TEKNOLOGI,JS- Meta kembali mengguncang industri teknologi global setelah resmi melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 8.000 karyawan pada Mei 2026. Langkah besar tersebut menjadi bagian dari strategi agresif perusahaan dalam mempercepat pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Perusahaan milik Mark Zuckerberg itu juga memindahkan sekitar 7.000 pegawai lain ke divisi baru yang fokus membangun sistem kerja berbasis AI dan agen otomatis.
Kebijakan tersebut menandai perubahan besar dalam struktur organisasi Meta. Perusahaan kini mulai meninggalkan model kerja konvensional dan menggantinya dengan sistem yang lebih ramping, cepat, serta berbasis otomatisasi AI.
Restrukturisasi itu langsung memicu perhatian besar dari pelaku industri teknologi global. Banyak analis menilai langkah Meta menjadi sinyal kuat bahwa era AI tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan mulai menggantikan berbagai fungsi pekerjaan manusia di perusahaan teknologi besar.
Meta Fokus Bangun Alur Kerja Berbasis AI
Dalam memo internal perusahaan yang beredar sejak April 2026, Meta menyampaikan rencana pengurangan sekitar 10 persen tenaga kerja global. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 8.000 karyawan dari total hampir 78 ribu pegawai Meta di seluruh dunia.
Juru bicara perusahaan, Erica Sackin, mengonfirmasi bahwa Meta telah memberitahu para karyawan yang terdampak PHK.
Selain melakukan pengurangan tenaga kerja, Meta juga menjalankan strategi besar lain dengan memindahkan ribuan pegawai ke proyek-proyek AI baru.
Langkah tersebut bertujuan mempercepat pengembangan agen AI yang mampu menjalankan berbagai tugas operasional perusahaan secara otomatis tanpa campur tangan manusia dalam jumlah besar.
Meta ingin membangun sistem kerja yang lebih efisien melalui penggunaan AI di hampir seluruh lini bisnis, mulai dari pengembangan produk, analitik, operasional internal, hingga pengelolaan data.
Meta Pangkas Struktur Manajerial dan Bentuk Tim Lebih Kecil
Chief People Officer Meta, Janelle Gale, menjelaskan bahwa perusahaan tengah membangun struktur organisasi yang lebih datar.
Meta mulai mengurangi lapisan manajemen dan membentuk tim kecil berbasis pods atau cohort agar proses kerja berlangsung lebih cepat dan fleksibel.
Perusahaan menilai struktur lama terlalu lambat menghadapi persaingan industri AI global yang berkembang sangat agresif sepanjang 2026.
Karena itu, Meta memilih membentuk unit-unit kecil yang memiliki kewenangan lebih besar dalam mengambil keputusan dan menjalankan proyek AI.
Divisi Baru Meta Fokus Kembangkan Agen AI
CTO Meta, Andrew Bosworth, sebelumnya telah membentuk dua divisi utama untuk mempercepat budaya kerja berbasis AI.
Kedua divisi tersebut yaitu Applied AI Engineering (AAI) dan Agent Transformation Accelerator (ATA).
Selain itu, Meta juga membentuk tim Central Analytics yang fokus mengukur produktivitas dan efektivitas pengembangan agen AI di lingkungan perusahaan.
Bosworth menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari proyek besar “AI for Work” yang menjadi prioritas utama Meta sepanjang 2026.
AI Mulai Gantikan Pekerjaan di Industri Teknologi
Langkah Meta memperlihatkan tren baru di industri teknologi global. Banyak perusahaan besar mulai mengurangi tenaga kerja manusia dan menggantinya dengan sistem AI otomatis.
Perusahaan teknologi kini berlomba mengembangkan agen AI yang dapat bekerja 24 jam tanpa jeda, memiliki biaya operasional lebih rendah, dan mampu menyelesaikan tugas secara lebih cepat.
Kondisi itu memicu kekhawatiran besar di kalangan pekerja teknologi, terutama untuk posisi administratif, analis, customer support, hingga pekerjaan operasional yang mudah diotomatisasi.
Analis industri menilai gelombang PHK berbasis AI kemungkinan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Meta menjadi salah satu perusahaan pertama yang secara terang-terangan mengubah struktur kerja internal dengan menempatkan AI sebagai pusat operasional perusahaan.
Karyawan Meta Mulai Melawan Kebijakan AI
Restrukturisasi besar-besaran tersebut ternyata memicu gelombang protes internal dari para pegawai Meta.
Banyak karyawan mengkritik kebijakan perusahaan yang terlalu agresif dalam menggantikan pekerjaan manusia dengan AI.
Protes muncul melalui platform komunikasi internal Workplace hingga selebaran yang tersebar di berbagai kantor Meta di Amerika Serikat.
Sejumlah pegawai juga menuding perusahaan mengabaikan dampak sosial dan privasi dari proyek AI yang sedang dikembangkan.
Situasi semakin memanas setelah lebih dari 1.000 karyawan menandatangani petisi online yang mengecam penggunaan perangkat lunak pelacak mouse.
Meta disebut menggunakan teknologi tersebut untuk melatih model AI agar mampu memahami perilaku manusia saat berinteraksi dengan komputer.
Karyawan khawatir teknologi itu dapat melanggar privasi pekerja sekaligus mempercepat penggantian tenaga manusia dengan mesin otomatis.
Kekhawatiran Privasi dan Masa Depan Pekerjaan Meningkat
Kebijakan Meta memunculkan perdebatan besar mengenai masa depan dunia kerja di era AI.
Banyak pengamat teknologi menilai penggunaan AI memang mampu meningkatkan efisiensi perusahaan. Namun di sisi lain, transformasi tersebut juga berpotensi menghilangkan jutaan pekerjaan manusia secara global.
Masalah privasi juga menjadi perhatian utama.
Pegawai Meta menilai perusahaan terlalu fokus mengejar efisiensi tanpa memberikan transparansi penuh terkait penggunaan data dan teknologi pelacakan perilaku karyawan.
Beberapa manajer Meta bahkan mendapat kritik keras karena dianggap bungkam terhadap rencana PHK dan proyek AI internal.
Kondisi itu memperlihatkan ketegangan besar antara kepentingan bisnis perusahaan teknologi dan keamanan kerja para pegawai.
Meta Percepat Investasi AI di Tengah Persaingan Teknologi Global
Meta saat ini terus meningkatkan investasi besar di bidang AI untuk menghadapi persaingan dengan perusahaan teknologi lain seperti OpenAI, Google, dan Microsoft.
Perusahaan ingin menjadikan AI sebagai inti seluruh ekosistem bisnisnya, mulai dari media sosial, iklan digital, chatbot, agen virtual, hingga sistem kerja internal.
Langkah agresif tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perang AI global kini memasuki fase baru.
Perusahaan teknologi tidak lagi hanya berlomba menciptakan chatbot pintar, tetapi mulai membangun sistem kerja otomatis yang dapat menggantikan banyak fungsi manusia di kantor.
Jika strategi Meta berhasil, model serupa kemungkinan akan diikuti banyak perusahaan teknologi lain di seluruh dunia.
Dampak PHK AI Diprediksi Meluas pada 2026
Gelombang PHK berbasis AI diperkirakan terus meningkat sepanjang 2026.
Banyak perusahaan mulai melakukan evaluasi terhadap posisi kerja yang bisa digantikan teknologi otomatis.
Analis pasar tenaga kerja menilai profesi administratif, entry data, analis junior, customer support, hingga beberapa posisi manajemen menengah menjadi kelompok paling rentan terkena dampak AI.
Meski demikian, transformasi AI juga membuka peluang baru untuk pekerjaan berbasis pengembangan teknologi, keamanan data, machine learning, dan pengawasan sistem AI.
Karena itu, pekerja teknologi kini dituntut meningkatkan kemampuan digital dan adaptasi terhadap perkembangan AI yang bergerak sangat cepat.(*)









