KERINCI,JS- Predikat sebagai salah satu lumbung pangan Provinsi Jambi belum sepenuhnya memberikan rasa aman bagi petani di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Di tengah musim kemarau yang berlangsung cukup panjang, sebagian petani justru harus membeli beras untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Kondisi tersebut muncul ketika banyak lahan persawahan tidak lagi mampu mendukung aktivitas pertanian seperti biasanya. Ketersediaan air yang terbatas membuat petani kesulitan mengolah sawah dan menyiapkan lahan untuk musim tanam berikutnya.
Situasi ini terasa semakin berat bagi petani yang menggantungkan penghasilan keluarga dari sawah. Ketika lahan tidak bisa mereka garap, sumber pendapatan ikut berkurang. Pada saat yang sama, kebutuhan beras tetap berjalan setiap hari.
Kemarau Ganggu Aktivitas Petani
Kerinci dan Sungai Penuh selama ini memiliki hamparan persawahan yang menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat. Banyak keluarga menggantungkan kebutuhan hidup dari hasil panen padi.
Namun, kondisi tersebut berubah ketika musim kemarau berlangsung cukup lama.
Hujan memang sempat turun dalam beberapa hari terakhir. Akan tetapi, curah hujan tersebut belum mampu memulihkan kondisi lahan secara menyeluruh. Sejumlah petani masih menghadapi persoalan ketersediaan air untuk mengolah sawah.
Selain itu, karakter sebagian lahan pertanian turut memperbesar persoalan. Banyak sawah di Kerinci dan Sungai Penuh mengandalkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan pengairan.
Ketika hujan tidak turun dalam waktu yang cukup lama, petani otomatis menghadapi kesulitan. Mereka tidak bisa mengandalkan sumber air lain untuk menjaga kondisi sawah tetap produktif.
Petani Mulai Membeli Beras
Salah seorang petani di Kabupaten Kerinci, Awal, membenarkan kondisi tersebut. Menurut dia, hasil panen padi selama ini selalu menjadi salah satu harapan utama keluarga petani untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Setiap musim panen biasanya menjadi momentum yang sangat dinantikan. Setelah berbulan-bulan bekerja di sawah, petani berharap hasil panen dapat memenuhi kebutuhan pangan sekaligus memberikan pemasukan bagi keluarga.
Namun, kondisi tahun ini terasa berbeda.
Awal mengatakan kekeringan membuat aktivitas pertanian berjalan tidak seperti biasanya. Lahan sawah sulit mereka olah karena persediaan air tidak mencukupi.
“Kini kami justru membeli beras untuk kebutuhan sehari-hari. Sawah sulit diolah karena kekeringan, meski sempat diguyur hujan beberapa hari,” ujar Awal.
Menurut dia, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan hasil pertanian. Kondisi sawah yang tidak produktif juga ikut memengaruhi kehidupan ekonomi keluarga petani.
Saat petani tidak bisa turun ke sawah, mereka kehilangan kesempatan untuk memperoleh hasil panen. Pada sisi lain, kebutuhan rumah tangga terus berjalan sehingga mereka harus mengeluarkan uang untuk membeli beras.
Sawah Mulai Dipenuhi Rumput
Persoalan serupa juga dirasakan petani di Kota Sungai Penuh.
Nazirman, salah seorang petani di daerah tersebut, mengatakan kekeringan mulai mengubah kondisi lahan persawahan. Sawah yang biasanya menjadi tempat petani bekerja kini mulai dipenuhi rumput liar.
Menurut Nazirman, kondisi itu muncul karena petani tidak memiliki cukup air untuk kembali mengolah lahan. Jika kondisi tersebut terus berlangsung, petani tentu semakin sulit memulai kegiatan bercocok tanam.
“Kita berharap hanya sarana pengairan dan hujan turun, agar kita bisa kembali lagi ke sawah yang menjadi mata pencaharian masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh sejak dulu,” kata Nazirman.
Harapan terhadap hujan menjadi semakin penting karena sebagian lahan sawah masyarakat masih bergantung pada air hujan. Karena itu, perubahan cuaca sangat memengaruhi aktivitas pertanian dari musim tanam hingga masa panen.
Irigasi Ikut Jadi Persoalan
Selain faktor cuaca, kondisi sarana pengairan juga ikut menjadi perhatian petani. Nazirman menyebut sejumlah sarana irigasi belum mampu mendukung kebutuhan air sawah secara maksimal.
Kondisi tersebut membuat petani menghadapi persoalan ganda. Di satu sisi, mereka menunggu hujan untuk memenuhi kebutuhan air. Di sisi lain, mereka juga berharap pemerintah dapat memperbaiki sarana pengairan yang ada.
Jika jaringan irigasi bekerja dengan baik, petani memiliki alternatif ketika curah hujan menurun. Sebaliknya, ketika hujan tidak turun dan sarana pengairan tidak mampu memasok air, lahan pertanian kehilangan sumber air utama.
Karena itu, petani berharap pemerintah memberi perhatian terhadap kondisi jaringan irigasi di sentra persawahan Kerinci dan Sungai Penuh.
Ironi di Tengah Predikat Lumbung Pangan
Kondisi petani tersebut memperlihatkan persoalan yang cukup kontras. Kerinci dan Sungai Penuh memiliki tradisi pertanian padi yang kuat. Masyarakat juga sudah lama menjadikan sawah sebagai salah satu sumber penghidupan utama.
Namun, predikat sebagai daerah penghasil pangan tidak otomatis membuat setiap petani selalu memiliki persediaan beras sendiri.
Ketika sawah gagal menghasilkan panen atau petani tidak bisa menanam padi, kebutuhan beras rumah tangga tetap berjalan. Pada akhirnya, sebagian petani harus kembali ke toko atau pedagang beras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada luas lahan pertanian. Ketersediaan air, jaringan irigasi, kondisi cuaca, serta kemampuan petani mengolah lahan juga memainkan peran penting.
Petani Menunggu Hujan
Bagi petani Kerinci dan Sungai Penuh, hujan kini menjadi salah satu harapan utama. Mereka berharap curah hujan segera kembali normal sehingga lahan sawah dapat mereka olah.
Pada saat yang sama, petani juga membutuhkan dukungan pemerintah untuk memperbaiki sarana pengairan. Perbaikan irigasi dapat membantu petani menghadapi perubahan kondisi cuaca dan mengurangi ketergantungan terhadap hujan.
Jika kondisi lahan kembali mendukung, petani berharap bisa kembali turun ke sawah. Mereka ingin menghidupkan kembali aktivitas pertanian yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh.
Bagi petani, persoalannya bukan sekadar menghasilkan gabah. Sawah juga menjadi sumber penghasilan, cadangan pangan keluarga, sekaligus bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat yang telah berlangsung dari generasi ke generasi.
Karena itu, ketika sawah mengering dan aktivitas pertanian terhenti, dampaknya tidak hanya terasa pada produksi pangan. Kondisi tersebut juga langsung menyentuh kehidupan keluarga petani.(TIM)










