rp4 triliun
BBNI Bank Negara Indonesia Rp3,4 triliun
TLKM Telkom Indonesia Rp2,4 triliun

Sumber: RTI Business, sebagaimana tercantum dalam data yang dikutip. Nilai dibulatkan.

Daftar tersebut memperlihatkan bahwa tekanan jual asing tidak hanya menyasar sektor perbankan. Sejumlah saham dari sektor perkebunan, pertambangan, petrokimia, teknologi, dan telekomunikasi juga mencatatkan penjualan bersih yang besar.

Dengan demikian, pergerakan dana asing sepanjang 2026 tidak hanya berkaitan dengan satu sektor. Investor perlu mencermati kondisi pasar secara lebih luas, termasuk prospek masing-masing emiten dan sentimen terhadap pasar saham Indonesia.

Catatan data: Uraian awal menyebutkan nilai net sell BBCA sebesar Rp34,4 triliun, sedangkan tabel mencantumkan Rp34,3 triliun. Perbedaan ini perlu dikonfirmasi kembali pada data RTI Business sebelum publikasi.

MAPI, EMAS, dan SGRO Justru Menarik Dana Asing

Di tengah besarnya penjualan bersih asing pada sejumlah saham unggulan, beberapa emiten justru mencatatkan net buy atau pembelian bersih oleh investor asing.

PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) memimpin daftar saham dengan pembelian bersih asing sebesar Rp19,7 triliun sejak awal tahun.

Selanjutnya, PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) mencatatkan net buy Rp5,2 triliun. Adapun PT Prime Agri Resources Tbk. (SGRO) membukukan pembelian bersih asing sebesar Rp4,8 triliun.

Perbedaan arus dana tersebut menunjukkan bahwa investor asing tidak selalu mengurangi kepemilikan pada seluruh saham secara bersamaan. Sebagian saham masih menerima aliran dana masuk, meskipun pasar menghadapi tekanan jual secara luas.

Namun, net buy juga tidak otomatis menandakan bahwa harga saham akan terus meningkat. Investor tetap perlu memeriksa kinerja perusahaan, tingkat valuasi, likuiditas saham, dan risiko bisnis sebelum menilai prospek sebuah emiten.

Penjualan Asing Meningkat pada Perdagangan 16 Oktober 2026

Tekanan jual juga terlihat pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026. Pada hari yang sama, MSCI mengeluarkan pengumuman mengenai wacana standalone market untuk pasar modal Indonesia, sebagaimana disebutkan dalam informasi yang menjadi dasar pemberitaan ini.

Dalam perdagangan tersebut, BBCA menjadi saham dengan penjualan bersih asing terbesar, senilai sekitar Rp2,3 triliun.

BBRI menyusul dengan net sell Rp1,1 triliun, sedangkan BMRI mencatatkan penjualan bersih asing sebesar Rp868 miliar.

Angka tersebut menunjukkan besarnya transaksi jual bersih asing pada tiga saham perbankan utama dalam satu hari perdagangan. Namun, data transaksi saja belum cukup untuk memastikan bahwa pengumuman MSCI menjadi satu-satunya penyebab aksi jual tersebut.

Pelaku pasar juga dapat merespons berbagai faktor secara bersamaan, termasuk kondisi ekonomi global, perubahan selera risiko, nilai tukar rupiah, ekspektasi suku bunga, serta perkembangan fundamental emiten.

Secara keseluruhan, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp110,7 triliun di pasar reguler sejak awal 2026, berdasarkan data yang dikutip.

Nilai tersebut menggambarkan besarnya arus keluar bersih dana asing dari pasar reguler. Meski demikian, angka itu tidak dengan sendirinya menjelaskan arah indeks saham berikutnya ataupun memastikan bahwa seluruh emiten akan mengalami penurunan harga.(*)

Berita Terkait

Pajak Dropshipper dan Reseller 2026: Ini Aturan dan Cara Menghitungnya
BCA Lanjutkan Buyback Saham Oktober 2026, Harga BBCA Turun ke Rp4.820
Rupiah Menguat ke Rp18.029 per Dolar AS, Simak Prediksi Kurs Hari Ini
Tabel Angsuran KUR BNI Rp50 Juta 2026: Cicilan 3 Tahun Rp1,52 Juta per Bulan
IPO BUMN 2027: 10 Saham Pelat Merah dengan Nilai Penawaran Terbesar, MTEL Tembus Rp18,34 Triliun
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 19 Oktober 2026: Cek Daftar Harga Terbarunya
Pinjaman Modal Usaha Jaminan Sertifikat Rumah: Berapa Maksimal Dana yang Bisa Cair?
Tabel Angsuran KUR BCA Rp200 Juta Tahun 2026: Cicilan Mulai Rp3,87 Juta per Bulan, Ini Simulasi Lengkapnya
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 15:31 WIB

Pajak Dropshipper dan Reseller 2026: Ini Aturan dan Cara Menghitungnya

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:31 WIB

BCA Lanjutkan Buyback Saham Oktober 2026, Harga BBCA Turun ke Rp4.820

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:30 WIB

Rupiah Menguat ke Rp18.029 per Dolar AS, Simak Prediksi Kurs Hari Ini

Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:01 WIB

Tabel Angsuran KUR BNI Rp50 Juta 2026: Cicilan 3 Tahun Rp1,52 Juta per Bulan

Senin, 19 Oktober 2026 - 15:01 WIB

IPO BUMN 2027: 10 Saham Pelat Merah dengan Nilai Penawaran Terbesar, MTEL Tembus Rp18,34 Triliun

Berita Terbaru