JAKARTA,JS- BMKG: Dua Siklon Picu Cuaca Ekstrem di Indonesia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa Bibit Siklon Tropis 91S berkembang menjadi Siklon Tropis Bakung. Saat ini siklon berada di koordinat 8,5°LS dan 96,6°BT, di Samudra Hindia sebelah barat daya Lampung.
BMKG mencatat dua sistem tekanan rendah, yaitu Siklon Tropis Bakung dan Bibit Siklon Tropis 93S, yang menyebabkan hujan deras, angin kencang, dan gelombang laut tinggi di beberapa wilayah Indonesia.
Siklon Tropis Bakung: Posisi dan Intensitas
BMKG mencatat bahwa Siklon Tropis Bakung memiliki:
-
Kecepatan angin maksimum: 35 knot (65 km/jam)
-
Tekanan udara minimum: 1000 hPa
BMKG memperkirakan siklon ini bisa meningkat menjadi kategori 2 dalam 24 jam ke depan. Meski demikian, siklon bergerak menjauhi wilayah Indonesia ke barat daya, sehingga risiko langsung relatif rendah.
Dampak Tidak Langsung Siklon Tropis Bakung
Per 12–13 Desember 2025 pukul 19.00 WIB:
-
Hujan sedang–lebat: Bengkulu, Lampung, Banten
-
Angin kencang: Bengkulu
-
Gelombang laut 1,25–2,5 meter:
-
Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai hingga barat Lampung
-
Perairan selatan Banten hingga selatan Jawa Barat
-
Selat Sunda bagian selatan
-
Dengan demikian, masyarakat di wilayah tersebut harus tetap waspada terhadap hujan lebat dan gelombang tinggi.
Bibit Siklon Tropis 93S: Posisi dan Kondisi
BMKG melaporkan bahwa Bibit Siklon Tropis 93S terbentuk pada 11 Desember 2025 pukul 07.00 WIB dan berada di koordinat 12,0°LS dan 115,8°BT, di Samudra Hindia selatan Bali.
Sistem ini memiliki:
-
Kecepatan angin maksimum: 15 knot (28 km/jam)
-
Tekanan udara minimum: 1010 hPa
Meskipun peluangnya menjadi siklon tropis rendah, BMKG memantau dampaknya dalam 24–72 jam ke depan, terutama potensi cuaca ekstrem.
Dampak Tidak Langsung Bibit Siklon 93S
BMKG memprediksi dampak sebagai berikut:
-
Hujan sedang–lebat: DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB
-
Angin kencang: Jawa Timur, Bali
-
Gelombang laut 1,25–2,5 meter:
-
Samudra Hindia selatan Jawa Tengah hingga selatan Pulau Sumba
-
Perairan selatan Jawa Timur hingga Pulau Sumba
-
Selat Bali dan Selat Lombok
-
Perairan selatan NTB
-
Oleh karena itu, warga di wilayah terdampak sebaiknya memperhatikan peringatan dini dan meningkatkan kewaspadaan.
Koordinasi dan Imbauan BMKG
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan pihaknya telah mengkoordinasikan langkah dengan BNPB, Basarnas, dan BPBD di wilayah terdampak.
Selain itu, BMKG menekankan pentingnya informasi peringatan dini yang diperbarui secara rutin, serta penyediaan data cuaca dan gelombang laut bagi pemerintah daerah.
Dengan demikian, masyarakat sebaiknya tetap waspada, tenang, dan mengikuti informasi resmi BMKG.(AN)









