INTERNASIONAL, JS –Perwakilan keturunan budak Afrika dan masyarakat adat Suriname menerima permohonan maaf dari Raja Belanda Willem-Alexander atas perbudakan Belanda. Raja menyampaikan permintaan maaf itu dalam pertemuan tertutup beberapa waktu lalu.
“Kami menerima permintaan dan pengampunan karena raja ingin bekerja sama dalam penyembuhan dan pemulihan,” kata Wilgo Ommen, perwakilan masyarakat adat Suriname, dikutip AFP.
Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima tiba di Suriname pada Minggu (30/11). Mereka melakukan kunjungan tiga hari, yang menjadi kunjungan pertama keluarga kerajaan Belanda dalam hampir lima dekade. Raja menegaskan bahwa ia akan membahas topik perbudakan selama kunjungannya.
“Perbudakan adalah bagian sejarah yang menyakitkan, dan kami tidak akan menghindarinya,” ujar Raja Willem-Alexander. Belanda menghentikan perbudakan di Suriname dan wilayah jajahannya pada 1 Juli 1863. Pemerintah memberlakukan masa transisi 10 tahun sehingga praktik itu baru benar-benar berhenti pada 1873.
Pada abad ke-16 dan 17, Belanda membawa sekitar 600 ribu orang Afrika ke Amerika Selatan dan Karibia sebagai bagian dari perdagangan budak.
Dalam pertemuan dengan Presiden Suriname Jennifer Geerlings-Simons, Raja Willem-Alexander menyatakan bahwa ia memahami dampak sejarah ini bagi keturunan budak dan masyarakat adat.
Ia menegaskan bahwa Belanda ingin mempererat hubungan dengan Suriname berdasarkan kesetaraan dan saling menghormati.(AN)









