BISNIS,JS- Pasar saham Indonesia mengalami tekanan pada perdagangan Senin (12/10/2026). Indeks Bisnis-27 turun 1,37% ke level 413,04, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 2,59% hingga meninggalkan level psikologis 6.000.
Pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menekan pergerakan pasar. Saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), dan PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) masuk dalam jajaran saham dengan penurunan terdalam di indeks Bisnis-27.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tercantum dalam informasi pasar, indeks hasil kerja sama harian Bisnis Indonesia dan BEI tersebut berakhir di level 413,04. Dari 27 saham konstituennya, tujuh saham menguat, 19 saham melemah, dan satu saham bertahan di posisi sebelumnya.
Saham DEWA Turun Paling Dalam, BUMI dan MAPI Ikut Tertekan
Saham DEWA mencatat penurunan terbesar dalam indeks Bisnis-27 pada penutupan perdagangan. Harga saham perusahaan tersebut turun 9,29% menjadi Rp332 per saham.
Selanjutnya, saham BUMI melemah 8,33% ke level Rp165 per saham. Tekanan juga menghampiri saham MAPI yang turun 6,77% menjadi Rp1.445 per saham.
Selain ketiga saham tersebut, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) merosot 5,93% ke level Rp555 per saham. Sementara itu, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) terkoreksi 4,09% menjadi Rp3.050 per saham.
Deretan penurunan tersebut menunjukkan bahwa tekanan perdagangan tidak hanya menyentuh satu saham. Sejumlah emiten dari sektor pertambangan dan ritel turut mengalami pelemahan pada hari yang sama.
Saham INKP, CPIN, dan JPFA Justru Menguat
Di tengah dominasi saham yang bergerak di zona merah, beberapa emiten masih mampu mencatatkan kenaikan harga.
Saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) memimpin penguatan dengan kenaikan 4,83% ke level Rp8.675 per saham.
Berikutnya, saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) naik 2,03% menjadi Rp3.020 per saham. Saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) juga menguat 1,96% ke level Rp2.080 per saham.
Meski demikian, penguatan ketiga saham tersebut belum mampu mengimbangi tekanan yang menghampiri mayoritas konstituen Bisnis-27.
IHSG Anjlok 2,59% dan Kembali ke Bawah 6.000
Tekanan pasar juga terlihat pada pergerakan IHSG. Indeks acuan pasar saham Indonesia tersebut turun 2,59% hingga menutup perdagangan di level 5.936,14.
Penurunan itu membawa IHSG kembali ke bawah level 6.000. Kondisi tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena mencerminkan pelemahan yang meluas pada sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan data yang disampaikan, sebanyak 114 saham menguat, sedangkan 602 saham melemah dan 77 saham tidak mengalami perubahan harga. Angka tersebut memperlihatkan dominasi saham yang terkoreksi dibandingkan saham yang berhasil mencatatkan kenaikan.
Sementara itu, kapitalisasi pasar IHSG tercatat mencapai Rp10.462 triliun.
Apa yang Perlu Diperhatikan Investor Saham?
Pergerakan indeks dan harga saham pada satu sesi perdagangan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pasar. Namun, investor tetap perlu menilai kinerja perusahaan, laporan keuangan, valuasi, kondisi sektor, serta risiko investasi sebelum mengambil keputusan.
Penurunan harga saham DEWA, BUMI, MAPI, BRMS, dan ANTM pada perdagangan ini tidak dengan sendirinya memastikan arah pergerakan saham pada sesi berikutnya. Begitu pula dengan penguatan INKP, CPIN, dan JPFA yang belum tentu berlanjut.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya mengandalkan perubahan harga harian. Pemantauan keterbukaan informasi perusahaan, perkembangan ekonomi, dan data perdagangan BEI dapat membantu investor menyusun pertimbangan secara lebih terukur.
Catatan redaksi: Data harga, persentase perubahan, dan kapitalisasi pasar dalam berita ini mengikuti informasi yang diberikan. Pembaca sebaiknya memeriksa kembali data penutupan resmi BEI sebelum menggunakan angka tersebut sebagai dasar keputusan investasi.(*)










