Oleh: Desmita Linda
Pendidikan Indonesia saat ini berada pada titik persimpangan yang menentukan arah masa depan bangsa. Berbagai indikator menunjukkan adanya kemajuan, namun tidak sedikit pula fakta yang memperlihatkan adanya krisis mendasar yang belum terselesaikan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia baru mencapai 9,41 tahun, atau setara dengan jenjang SMP. Lebih dari itu, sekitar 54,9% penduduk usia 25 tahun ke atas hanya berpendidikan SD hingga SMP. Fakta ini menunjukkan bahwa akses pendidikan menengah masih menjadi persoalan serius. Di sisi lain, kualitas hasil belajar juga masih rendah, terutama dalam aspek literasi dan numerasi.
Namun, jika dilihat dari perspektif Pendidikan Islam, persoalan pendidikan tidak hanya terletak pada akses dan kualitas akademik semata. Lebih dalam dari itu, terdapat persoalan orientasi pendidikan yang belum sepenuhnya jelas: apakah pendidikan hanya bertujuan menghasilkan tenaga kerja, atau membentuk manusia seutuhnya (insan kamil)?
Dalam paradigma Pendidikan Islam, pendidikan tidak sekadar transfer ilmu (transfer of knowledge), tetapi juga pembentukan karakter (transfer of value). Konsep ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang menekankan keseimbangan antara aspek intelektual, spiritual, dan moral. Namun realitas yang terjadi saat ini menunjukkan adanya kecenderungan pendidikan yang terlalu berorientasi pada aspek kognitif dan pasar kerja, sehingga dimensi nilai seringkali terpinggirkan.
Kondisi ini berdampak pada munculnya fenomena krisis karakter di kalangan peserta didik. Kasus intoleransi, rendahnya etika sosial, hingga perilaku menyimpang di lingkungan pendidikan menjadi indikator bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membentuk manusia yang berakhlak.
Lebih jauh lagi, ketidaksesuaian antara dunia pendidikan dan dunia kerja yang ditunjukkan oleh angka pengangguran sekitar 7,35 juta orang pada 2025 juga memperlihatkan bahwa sistem pendidikan belum mampu menghasilkan lulusan yang adaptif. Dalam perspektif Pendidikan Islam, hal ini menunjukkan belum optimalnya integrasi antara ilmu pengetahuan (‘ilm) dan keterampilan praktis (amal).
Di sinilah pentingnya mengembangkan paradigma integrasi keilmuan dalam pendidikan, sebagaimana sering ditekankan dalam kajian Pendidikan Islam kontemporer. Ilmu agama dan ilmu umum tidak seharusnya dipisahkan secara dikotomis, tetapi harus dipadukan dalam satu kesatuan yang utuh (unity of knowledge). Dengan pendekatan ini, peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki landasan nilai yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman.
Kebijakan seperti Kurikulum Merdeka sebenarnya membuka peluang untuk mengintegrasikan nilai-nilai tersebut, karena memberikan fleksibilitas kepada satuan pendidikan. Namun, tantangan terbesar terletak pada implementasi.
Banyak guru yang masih memahami integrasi nilai sebatas formalitas administratif, bukan sebagai proses substantif dalam pembelajaran.
Dalam konteks ini, peran guru menjadi sangat strategis. Dalam Pendidikan Islam, guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai murabbi (pembina), mu’allim (pemberi ilmu), dan uswah hasanah (teladan). Tanpa penguatan kapasitas guru dalam aspek pedagogik sekaligus spiritual, maka transformasi pendidikan hanya akan berhenti pada tataran kebijakan.
Selain itu, perencanaan pendidikan juga perlu diarahkan secara lebih visioner. Pendekatan perencanaan dalam Pendidikan Islam menekankan pentingnya analisis kebutuhan yang tidak hanya berbasis data kuantitatif, tetapi juga mempertimbangkan nilai, budaya, dan tujuan jangka panjang umat. Dengan kata lain, pendidikan harus dirancang tidak hanya untuk menjawab kebutuhan pasar, tetapi juga untuk membangun peradaban.
Jika pendidikan Indonesia ingin benar-benar berkontribusi pada visi Indonesia Emas 2045, maka diperlukan transformasi yang lebih mendasar, yaitu integrasi antara kualitas akademik, relevansi keterampilan, dan internalisasi nilai-nilai keislaman.
Tanpa integrasi tersebut, pendidikan berisiko melahirkan generasi yang cerdas tetapi kehilangan arah, atau sebaliknya, memiliki nilai tetapi tidak kompetitif. Keduanya sama-sama tidak ideal dalam menghadapi tantangan global.
Pada akhirnya, Pendidikan Islam memberikan satu pesan penting: pendidikan bukan hanya tentang “menjadi pintar”, tetapi tentang “menjadi benar”. Dan di sinilah letak tantangan terbesar pendidikan kita hari ini.









