GAZA, JS – Pasukan Israel memperluas zona operasi mereka di Jalur Gaza. Pemerintah Gaza menilai langkah ini melanggar gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober. Pergerakan tersebut membuat warga Gaza semakin terdesak ke wilayah barat.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa pasukan dan tank Israel maju sekitar 300 meter ke timur Kota Gaza, tepatnya di Shujayea. Mereka menyebut bahwa Israel menggeser “garis kuning”, yaitu batas penarikan pasukan dalam kesepakatan gencatan senjata.
Dalam pernyataannya, kantor tersebut menjelaskan bahwa serangan Israel kemarin menewaskan puluhan warga. Mereka menyebut bahwa pergerakan militer Israel membuat banyak keluarga terjebak. Penembakan di kawasan itu juga memutus kontak banyak warga dengan keluarga mereka.
Pemerintah Gaza mendesak mediator internasional—terutama Presiden AS Donald Trump—untuk menghentikan langkah militer Israel. Mereka menuntut Israel mematuhi perjanjian gencatan senjata. Pemerintah Gaza juga menegur para mediator karena tetap diam menghadapi serangkaian pelanggaran ini.
Sumber lokal yang dikutip Al Jazeera menyatakan bahwa pasukan Israel memasuki Shujayea dan memasang penanda garis baru. Mereka menilai penandaan yang belum lengkap membuat warga Palestina kesulitan mengetahui batas yang aman.
Langkah ini membuat semakin banyak warga Palestina tak bisa kembali ke rumah mereka. Sejumlah warga menyebut situasi ini sebagai bentuk pemenjaraan karena operasi militer terus mendorong mereka ke barat.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa Israel menewaskan 32 warga Palestina dalam 24 jam terakhir. Korban termasuk 12 anak dan delapan perempuan. Serangan itu juga melukai 88 orang. Petugas kesehatan juga menemukan satu jenazah tambahan dari reruntuhan serangan sebelumnya.
Sejak gencatan senjata 10 Oktober, Israel telah menewaskan 312 warga Palestina dan melukai 760 orang lainnya. Total korban sejak 7 Oktober 2023 kini mencapai 69.546 orang, dengan 170.833 warga mengalami luka-luka.(AN)









