INTERNASIONAL,JS- Konflik AI dan Hak Cipta Kian Memanas, Warner Bros. Discovery Gugat ByteDance
Gelombang penolakan industri hiburan terhadap kecerdasan buatan kembali mencapai puncaknya. Setelah serikat aktor dan studio besar menyuarakan keberatan, kini Warner Bros. Discovery mengambil langkah paling tegas. Perusahaan hiburan raksasa itu resmi menggugat ByteDance, induk perusahaan TikTok, atas dugaan pencurian konten film dan serial untuk melatih model AI video.
Laporan ini pertama kali mencuat lewat Variety pada 18 Februari 2026. Dalam gugatannya, Warner Bros. menuding ByteDance menyerap ribuan jam materi berhak cipta tanpa izin, tanpa kontrak, dan tanpa royalti.
Warner Bros. Nilai AI ByteDance Langsung Menyasar IP Inti
Menurut Warner Bros., pelanggaran ini bukan bersifat teknis, melainkan menyentuh jantung bisnis mereka.
Akibatnya, pengguna kini dapat menghasilkan video yang menampilkan Batman, Superman, serta elemen ikonik dari serial Game of Thrones dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi.
Warner Bros. menegaskan, kemiripan tersebut tidak mungkin muncul tanpa pelatihan langsung dari konten asli mereka.
Video Viral Jadi Bukti Awal Pelanggaran
Lebih lanjut, pihak studio menunjuk maraknya video AI di media sosial sebagai bukti konkret.
Meski tampak sebagai hiburan ringan, Warner Bros. melihatnya sebagai indikator serius. Video-video tersebut menunjukkan bahwa sistem AI ByteDance telah “mengenali” karakter hingga detail kepribadian dan kekuatan khasnya.
“Karakter-karakter ini menjadi sumber kehidupan perusahaan kami. ByteDance telah memanfaatkan aset tersebut tanpa hak,” tulis Wakil Presiden Hukum Warner Bros., Wayne Smith.
Seedance 2.0 Jadi Titik Api Sengketa
Konflik ini tidak muncul tiba-tiba. Sebelumnya, ByteDance merilis model video AI Seedance 2.0.
Konten tersebut menampilkan berbagai skenario alternatif, mulai dari crossover superhero hingga akhir cerita baru serial populer. Bahkan, beberapa video meniru gaya visual dan alur khas film Warner Bros. secara mencolok.
Warner Bros.: Masalah Bukan di Pengguna
Di sisi lain, Warner Bros. menolak menyalahkan kreator individu. Menurut mereka, pengguna hanya memanfaatkan kemampuan yang sudah tersedia di dalam sistem.
Masalah utamanya, kata Smith, terletak pada desain AI itu sendiri. “Pengguna membangun sesuatu dari fondasi yang salah. ByteDance lebih dulu meletakkan pelanggaran di level sistem,” tegasnya.
Atas dasar itu, Warner Bros. menuntut ByteDance menghentikan penggunaan seluruh IP mereka, menghapus data pelatihan ilegal, serta membayar ganti rugi yang nilainya diperkirakan mencapai ratusan juta dolar AS.
Konflik AI dan Industri Kreatif Makin Meluas
Kasus ini mempertegas ketegangan global antara pengembang AI dan pemilik karya kreatif. Sebelumnya, Disney telah melayangkan peringatan terkait penggunaan karakter Marvel dan Star Wars. Sementara itu, SAG-AFTRA secara terbuka mengecam eksploitasi wajah dan suara aktor tanpa persetujuan.
Kini, dengan Warner Bros. Discovery terjun ke medan hukum, banyak pihak memprediksi konflik ini akan menjadi preseden penting.(*)









