Bagi Masyarakat Jambi, Pahami ISPA pada Anak: Gejala, Faktor Risiko, dan Kapan Harus ke Dokter

- Jurnalis

Minggu, 11 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi gejala ispa pada anak

Ilustrasi gejala ispa pada anak

JAMBI,JS- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Jambi meningkatkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak. Paparan asap dapat mengganggu saluran pernapasan dan memperburuk kondisi anak yang memiliki riwayat asma atau penyakit paru-paru.

Orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk. Salah satu gangguan kesehatan yang perlu diantisipasi ialah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kondisi ini dapat menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung dan tenggorokan hingga paru-paru.

Anak-anak, khususnya balita, membutuhkan perhatian lebih karena sistem kekebalan tubuh dan saluran pernapasan mereka masih berkembang. Selain itu, anak sering melakukan aktivitas fisik yang membuat mereka bernapas lebih cepat sehingga berpotensi menghirup lebih banyak polutan ketika beraktivitas di luar ruangan.

Meski demikian, orang tua perlu memahami perbedaan antara ISPA akibat infeksi dan gangguan pernapasan akibat paparan asap. ISPA umumnya muncul akibat infeksi virus atau bakteri, sedangkan asap karhutla dapat mengiritasi saluran napas dan memicu batuk, sesak, serta memperburuk penyakit pernapasan yang sudah ada.

Kabut Asap Jambi Mengancam Kesehatan Saluran Pernapasan

Asap karhutla mengandung partikel halus dan berbagai zat pencemar yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Partikel berukuran sangat kecil bahkan dapat mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam.

Paparan dalam waktu singkat dapat memicu iritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Sementara itu, paparan berulang atau berkepanjangan dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada anak, lansia, ibu hamil, dan orang yang memiliki penyakit kronis.

Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan informasi kualitas udara dari instansi berwenang. Ketika kualitas udara memburuk, orang tua sebaiknya membatasi kegiatan anak di luar rumah, khususnya aktivitas berat seperti berlari dan bermain dalam waktu lama.

Orang tua juga perlu mengingat bahwa masker biasa tidak selalu mampu menyaring partikel halus dari asap secara optimal. Oleh sebab itu, mengurangi paparan dan menjaga udara dalam ruangan tetap bersih menjadi langkah penting untuk melindungi anak.

Kenali 7 Gejala ISPA pada Anak

ISPA dapat menimbulkan gejala ringan hingga berat. Gejala setiap anak bisa berbeda, bergantung pada penyebab infeksi, usia, dan kondisi kesehatannya.

Berikut tujuh gejala yang perlu orang tua perhatikan.

1. Batuk yang Berulang

Batuk menjadi salah satu gejala yang sering muncul pada gangguan saluran pernapasan. Anak dapat mengalami batuk kering maupun batuk berdahak.

Paparan asap juga dapat memicu batuk akibat iritasi. Jika batuk berlangsung terus-menerus, semakin berat, atau disertai sesak napas, orang tua sebaiknya membawa anak ke fasilitas kesehatan.

2. Pilek dan Hidung Tersumbat

Infeksi saluran pernapasan atas sering menimbulkan pilek, bersin, dan hidung tersumbat. Kondisi tersebut dapat membuat anak sulit tidur dan merasa tidak nyaman.

Pada bayi, hidung tersumbat juga dapat mengganggu proses menyusu. Orang tua perlu memperhatikan kemampuan bayi untuk bernapas dan minum dengan baik.

3. Demam

Sebagian anak mengalami demam ketika tubuh melawan infeksi. Namun, demam bukan satu-satunya penentu tingkat keparahan penyakit.

Baca Juga :  Viral! Wisata Swasta di Kerinci Banjir Pengunjung, Destinasi Pemkab Kurang Dilirik

Orang tua perlu memperhatikan usia anak, suhu tubuh, lama demam, dan gejala lain yang menyertainya. Khusus bayi berusia di bawah tiga bulan, suhu tubuh 38 derajat Celsius atau lebih memerlukan pemeriksaan medis segera.

4. Sakit Tenggorokan

Peradangan pada tenggorokan dapat menimbulkan rasa sakit ketika anak menelan makanan atau minuman. Akibatnya, anak mungkin menolak makan dan minum.

Berikan cairan sesuai usia anak dan pantau jumlah urine atau frekuensi buang air kecilnya. Jika anak sulit menelan, terus menolak minum, atau menunjukkan tanda dehidrasi, segera cari pertolongan medis.

5. Napas Lebih Cepat dari Biasanya

Orang tua perlu memperhatikan pola pernapasan anak ketika beristirahat. Napas yang jauh lebih cepat daripada biasanya dapat menandakan gangguan pernapasan yang membutuhkan pemeriksaan.

Jangan menganggap kondisi tersebut sebagai akibat kelelahan semata, terutama jika anak juga mengalami demam, batuk berat, atau terlihat kesulitan bernapas.

6. Anak Tampak Lemas dan Kehilangan Nafsu Makan

Anak yang sakit sering menjadi rewel, kurang aktif, dan kehilangan nafsu makan. Namun, orang tua harus membedakan kelelahan biasa dengan kondisi ketika anak tampak sangat lemah atau sulit dibangunkan.

Jika anak tidak mampu minum dengan cukup, jarang buang air kecil, atau menunjukkan penurunan kesadaran, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan.

7. Mengi atau Bunyi Napas Tidak Normal

Mengi merupakan bunyi napas seperti siulan yang dapat muncul ketika saluran pernapasan menyempit. Paparan asap dapat memperburuk gejala ini, terutama pada anak yang memiliki asma.

Jika anak mengalami mengi disertai sesak, napas tersengal, atau kesulitan berbicara dan minum karena kehabisan napas, segera cari pertolongan medis.

Waspadai Tanda Bahaya, Jangan Menunggu Gejala Memburuk

Tidak semua kasus ISPA membutuhkan perawatan di rumah sakit. Namun, orang tua harus mengenali tanda bahaya yang memerlukan pertolongan segera.

Segera bawa anak ke instalasi gawat darurat jika anak mengalami salah satu kondisi berikut:

  • Kesulitan bernapas, napas tersengal, atau tampak bekerja keras untuk menarik napas.
  • Dinding dada tertarik ke dalam setiap kali anak menarik napas.
  • Bibir atau lidah tampak kebiruan.
  • Anak sangat lemas, sulit dibangunkan, atau tidak merespons seperti biasanya.
  • Anak tidak mampu minum atau menunjukkan tanda dehidrasi berat.
  • Anak mengalami kejang atau penurunan kesadaran.

Jangan menunggu sampai seluruh gejala muncul. Jika anak menunjukkan gangguan pernapasan berat, segera cari bantuan medis.

Selain itu, orang tua perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika demam berlangsung lebih dari tiga hari, gejala semakin berat, atau batuk dan pilek tidak kunjung membaik.

Langkah Melindungi Anak dari Kabut Asap Karhutla

Ketika kabut asap menyelimuti wilayah Jambi, orang tua dapat mengambil beberapa langkah untuk mengurangi paparan polusi terhadap anak.

Pertama, batasi aktivitas di luar ruangan. Jika kualitas udara memburuk, tunda kegiatan olahraga, bermain, atau aktivitas lain yang membuat anak bernapas lebih cepat. Ikuti pula arahan sekolah dan pemerintah setempat mengenai kegiatan luar ruangan.

Baca Juga :  Gaji ke-13 dan ke-14 ASN Batang Hari Cair? Ini Kabar Terbaru dan Penjelasannya

Kedua, jaga udara dalam rumah. Tutup pintu dan jendela ketika asap masuk dari luar. Jika tersedia, gunakan pembersih udara dengan filter HEPA sesuai ukuran ruangan. Namun, jangan menutup rumah tanpa memperhatikan suhu, sirkulasi, dan keselamatan penghuni.

Ketiga, hindari sumber asap lainnya. Jangan merokok di dalam rumah atau dekat anak. Hindari pula pembakaran sampah, penggunaan obat nyamuk bakar, dan kegiatan lain yang menambah pencemaran udara di dalam ruangan.

Keempat, cukupi kebutuhan cairan dan istirahat. Berikan ASI kepada bayi sesuai kebutuhannya serta air minum yang cukup bagi anak yang sudah boleh mengonsumsinya. Pastikan anak mendapat istirahat yang memadai.

Kelima, jangan memberikan obat sembarangan. Antibiotik tidak dapat mengatasi infeksi virus. Orang tua juga sebaiknya tidak memberikan obat batuk dan pilek kepada anak tanpa memperhatikan usia, aturan pakai, dan anjuran tenaga kesehatan.

Keenam, pantau informasi kualitas udara. Masyarakat dapat mengikuti informasi dari BMKG dan instansi lingkungan hidup setempat. Jika kondisi udara memburuk, sesuaikan kegiatan keluarga untuk mengurangi paparan.

Apabila anak memiliki asma atau penyakit pernapasan lain, ikuti rencana pengobatan dari dokter. Jangan mengubah dosis obat atau menggunakan obat milik orang lain tanpa petunjuk tenaga kesehatan.

Kapan Anak Perlu Memakai Masker?

Masker yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikel ketika seseorang harus berada di lingkungan berasap. Namun, jenis masker, ukuran, dan kecocokan pada wajah sangat menentukan manfaatnya.

Masker kain dan masker bedah tidak memberikan perlindungan optimal terhadap seluruh partikel halus. Respirator seperti N95 dapat menyaring partikel dengan lebih baik jika ukurannya sesuai dan terpasang rapat.

Meski demikian, respirator tidak cocok untuk semua kelompok usia. Jangan memakaikan masker kepada bayi atau anak yang belum mampu melepasnya sendiri dengan aman. Untuk anak kecil, langkah utama tetap mengurangi paparan dengan membatasi aktivitas luar ruangan dan mencari tempat dengan udara lebih bersih.

Peran Orang Tua Menentukan Keselamatan Anak

Kabut asap karhutla bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Kondisi tersebut juga dapat memperburuk kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak.

Orang tua perlu membedakan gejala iritasi akibat asap dengan kemungkinan infeksi saluran pernapasan. Keduanya dapat menimbulkan keluhan serupa, sehingga pemeriksaan tenaga kesehatan menjadi penting ketika gejala menetap atau memburuk.

Dengan membatasi paparan asap, menjaga kualitas udara dalam ruangan, dan mengenali tanda bahaya sejak dini, orang tua dapat mengambil langkah yang lebih tepat untuk melindungi anak.

Masyarakat di Provinsi Jambi juga perlu mengikuti perkembangan kualitas udara dan imbauan resmi selama periode karhutla. Jika anak mengalami sesak napas, bibir kebiruan, atau penurunan kesadaran, segera cari pertolongan medis tanpa menunda.

Catatan redaksi: Artikel ini memuat informasi edukasi kesehatan dan tidak menggantikan diagnosis dokter. Naskah ini tidak mencantumkan angka kasus ISPA atau tingkat pencemaran udara terbaru di Jambi karena data tersebut perlu diverifikasi dari sumber resmi.(*)

Berita Terkait

Besok Jadi Hari Penentuan, Siapa Tiga Besar Calon 5 Kepala OPD Sungai Penuh?
Waspada Dampak Kabut Asap di Kerinci, Dinkes Instruksikan Puskesmas dan RSUD Siaga
Jika Persoalan Asset Belum Selesai, Mungkinkah Alfin dan Monadi Kompak Seperti Sekarang
ISPU Tebo Tembus 576, Kabut Asap Ancam Kesehatan Warga, Ini Langkah yang Perlu Dilakukan
Bunda PAUD Sungai Penuh Ingatkan Orang Tua, Ini Pentingnya Memilih Sekolah Anak
Perluasan Jaringan Menyasar Tiga Desa di Limun, Ini Wilayah yang Terjangkau
Sidak di Beberapa OPD, BKPSDM Sungai Penuh Temukan Sejumlah ASN Jarang Ngantor
Sejumlah PPPK Paruh Waktu Sungai Penuh Dipastikan Kontraknya Tak Diperpanjang, Ini Kata BKPSDM
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 11 Oktober 2026 - 20:06 WIB

Besok Jadi Hari Penentuan, Siapa Tiga Besar Calon 5 Kepala OPD Sungai Penuh?

Minggu, 11 Oktober 2026 - 19:01 WIB

Bagi Masyarakat Jambi, Pahami ISPA pada Anak: Gejala, Faktor Risiko, dan Kapan Harus ke Dokter

Minggu, 11 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Waspada Dampak Kabut Asap di Kerinci, Dinkes Instruksikan Puskesmas dan RSUD Siaga

Minggu, 11 Oktober 2026 - 08:01 WIB

Jika Persoalan Asset Belum Selesai, Mungkinkah Alfin dan Monadi Kompak Seperti Sekarang

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 22:01 WIB

ISPU Tebo Tembus 576, Kabut Asap Ancam Kesehatan Warga, Ini Langkah yang Perlu Dilakukan

Berita Terbaru