BISNIS,JS- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat (28/2/2026) dengan pelemahan tipis. Indeks turun 0,06% ke level 8.230,44, seiring meningkatnya tekanan sentimen eksternal dan aksi teknikal menjelang rebalancing indeks MSCI akhir bulan.
Meski terkoreksi, pergerakan IHSG masih relatif stabil. Pelaku pasar memilih bersikap hati-hati sambil mencermati dinamika global yang belum sepenuhnya mereda.
Sentimen Global Jadi Faktor Utama Pelemahan
Di sisi lain, tekanan eksternal kembali mendominasi pergerakan pasar saham domestik. Ketidakpastian kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat serta peringatan dari S&P Global Ratings mengenai tekanan fiskal Indonesia ikut membebani sentimen investor.
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menegaskan pelemahan IHSG lebih dipicu faktor global ketimbang sentimen domestik.
“Pasar masih merespons sentimen eksternal dan faktor teknikal menjelang rebalancing MSCI. Namun, investor asing justru mencatatkan net buy selektif sekitar Rp1,69 triliun dalam sepekan terakhir,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (27/2/2026).
Arus Dana Asing Masih Menopang Pasar
Lebih lanjut, Reza menilai aliran dana asing tersebut memberi sinyal positif. Menurutnya, investor global belum menunjukkan tanda-tanda distribusi besar di pasar reguler.
Dengan kondisi itu, peluang pemulihan IHSG dalam jangka pendek masih terbuka. Pasar pun berpotensi kembali menguat jika tekanan eksternal tidak bertambah signifikan.
Support Kunci Jadi Penentu Arah Pekan Depan
Memasuki perdagangan Senin (2/3/2026), Reza melihat ruang rebound teknikal tetap tersedia. Namun, indeks perlu bertahan di area support terdekat.
“IHSG sempat memantul dari area 8.100–8.150. Selama level ini bertahan, indeks berpeluang menguji resistance di kisaran 8.350–8.400,” jelasnya.
Sebaliknya, jika support tersebut jebol, tekanan koreksi berpotensi kembali meningkat.
Geopolitik dan Tarif Dagang Tetap Picu Volatilitas
Sementara itu, dari sisi global, pasar masih mencermati perkembangan konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Arah kebijakan tarif perdagangan AS terhadap Indonesia juga berpotensi menjaga volatilitas jangka pendek.
Oleh karena itu, pelaku pasar cenderung mengatur ulang strategi sambil menunggu kepastian kebijakan global.
Data Domestik dan Aturan Free Float Jadi Sorotan
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada rilis data ekonomi awal Maret. Inflasi dan neraca perdagangan menjadi indikator penting untuk membaca kekuatan permintaan domestik.
Selain itu, implementasi aturan minimum free float 15% juga berpotensi memicu respons berbeda pada masing-masing saham, terutama emiten dengan struktur kepemilikan yang ketat.
Peringatan S&P Dinilai Bersifat Sementara
Meski muncul peringatan dari S&P Global Ratings, Reza menilai dampaknya hanya bersifat jangka pendek. Menurutnya, sentimen tersebut belum mengubah prospek pasar secara fundamental.
“Selama pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, likuiditas memadai, dan sektor perbankan solid, dampaknya akan terbatas,” tegasnya.
Laporan Keuangan Emiten Jadi Katalis Selektif
Selain faktor makro, laporan keuangan emiten tahun buku 2025 mulai memberi warna pada pergerakan saham. Reza melihat sektor perbankan dan komoditas emas masih menyimpan prospek kinerja yang menarik.
Dengan demikian, investor berpeluang melakukan seleksi saham secara lebih spesifik.
Strategi Trading: Fokus Saham Pilihan
Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang support 8.100–8.150 dan resistance 8.350–8.400 pada awal pekan depan. Skenario utama masih mengarah pada rebound teknikal terbatas.
Untuk strategi jangka pendek, Reza merekomendasikan beberapa saham pilihan. Saham ARCI layak dicermati dengan strategi buy on breakout di level Rp1.900 dan target Rp1.955–Rp2.070.
Selain itu, saham MBMA dapat dibeli di kisaran Rp820–Rp850 dengan target Rp895–Rp945. Sementara saham ENRG menarik dikoleksi di area Rp1.700–Rp1.750 dengan target Rp1.810–Rp1.900 dan stop loss di bawah Rp1.650.
Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)









