Perambahan Hutan TNKS Makin Mengkhawatirkan, Ribuan Hektare Berubah Jadi Lahan Garapan

- Jurnalis

Senin, 20 April 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

KERINCI,JS- Perambahan kawasan hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) terus meningkat dan kini memasuki fase yang mengkhawatirkan. Aktivitas ilegal ini tidak hanya merusak hutan, tetapi juga mengancam keseimbangan lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar.

Data terbaru dari Balai Besar TNKS menunjukkan bahwa dari total sekitar 1,4 juta hektare luas kawasan, sekitar 7,36 persen telah berubah menjadi area terbuka atau lahan garapan. Angka ini menegaskan tekanan serius terhadap salah satu kawasan konservasi terbesar dan terpenting di Pulau Sumatra.

Aktivitas Ilegal Terus Terjadi, Petugas Temukan Bukti di Lapangan

Petugas TNKS terus meningkatkan patroli untuk menekan laju perambahan. Namun, di lapangan, mereka masih sering menemukan tanda-tanda aktivitas ilegal. Pelaku sering meninggalkan peralatan seperti gergaji mesin saat melarikan diri dari kejaran petugas.

Kasi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Kerinci, David, menegaskan bahwa timnya telah mengamankan beberapa pelaku dan memproses mereka sesuai hukum yang berlaku.

Ia menyampaikan bahwa pihaknya tidak akan memberi toleransi terhadap pelanggaran yang merusak kawasan konservasi.

Dari Kerusakan Ekosistem hingga Ancaman Bencana

Perambahan hutan tidak hanya merusak pohon, tetapi juga menghancurkan ekosistem secara menyeluruh. TNKS selama ini menjadi habitat penting bagi berbagai flora dan fauna langka di Indonesia.

Ketika hutan hilang, maka:

  • Risiko banjir meningkat drastis
  • Erosi tanah semakin parah
  • Kekeringan lebih sering terjadi
  • Habitat satwa liar terancam punah

Selain itu, hilangnya tutupan hutan juga mempercepat perubahan iklim di tingkat lokal hingga global.

Baca Juga :  Ancaman Ganda, Kerinci Waspada DBD dan Campak

Tekanan Ekonomi hingga Minimnya Kesadaran

Fenomena perambahan hutan di TNKS tidak terjadi tanpa sebab. Sebagian masyarakat sekitar kawasan masih bergantung pada lahan hutan untuk bertahan hidup.

Beberapa faktor utama yang mendorong perambahan antara lain:

  • Keterbatasan lahan pertanian legal
  • Tekanan ekonomi dan kebutuhan hidup
  • Kurangnya edukasi tentang konservasi
  • Lemahnya pengawasan di beberapa titik rawan

Namun demikian, tindakan tersebut tetap melanggar hukum dan berdampak luas bagi lingkungan.

Upaya Penegakan Hukum dan Pengawasan Diperketat

Balai Besar TNKS kini memperkuat patroli rutin dan memperketat pengawasan di wilayah rawan perambahan. Selain itu, aparat juga meningkatkan koordinasi dengan penegak hukum untuk memberikan efek jera kepada pelaku.

David menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengambil langkah tegas demi menjaga kelestarian hutan.

Langkah yang dilakukan meliputi:

  • Patroli intensif di titik rawan
  • Penindakan hukum terhadap pelaku
  • Sosialisasi kepada masyarakat sekitar
  • Kolaborasi dengan pemerintah daerah

Ancaman Nyata Jika Perambahan Tidak Dihentikan

Jika kondisi ini terus berlanjut, maka dampaknya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga masyarakat luas.

Baca Juga :  Viral! Warga Kerinci dan Sungai Penuh Pilih Merantau ke Malaysia

Beberapa risiko besar yang mengintai:

  • Bencana banjir bandang
  • Krisis air bersih
  • Hilangnya keanekaragaman hayati
  • Kerugian ekonomi jangka panjang

TNKS merupakan benteng terakhir ekosistem hutan hujan tropis di Sumatra. Kehilangannya akan membawa dampak yang tidak bisa dipulihkan dalam waktu singkat.

Strategi Jitu Menyelamatkan TNKS

Untuk menghentikan perambahan, semua pihak harus terlibat aktif. Tidak cukup hanya mengandalkan petugas di lapangan.

Solusi yang bisa diterapkan:

  • Edukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi
  • Penyediaan alternatif ekonomi ramah lingkungan
  • Penguatan hukum dan sanksi tegas
  • Pemanfaatan teknologi untuk pengawasan hutan

Dengan pendekatan yang tepat, kerusakan dapat ditekan secara signifikan.

FAQ

1. Berapa luas TNKS yang sudah dirambah?

Sekitar 7,36 persen dari total 1,4 juta hektare.

2. Apa dampak utama perambahan hutan?

Banjir, erosi, kekeringan, dan hilangnya habitat satwa.

Baca Juga :  Transformasi RSUD Kerinci Dimulai: Fokus Upgrade Fasilitas, Digitalisasi Layanan, dan Kualitas Tenaga Medis

3. Siapa yang melakukan perambahan?

Sebagian dilakukan oleh masyarakat sekitar karena tekanan ekonomi.

4. Apakah pelaku bisa dihukum?

Ya, pelaku dapat diproses sesuai hukum yang berlaku.

5. Apa solusi untuk menghentikan perambahan?

Edukasi, penegakan hukum, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Kesimpulan

Perambahan hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat telah mencapai titik kritis. Dengan lebih dari 7 persen kawasan berubah menjadi lahan terbuka, ancaman terhadap lingkungan semakin nyata.

Langkah tegas dari pemerintah, dukungan masyarakat, serta strategi berkelanjutan menjadi kunci untuk menyelamatkan hutan ini.(*)

Berita Terkait

Bangunan Milik Warga Tanjung Pauh Hilir Dilalap Sijago Merah, Usaha Pemadaman Masih Dilakukan
Sri Kartini Alfin Bekali 20 Finalis Bujang Gadis Sungai Penuh 2026, Kenalkan Program 3S dan Peran Generasi Muda
PPPK Paruh Waktu Sungai Penuh Diminta Segera Ajukan Perpanjangan Kontrak, Berikut Format Dokumen yang Harus Disiapkan
Peringatan Hari Pancasila, Pemkot Sungai Penuh Berikan Bantuan Alsintan hingga Program Kopi 400 Hektare ke Petani
Sewa Aset Pemkot Tunggak Dua Tahun, Bank Jambi Sungai Penuh Baru Melunasi Setelah Jadi Temuan BPK
DPRD Sungai Penuh Setujui Perubahan APBD 2026, Alfin Minta OPD Percepat Program
Dua Nelayan Tanjab Barat Hilang Saat Melaut, Ditemukan Selamat Setelah Dicari hingga 46 Mil
Ternyata! Bimtek BPD SE Kota Sungai Penuh di Jambi Telan Rp1,46 Miliar, SPPD hingga Biaya Hotel Jadi Dipertanyakan
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:16 WIB

Bangunan Milik Warga Tanjung Pauh Hilir Dilalap Sijago Merah, Usaha Pemadaman Masih Dilakukan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 15:01 WIB

Sri Kartini Alfin Bekali 20 Finalis Bujang Gadis Sungai Penuh 2026, Kenalkan Program 3S dan Peran Generasi Muda

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:15 WIB

Peringatan Hari Pancasila, Pemkot Sungai Penuh Berikan Bantuan Alsintan hingga Program Kopi 400 Hektare ke Petani

Kamis, 1 Oktober 2026 - 08:01 WIB

Sewa Aset Pemkot Tunggak Dua Tahun, Bank Jambi Sungai Penuh Baru Melunasi Setelah Jadi Temuan BPK

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:10 WIB

DPRD Sungai Penuh Setujui Perubahan APBD 2026, Alfin Minta OPD Percepat Program

Berita Terbaru