JAKARTA,JS-Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) kini benar-benar menjadi primadona bagi tenaga honorer dan non-ASN di Indonesia. Sejak pemerintah membuka rekrutmen besar-besaran pada 2022, minat masyarakat terus meningkat drastis.
Namun, di balik tingginya minat tersebut, muncul satu pertanyaan besar: apakah hak PPPK sudah benar-benar setara dengan PNS?
Ketua Umum Perhimpunan Guru PPPK (PGPPPK), Rikrik Gunawan, menegaskan bahwa janji kesetaraan itu belum sepenuhnya terwujud hingga tahun 2026.
“Dulu narasi PPPK akan jadi primadona, sekarang memang terbukti. Tapi hak-haknya belum sepenuhnya direalisasikan seperti PNS,” ujarnya.
PPPK Mulai Dominasi ASN, PNS Perlahan Berkurang
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah активно mendorong perekrutan PPPK untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja, terutama di sektor pendidikan dan kesehatan.
Akibatnya:
- Jumlah PPPK terus meningkat
- Rekrutmen CPNS semakin terbatas
- Struktur ASN mulai bergeser
Rikrik menilai tren ini akan terus berlanjut hingga PPPK menjadi mayoritas dalam tubuh ASN.
Namun, kondisi tersebut belum diimbangi dengan kebijakan yang benar-benar adil.
Masalah Utama PPPK: Hak Belum Setara
Meski pemerintah terus menyusun regulasi, sejumlah hak penting PPPK masih belum terpenuhi, di antaranya:
1. Tidak Ada Dana Pensiun
PPPK tidak mendapatkan jaminan pensiun seperti PNS. Banyak PPPK yang pensiun hanya membawa pulang gaji terakhir.
“Ada yang pensiun hanya dengan uang satu bulan gaji. Ini sangat memprihatinkan,” kata Rikrik.
2. Status Kepegawaian Tidak Permanen
PPPK masih berstatus kontrak, meski bekerja dalam jangka panjang.
3. Jenjang Karier Terbatas
Kesempatan promosi dan pengembangan karier belum sejelas PNS.
4. Ketidakpastian Regulasi
Hingga kini, aturan turunan dari UU ASN terbaru belum sepenuhnya rampung.
UU ASN 2023 Jadi Penghambat?
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang ASN memang menjadi landasan baru. Namun, aturan tersebut belum mengakomodasi seluruh tuntutan PPPK.
Khususnya:
- Tidak mengatur dana pensiun
- Belum menjamin kesetaraan penuh dengan PNS
- Masih membutuhkan banyak regulasi turunan
- Akibatnya, implementasi di lapangan menjadi lambat.
Kegelisahan Meningkat di Kalangan PPPK
Rikrik mengakui bahwa dulu dirinya aktif mendorong honorer untuk menerima status PPPK. Saat itu, pemerintah menjanjikan perbaikan sistem secara bertahap.
Namun, seiring waktu, realisasi tersebut belum terlihat signifikan.
Kini, keresahan mulai muncul:
- Banyak PPPK merasa diperlakukan berbeda
- Status kontrak masih menjadi stigma
- Harapan kesetaraan belum terpenuhi
- Potensi Gelombang Alih Status ke PNS
Jika pemerintah tidak segera bertindak, tekanan dari PPPK diprediksi akan meningkat.
Salah satu tuntutan yang mulai menguat:
Alih status PPPK menjadi PNS
Rikrik menegaskan bahwa gelombang ini akan semakin besar jika:
- Dana pensiun tidak diberikan
- Status tetap kontrak
- Regulasi terus tertunda
Solusi yang Didorong PPPK
PG PPPK mengusulkan beberapa langkah konkret:
1. Kontrak Sampai Batas Usia Pensiun (BUP)
Sekali tanda tangan, berlaku hingga pensiun.
2. Pemberian Dana Pensiun
Skema jaminan hari tua harus tersedia.
3. Kesetaraan Hak dengan PNS
Termasuk:
- Tunjangan
- Pengembangan karier
- Perlindungan kerja
Kenapa PPPK Penting untuk Masa Depan Indonesia?
Isu ini tidak hanya menyangkut kesejahteraan pegawai, tetapi juga berdampak pada:
- Kualitas pendidikan nasional
- Stabilitas tenaga kerja pemerintah
- Efektivitas pelayanan publik
Jika PPPK merasa tidak dihargai, maka:
- Kinerja bisa menurun
- Motivasi kerja melemah
- Reformasi birokrasi terhambat.
FAQ
1. Apakah PPPK setara dengan PNS?
Belum sepenuhnya. Beberapa hak masih berbeda, terutama dana pensiun.
2. Apakah PPPK mendapat pensiun?
Saat ini belum ada skema pensiun resmi seperti PNS.
3. Apakah PPPK bisa jadi PNS?
Belum ada aturan umum, tetapi dorongan ke arah itu semakin kuat.
4. Apa keuntungan jadi PPPK?
- Gaji tetap
- Tunjangan
- Status ASN resmi
5. Kenapa PPPK tetap diminati?
Karena peluang menjadi ASN lebih besar dibanding CPNS.
Kesimpulan
PPPK memang telah menjadi primadona baru dalam sistem kepegawaian Indonesia. Namun, di balik popularitas tersebut, masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan pemerintah.
Kesetaraan hak dengan PNS bukan sekadar janji, melainkan kebutuhan mendesak. Tanpa solusi konkret, ketidakpuasan akan terus meningkat dan berpotensi mengganggu stabilitas ASN di masa depan.
Pemerintah harus segera:
- Menyelesaikan regulasi turunan
- Menyediakan skema pensiun
- Menjamin kepastian karier
Jika tidak, gelombang tuntutan perubahan status akan semakin sulit dibendung.(*)









