BISNIS,JS- Penyerapan pasar terhadap Surat Berharga Negara (SBN) Ritel perdana 2026, ORI029, masih bergerak lambat menjelang penutupan masa penawaran. Pemerintah menargetkan penerbitan ini mencapai Rp25 triliun, namun hingga Senin (16/2/2026) sore, investor baru memesan 53,36% dari total target.
Sisa ORI029 Masih Signifikan
Data dari PT Bibit Tumbuh Bersama pukul 15.10 WIB menunjukkan, ORI029 tenor tiga tahun masih tersisa Rp6,13 triliun atau 40,9% dari target. Sedangkan tenor enam tahun tersisa Rp7,21 triliun atau 72,2% dari target. Dengan kata lain, sisa penawaran masih cukup besar dan peluang serapan pasar masih terbuka.
Peluang dari Reinvestasi Terbatas
Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, mengatakan investor masih bisa berkontribusi melalui aksi reinvestasi di pasar SBN. Namun, ia menilai kontribusi ini tidak cukup signifikan untuk menutupi seluruh sisa penerbitan.
Selain itu, Fikri menambahkan, beberapa investor menunggu lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Rabu. “Investor kemungkinan menganggap lelang SUN lebih menarik dibandingkan ORI029,” ujarnya. Data BRI Danareksa Sekuritas mencatat sedikitnya empat SUN akan jatuh tempo Februari ini dengan total Rp46,85 triliun, sementara tidak ada SBN Ritel yang jatuh tempo di periode sama.
Faktor Global dan Instrumen Alternatif
Minat investor terhadap ORI029 menurun karena beberapa faktor. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong investor menuntut imbal hasil lebih tinggi. Di sisi lain, emas tetap menarik sebagai aset lindung nilai. Menurut Fikri, dibandingkan penerbitan sebelumnya, ORI029 saat ini kurang menarik karena imbal hasilnya lebih rendah dibanding aset lain dengan risiko serupa.
Prediksi Serapan Pasar
Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, Ramdhan Ario Maruto, menilai pasar akan sulit menyerap seluruh ORI029 jika aksi reinvestasi tidak terjadi. Ia memperkirakan realisasi pemesanan bisa berada sekitar 10% di bawah target atau sekitar Rp22,5 triliun. Meski begitu, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan beberapa penerbitan SBN Ritel sepanjang 2025, yang tidak pernah menembus Rp19 triliun.
Ramdhan menekankan, ketegangan geopolitik global membuat investor ritel berhati-hati dan cenderung menunggu perkembangan pasar sebelum membeli.
Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)









