Nilai Tukar Rial Anjlok Picu Protes Besar di Iran

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 31 Desember 2025 - 00:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Nilai Tukar Rial anjlok

Ilustrasi Nilai Tukar Rial anjlok

INTERNASIONAL,JS— Aksi protes terbesar di Iran dalam tiga tahun terakhir meletus pada Senin (29/12) setelah nilai tukar rial mencapai titik terendah dalam sejarah terhadap dolar AS. Depresiasi mata uang ini semakin memperburuk krisis ekonomi yang melanda Iran, memicu kemarahan masyarakat, terutama para pedagang. Selain itu, pengunduran diri Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammad Reza Farzin, turut memperburuk situasi.

Protes Meluas di Beberapa Kota Besar

Baca Juga :  Nilai Tukar Rupiah Melemah, Pasar Tunggu Kebijakan The Fed

Unjuk rasa dimulai di Teheran, tepatnya di Jalan Saadi dan lingkungan Shush, dekat Pasar Besar Teheran. Para pedagang dan pemilik toko turun ke jalan sebagai bentuk protes terhadap melemahnya nilai rial dan keadaan ekonomi yang semakin memburuk. Tak hanya di ibu kota, aksi serupa juga terjadi di beberapa kota besar lainnya, seperti Isfahan, Shiraz, dan Mashhad. Saksi mata melaporkan, di beberapa titik di Teheran, polisi terpaksa menembakkan gas air mata untuk membubarkan para demonstran.

Protes ini menjadi yang terbesar sejak 2022, ketika kematian Mahsa Jina Amini dalam tahanan polisi memicu gelombang demonstrasi di seluruh Iran. Aksi tersebut juga membawa harapan bagi banyak warga yang merasa tidak puas dengan kondisi politik dan ekonomi negara ini.

Baca Juga :  AS Waswas, Iran dan Hizbullah Memperluas Jejak di Venezuela

Anjloknya Nilai Tukar Rial Memicu Inflasi Tinggi

Pada Minggu (28/12), nilai tukar rial Iran anjlok menjadi 1,42 juta rial per dolar AS. Pada Senin (29/12), nilai tukar tersebut tetap berada pada level 1,38 juta rial per dolar AS. Depresiasi yang cepat ini telah memperburuk tekanan inflasi yang sudah tinggi, menyebabkan harga barang-barang pokok, seperti makanan, melambung tinggi.

Pada 2022, saat Farzin menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Iran, nilai tukar rial masih sekitar 430.000 per dolar AS. Namun, dalam waktu kurang dari dua tahun, depresiasi rial telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Menurut data dari Pusat Statistik Iran, inflasi tahunan pada Desember 2025 tercatat sebesar 42,2%. Harga makanan melonjak hingga 72%, sementara harga barang-barang kesehatan dan medis meningkat sebesar 50% dibandingkan dengan tahun lalu.

Rencana Kenaikan Pajak Memperburuk Ketidakpuasan Masyarakat

Pemerintah Iran juga berencana untuk menaikkan pajak pada tahun baru Iran yang dimulai pada 21 Maret 2026. Rencana ini semakin menambah kekhawatiran masyarakat yang sudah tertekan oleh kondisi ekonomi yang semakin memburuk. Banyak warga merasa bahwa mereka sudah dibebani dengan inflasi tinggi, dan kenaikan pajak hanya akan memperburuk keadaan.

Ketegangan Politik dan Risiko Konflik

Ketidakpastian politik juga semakin memengaruhi pasar dan sentimen ekonomi di Iran. Setelah perang singkat antara Iran dan Israel pada Juni 2025, banyak warga yang khawatir tentang kemungkinan terjadinya konfrontasi lebih besar yang melibatkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat. Ketegangan ini membuat situasi ekonomi semakin tidak stabil, dan menyebabkan warga Iran semakin khawatir tentang masa depan negara mereka.

Dampak Sanksi Internasional

Pada September 2025, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberlakukan kembali sanksi internasional terhadap Iran terkait program nuklir negara tersebut. Langkah ini mengembalikan pembekuan aset Iran di luar negeri, menghentikan transaksi senjata, dan membatasi pengembangan rudal balistik Iran. Dampak dari sanksi ini semakin memperburuk keadaan ekonomi Iran, yang sudah terpuruk sejak pembatalan kesepakatan nuklir 2015 setelah keputusan Presiden AS Donald Trump menarik Amerika Serikat dari perjanjian tersebut.(AN)

Berita Terkait

Harga BBM ASEAN Meledak! Global Oil Price Tembus $100, Indonesia Masih Termurah
Fakta Mengejutkan: Mobil Listrik Ternyata Bisa Bebani Listrik Nasional, Ini yang Terjadi di Sri Lanka
Harga BBM Singapura Tembus Rp55 Ribu per Liter, Ini Dampaknya Bagi Indonesia?
Migrasi Pekerja Meledak, Sindikat Scam Asia Tenggara Incar WNI
Iran Pastikan Jalur Minyak Strategis Tetap Terbuka, India Lega!
Investor Malaysia Tinjau Sabang, Rencana Bangun Hub Bunkering Internasional
Tiket Mahal dan Penerbangan Terbatas, Ini Dampak Konflik Timur Tengah
Dukung Pramuka, Wali Kota Jambi Terima Penghargaan dari PPM Malaysia
Berita ini 22 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 30 Maret 2026 - 13:00 WIB

Harga BBM ASEAN Meledak! Global Oil Price Tembus $100, Indonesia Masih Termurah

Jumat, 27 Maret 2026 - 17:00 WIB

Fakta Mengejutkan: Mobil Listrik Ternyata Bisa Bebani Listrik Nasional, Ini yang Terjadi di Sri Lanka

Jumat, 20 Maret 2026 - 06:00 WIB

Harga BBM Singapura Tembus Rp55 Ribu per Liter, Ini Dampaknya Bagi Indonesia?

Selasa, 17 Maret 2026 - 02:00 WIB

Migrasi Pekerja Meledak, Sindikat Scam Asia Tenggara Incar WNI

Senin, 16 Maret 2026 - 06:00 WIB

Iran Pastikan Jalur Minyak Strategis Tetap Terbuka, India Lega!

Berita Terbaru