TEKNOLOG,JS- Pendiri Telegram, Pavel Durov, menimbulkan kehebohan dengan unggahan terbarunya yang menyerukan peringatan keras tentang masa depan internet. Ia menulis: “Saya berumur 41 tahun, tapi saya tidak merasa untuk merayakan. Generasi kita kehabisan waktu untuk menyelamatkan internet bebas yang dibangun oleh para pendahulu kita.”
Menurut Durov, janji internet sebagai ruang terbuka untuk bertukar ide kini terancam. Ia menyoroti kebijakan global yang semakin membatasi kebebasan digital, termasuk identitas digital wajib di Inggris, pemeriksaan usia online di Australia, dan rencana pemindaian pesan pribadi di Uni Eropa.
Digital ID dan Pemindaian Pesan: Alarm Global
Durov memperingatkan konsekuensi dari kebijakan ini:
- Identitas Digital Wajib: Sistem e-ID di Inggris dan negara lain bisa menjadi alat pengawasan besar-besaran.
- Pemeriksaan Usia Online di Australia: Mengumpulkan data pengguna dan menambah lapisan kontrol.
- Pemindaian Pesan Pribadi di Eropa: Mengancam prinsip enkripsi end-to-end yang menjaga privasi.
Ia menambahkan bahwa tekanan terhadap kebebasan berekspresi semakin nyata. Misalnya, di Jerman orang bisa menghadapi hukum hanya karena mengkritik pejabat, sementara di Inggris ribuan orang dipenjara karena unggahan di media sosial.
Latar Belakang Kekhawatiran Durov
Durov bukan sekadar tokoh teknologi. Ia pernah menegaskan lebih memilih mati daripada menyerahkan akses pesan pribadi pengguna ke pihak ketiga.
Selain itu, regulasi digital di seluruh dunia semakin ketat. Teknologi pengawasan murah dan mudah diakses, sementara platform internet tersentralisasi oleh korporasi dan negara. Semua ini membuat internet berubah dari ruang terbuka menjadi alat kontrol.
Dampak pada Indonesia dan Negara Berkembang
Meski komentar Durov berskala global, dampaknya terasa hingga Indonesia. Kebijakan identitas digital dan verifikasi usia online bisa mengubah cara warga mengakses internet. Privasi dan kebebasan berekspresi berpotensi tergerus.
Di Asia Tenggara, aplikasi pesan terenkripsi seperti Telegram menjadi pilihan utama bagi mereka yang ingin menjaga privasi. Namun, menyeimbangkan keamanan, pencegahan penyalahgunaan, dan kebebasan digital tetap menantang.
Langkah Nyata untuk Pengguna
Durov menekankan perlunya tindakan segera. Pengguna bisa melakukan beberapa langkah praktis:
- Pilih platform yang menghormati privasi: Gunakan layanan dengan enkripsi end-to-end dan kontrol data penuh.
- Kenali regulasi lokal: Pelajari aturan tentang identitas digital, verifikasi usia, atau regulasi internet nasional.
- Suara publik sangat penting: Terlibatlah dalam diskusi agar kebijakan digital tidak dibuat sepihak.
- Teknologi sebagai alat, bukan gudang data: Pilih layanan yang memberi kontrol kepada pengguna.
- Edukasi digital: Generasi muda harus memahami risiko pengawasan, pentingnya enkripsi, dan cara hak digital bisa terkikis perlahan.
Peringatan Terakhir Durov
Durov menegaskan bahwa waktu semakin sempit untuk mempertahankan internet bebas. “Kami kehabisan waktu … kami kehabisan waktu,” tulisnya.
Masyarakat kini dihadapkan pada pilihan penting: apakah internet akan tetap terbuka dan bebas, atau menjadi ruang ketat yang diawasi?.(*)









