BEI Kembali Buka Short Selling Mulai 15 September 2026, Simak Cara Kerja dan Risikonya

- Jurnalis

Selasa, 15 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi BEI Kembali Buka Short Selling

Ilustrasi BEI Kembali Buka Short Selling

BISNIS,JS- Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali membuka implementasi pembiayaan transaksi short selling secara bertahap mulai Selasa, 15 September 2026. Kebijakan ini menjadi perhatian investor karena short selling menawarkan peluang memperoleh keuntungan ketika harga saham mengalami penurunan.

BEI mengambil langkah tersebut setelah menerima arahan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Bursa tetap akan menerapkan kebijakan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan sistem perdagangan, pengelolaan risiko, serta efektivitas pengawasan.

Informasi tersebut disampaikan Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI Irvan Susandy bersama Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi melalui pengumuman Bursa pada Senin, 14 September 2026.

Menurut pengumuman tersebut, OJK meminta BEI menjalankan kembali implementasi pembiayaan transaksi short selling secara bertahap. Bursa juga harus memastikan infrastruktur perdagangan siap mendukung aktivitas tersebut.

Selain itu, BEI perlu menerapkan mitigasi risiko yang memadai. Pengawasan terhadap transaksi juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kebijakan ini.

Short Selling BEI Kembali Mulai 15 September 2026

Kembalinya short selling menjadi salah satu perkembangan penting di pasar modal Indonesia.

Berbeda dengan transaksi saham biasa, investor dapat mengambil posisi untuk memperoleh keuntungan ketika harga saham turun melalui mekanisme short selling. Namun, strategi tersebut membutuhkan pemahaman mengenai mekanisme perdagangan, jaminan, biaya transaksi, serta risiko kerugian.

BEI memilih penerapan secara bertahap agar seluruh pihak yang terlibat dapat menyesuaikan sistem dan prosedur perdagangan.

Karena itu, investor tidak bisa langsung menganggap seluruh saham dapat digunakan untuk transaksi short selling. Bursa akan menentukan saham yang memenuhi persyaratan melalui Daftar Efek Short Selling.

Daftar Saham Short Selling BEI Terbit 28 September

BEI juga menyiapkan daftar efek yang dapat menjadi acuan transaksi short selling.

Bursa menjadwalkan penerbitan Daftar Efek Short Selling pada 28 September 2026. Daftar tersebut kemudian mulai berlaku pada periode Oktober 2026.

BEI menyusun daftar tersebut berdasarkan ketentuan III.2 Peraturan Bursa Nomor II-H tentang Persyaratan dan Perdagangan Efek dalam Transaksi Margin dan Transaksi Short Selling.

Dengan demikian, terdapat dua momentum penting yang perlu investor perhatikan.

Pertama, BEI mulai menjalankan kembali implementasi pembiayaan transaksi short selling secara bertahap pada 15 September 2026.

Kedua, investor perlu menunggu daftar efek yang memenuhi ketentuan short selling hingga Bursa menerbitkannya pada 28 September 2026.

Jadwal Penting Short Selling BEI

Agenda Tanggal
Implementasi kembali short selling secara bertahap 15 September 2026
Penerbitan Daftar Efek Short Selling 28 September 2026
Daftar efek mulai berlaku Periode Oktober 2026

Jadwal tersebut penting bagi investor yang ingin memanfaatkan strategi short selling stocks, terutama karena tidak semua saham dapat masuk dalam daftar efek yang memenuhi persyaratan.

Apa Itu Short Selling?

Secara sederhana, short selling merupakan strategi investasi ketika investor menjual saham yang belum mereka miliki.

Investor terlebih dahulu meminjam saham melalui mekanisme yang tersedia di perusahaan sekuritas. Setelah itu, investor menjual saham tersebut pada harga pasar.

Investor kemudian berharap harga saham turun.

Jika harga benar-benar turun, investor dapat membeli kembali saham pada harga yang lebih rendah. Investor lalu mengembalikan saham tersebut kepada pihak yang memberikan pinjaman.

Selisih antara harga jual awal dan harga beli kembali dapat menjadi keuntungan, setelah investor memperhitungkan biaya transaksi, biaya pinjaman, serta kewajiban lainnya.

Contohnya, seorang investor membuka posisi short pada saham dengan harga Rp10.000 per saham.

Kemudian harga saham turun menjadi Rp8.000.

Investor dapat membeli kembali saham tersebut dengan harga Rp8.000. Secara sederhana, terdapat selisih Rp2.000 per saham sebelum memperhitungkan biaya dan kewajiban transaksi.

Namun, kondisi pasar juga dapat bergerak berlawanan.

Jika harga saham justru naik dari Rp10.000 menjadi Rp12.000, investor harus membeli kembali saham dengan harga lebih tinggi. Kondisi tersebut dapat menghasilkan kerugian.

Baca Juga :  Terbaru, Cara Menghapus Data Pinjol yang Belum Lunas? Ini Fakta, Langkah Aman, dan Cara Lapornya ke OJK

Apa Manfaat Short Selling untuk Investor?

Short selling memiliki beberapa fungsi dalam strategi investasi dan perdagangan saham.

1. Peluang Mendapatkan Keuntungan Saat Harga Saham Turun

Manfaat paling utama short selling terletak pada peluang memperoleh keuntungan ketika harga saham mengalami penurunan.

Dalam transaksi saham biasa, investor umumnya berharap harga naik setelah membeli saham.

Sementara itu, short seller mengambil posisi berbeda. Mereka berharap harga turun sehingga dapat membeli kembali saham pada harga yang lebih rendah.

Karena itu, short selling dapat menjadi salah satu strategi stock trading ketika investor melihat potensi pelemahan harga.

2. Menambah Pilihan Strategi Investasi

Investor berpengalaman dapat menggunakan short selling sebagai bagian dari strategi perdagangan yang lebih luas.

Pasar saham tidak selalu bergerak naik. Harga saham dapat mengalami kenaikan, penurunan, atau bergerak mendatar.

Dengan mekanisme short selling, investor memiliki alternatif strategi ketika melihat peluang penurunan harga.

Namun, strategi ini membutuhkan analisis yang kuat. Investor perlu memahami laporan keuangan, kondisi industri, sentimen pasar, serta faktor ekonomi yang dapat memengaruhi harga saham.

3. Membantu Meningkatkan Likuiditas Pasar

Aktivitas short selling juga dapat mendukung likuiditas pasar.

Ketika lebih banyak pelaku pasar melakukan transaksi beli dan jual, aktivitas perdagangan saham dapat meningkat. Kondisi tersebut dapat membantu menciptakan pasar yang lebih aktif.

Meski begitu, manfaat tersebut tetap bergantung pada penerapan aturan dan pengawasan yang baik.

4. Membantu Menemukan Harga Saham yang Lebih Efisien

Short seller biasanya melakukan analisis terhadap saham yang mereka nilai terlalu mahal dibandingkan kondisi fundamentalnya.

Ketika investor mengambil posisi jual dan harga bergerak menyesuaikan kondisi pasar, aktivitas tersebut dapat membantu proses price discovery.

Dalam konteks pasar modal, price discovery membantu mempertemukan informasi, ekspektasi, dan harga yang terbentuk melalui transaksi antara pembeli dan penjual.

Risiko Short Selling yang Wajib Dipahami

Meskipun menawarkan peluang keuntungan, short selling bukan strategi yang cocok bagi semua investor.

Risikonya bahkan dapat lebih besar daripada transaksi saham biasa.

Pada transaksi saham biasa, kerugian investor secara umum terjadi ketika harga saham turun dari harga pembelian.

Dalam short selling, situasinya berbeda.

Investor mengalami kerugian ketika harga saham naik setelah mereka membuka posisi short.

Masalahnya, kenaikan harga saham tidak memiliki batas maksimum tertentu.

Harga saham yang awalnya Rp10.000 dapat naik menjadi Rp12.000, Rp15.000, bahkan lebih tinggi. Semakin tinggi harga saham ketika investor menutup posisi short, semakin besar pula potensi kerugiannya.

Karena itu, investor perlu memahami short selling risks sebelum menggunakan strategi tersebut.

Risiko Short Squeeze

Investor juga perlu mengenal istilah short squeeze.

Short squeeze dapat terjadi ketika harga saham yang banyak menjadi sasaran short selling justru mengalami kenaikan tajam.

Kenaikan tersebut dapat memaksa sebagian short seller membeli kembali saham untuk menutup posisi.

Ketika banyak investor melakukan pembelian secara bersamaan, tekanan beli dapat semakin kuat dan mendorong harga saham naik lebih tinggi.

Situasi tersebut dapat memperbesar kerugian investor yang mengambil posisi short.

Baca Juga :  BEI Tetapkan 3 Green Equity, Ada Saham yang Naik 12% dalam Sehari

Biaya dan Margin Juga Perlu Diperhatikan

Short selling tidak hanya berkaitan dengan prediksi arah harga.

Investor juga perlu memperhitungkan berbagai biaya yang muncul selama transaksi.

Biaya tersebut dapat mencakup komisi transaksi, biaya peminjaman saham, serta ketentuan jaminan atau margin sesuai mekanisme yang berlaku.

Karena itu, investor perlu membaca ketentuan perusahaan sekuritas sebelum melakukan transaksi.

Investor juga sebaiknya tidak hanya menghitung potensi keuntungan dari selisih harga. Perhitungan harus memasukkan seluruh biaya yang dapat mengurangi hasil akhir transaksi.

Kenapa BEI Menerapkan Short Selling Secara Bertahap?

Penerapan secara bertahap menunjukkan bahwa BEI memperhatikan aspek kesiapan pasar.

Transaksi short selling membutuhkan sistem perdagangan, mekanisme peminjaman efek, pengelolaan jaminan, serta pengawasan yang dapat berjalan dengan baik.

Selain itu, regulator perlu memastikan aktivitas tersebut tidak menimbulkan risiko yang dapat mengganggu perdagangan secara keseluruhan.

Oleh sebab itu, BEI menempatkan kesiapan infrastruktur, mitigasi risiko, dan efektivitas pengawasan sebagai bagian penting dalam penerapan kembali kebijakan tersebut.

Short Selling BEI Sempat Mengalami Penundaan

Kebijakan short selling sebelumnya mengalami beberapa kali penundaan.

BEI mencatat penundaan terjadi pada September 2025 dan Maret 2026.

Kini, BEI kembali menjalankan implementasi tersebut setelah menerima arahan OJK melalui surat Nomor S-113/D.04/2026 tertanggal 9 September 2026.

Surat tersebut berkaitan dengan penetapan kebijakan batasan auto rejection, trading halt, dan implementasi short selling.

Dengan adanya kebijakan terbaru, pelaku pasar kembali mendapatkan kepastian mengenai tahapan penerapan short selling di Bursa Efek Indonesia.

Investor Jangan Hanya Mengejar Keuntungan

Kembalinya short selling tentu membuka peluang baru bagi pelaku pasar.

Namun, investor sebaiknya tidak mengambil posisi hanya karena melihat potensi keuntungan dalam waktu singkat.

Strategi short selling membutuhkan analisis dan manajemen risiko yang lebih disiplin.

Investor perlu memahami kondisi perusahaan, tren harga saham, volume perdagangan, sentimen pasar, serta faktor ekonomi yang dapat memengaruhi pergerakan harga.

Selain itu, investor perlu memastikan bahwa transaksi dilakukan melalui mekanisme yang resmi dan sesuai dengan ketentuan Bursa serta perusahaan sekuritas.

Apakah Short Selling Cocok untuk Investor Pemula?

Short selling umumnya membutuhkan pemahaman yang lebih tinggi dibandingkan transaksi saham biasa.

Investor pemula sebaiknya memahami terlebih dahulu cara kerja pasar modal, mekanisme margin, risiko leverage, biaya transaksi, serta cara mengelola posisi.

Pemahaman tersebut penting karena kesalahan dalam memperkirakan arah harga dapat menghasilkan kerugian yang besar.

Investor juga perlu memahami bahwa keuntungan masa lalu atau keberhasilan strategi tertentu tidak menjamin hasil pada transaksi berikutnya.

Kesimpulan

BEI kembali menerapkan pembiayaan transaksi short selling secara bertahap mulai 15 September 2026 setelah menerima arahan dari OJK.

Selanjutnya, BEI akan menerbitkan Daftar Efek Short Selling pada 28 September 2026. Daftar tersebut mulai berlaku pada periode Oktober 2026.

Bagi investor, short selling menawarkan peluang memperoleh keuntungan ketika harga saham turun. Namun, strategi tersebut juga membawa risiko tinggi, terutama ketika harga saham bergerak naik di luar perkiraan.

Karena itu, investor perlu memahami mekanisme transaksi, biaya, ketentuan margin, serta manajemen risiko sebelum menggunakan strategi ini.

Bagi investor pasar modal, perkembangan daftar efek short selling BEI pada akhir September menjadi salah satu informasi penting yang perlu diperhatikan menjelang perdagangan Oktober 2026.(*)

Berita Terkait

Bunga Mekaar Turun Jadi 8%, OJK Bicara Nasib Pinjaman Produktif Pinjol
13 Bank Ditutup OJK hingga September 2026, Cek Daftar dan Cara Nasabah Klaim Dana di LPS
IHSG Ambruk di Sesi I Senin 14 September 2026, 3 Sektor Ini Paling Tertekan
Bunga Deposito September 2026: BRI, BNI, Mandiri, BCA, dan BTN, Mana yang Paling Menguntungkan?
Nasabah Meninggal, Uang di Bank ke Mana? Ini Cara Klaim Tabungan dan Dokumen yang Harus Disiapkan
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 8 September 2026 Turun, Cek Daftar 24K hingga 9K dan Harga Buyback
IHSG Hari Ini 7 September 2026 Dibuka Merah di 6.626, Saham HRTA Anjlok, KLBF Justru Melonjak
KPR Subsidi Bisa 40 Tahun, Industri Asuransi Jiwa Kredit Berpeluang Raup Premi Lebih Besar
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 16:31 WIB

Bunga Mekaar Turun Jadi 8%, OJK Bicara Nasib Pinjaman Produktif Pinjol

Selasa, 15 September 2026 - 12:31 WIB

BEI Kembali Buka Short Selling Mulai 15 September 2026, Simak Cara Kerja dan Risikonya

Senin, 14 September 2026 - 19:01 WIB

13 Bank Ditutup OJK hingga September 2026, Cek Daftar dan Cara Nasabah Klaim Dana di LPS

Senin, 14 September 2026 - 17:01 WIB

IHSG Ambruk di Sesi I Senin 14 September 2026, 3 Sektor Ini Paling Tertekan

Kamis, 10 September 2026 - 07:26 WIB

Bunga Deposito September 2026: BRI, BNI, Mandiri, BCA, dan BTN, Mana yang Paling Menguntungkan?

Berita Terbaru

Foto ; Gedung KPK (Sumber/Google)

Nasional

Geger OTT KPK! 17 Orang dan 20 Kardus dan Koper Diamankan

Selasa, 15 Sep 2026 - 14:01 WIB