Dana Triliunan Mengendap, Ada Apa dengan Kredit Perbankan?

- Jurnalis

Minggu, 22 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi kredit menganggur perbankan masih tinggi. (Sumber/Google)

Ilustrasi kredit menganggur perbankan masih tinggi. (Sumber/Google)

BISNIS,JS- Kredit menganggur (undisbursed loan) perbankan nasional masih berada pada level tinggi hingga awal 2026. Bahkan, angkanya terus meningkat meski penyaluran kredit mencatat pertumbuhan signifikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kehati-hatian bank masih menahan aliran dana ke perekonomian.

Berdasarkan data Bank Indonesia, nilai kredit yang belum tersalurkan mencapai Rp 2.506,47 triliun atau 22,65% dari total kredit. Angka tersebut naik dibandingkan Desember 2025 yang sebesar Rp 2.439,2 triliun atau 22,12%.

Baca Juga :  Kredit Macet Masih Mengintai, Ini Strategi BTN Menghadapinya?

Padahal, pada periode yang sama, kredit perbankan tumbuh hampir 10% secara tahunan. Artinya, meski bank agresif menyalurkan kredit baru, sebagian besar dana masih tertahan di tahap persetujuan dan realisasi.

Bank Masih Menimbang Risiko Sektor Baru

Menurut Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, peningkatan kredit menganggur tergolong wajar. Ia menilai bank masih membutuhkan waktu untuk mengkaji prospek dan risiko, terutama pada sektor-sektor prioritas pemerintah yang relatif baru.

“Likuiditas perbankan membaik dan pipeline kredit cukup besar. Namun, bank perlu memahami karakter sektor baru sebelum menyalurkan kredit,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).

Selanjutnya, Myrdal menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan kredit berjalan lebih lambat karena bank memilih bersikap konservatif. Menurutnya, percepatan analisis risiko menjadi kunci agar kredit bisa segera mengalir ke sektor riil.

Baca Juga :  OJK Cabut Izin BPR Bermasalah, Industri Perbankan Diperkuat

UMKM dan Suku Bunga Turun Jadi Peluang

Selain sektor prioritas pemerintah, Myrdal melihat peluang ekspansi kredit di segmen UMKM. Setelah sempat melambat, sektor ini berpotensi kembali tumbuh jika kondisi pembiayaan lebih mendukung.

Di sisi lain, tren suku bunga yang berpotensi menurun juga dapat menjadi katalis. Dengan biaya dana yang lebih rendah, bank memiliki ruang lebih besar untuk mempercepat penyaluran kredit tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian.

Kredit Menganggur Naik di Bank-Bank Besar

Kondisi serupa terlihat di bank-bank besar. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat kredit menganggur sebesar Rp 464,82 triliun per Januari 2026. Angka ini naik 8,81% dibandingkan tahun sebelumnya.

EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Haryn, menyatakan bahwa perseroan tetap mengelola kredit menganggur secara prudent sambil mendorong pembiayaan ke berbagai sektor. Sepanjang periode tersebut, penyaluran kredit BCA tumbuh 6,26% secara tahunan menjadi Rp 948,95 triliun.

Bank Mandiri dan BNI Catat Lonjakan

Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk mencatat kredit menganggur sebesar Rp 284,36 triliun, naik 8,75% secara tahunan. Namun, Bank Mandiri tetap membukukan pertumbuhan kredit yang kuat, yakni 15,62% YoY menjadi Rp 1.511 triliun.

Adapun PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat lonjakan kredit menganggur paling tajam. Pada Desember 2025, nilainya meningkat 64,22% menjadi Rp 90,08 triliun, meski penyaluran kredit masih tumbuh 15,95% secara tahunan.

Baca Juga :  Bank Mega Siap Bagi Saham Bonus Jumbo, Investor Perlu Tahu Jadwalnya

CIMB Niaga Pilih Optimalkan Kredit Existing

Berbeda dengan bank lainnya, CIMB Niaga justru mencatat stabilitas kredit menganggur. Hingga November 2025, nilainya turun tipis 2,95% menjadi Rp 107,55 triliun. Pada saat yang sama, penyaluran kredit tumbuh 6,36% YoY menjadi Rp 162,21 triliun.

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menegaskan bahwa perseroan memprioritaskan pemanfaatan kredit yang sudah tersedia dibandingkan sekadar menaikkan plafon pembiayaan.

“Kami fokus memastikan kredit benar-benar digunakan sesuai kebutuhan nasabah,” katanya.

Kehati-hatian Masih Menahan Laju Kredit

Secara keseluruhan, tren kredit menganggur yang masih tinggi menunjukkan bahwa kuatnya likuiditas dan permintaan belum sepenuhnya mendorong penyaluran pembiayaan. Untuk itu, percepatan analisis risiko dan pengambilan keputusan menjadi faktor krusial agar kredit dapat segera menopang pertumbuhan ekonomi nasional.(*)

Berita Terkait

Pajak Dropshipper dan Reseller 2026: Ini Aturan dan Cara Menghitungnya
BCA Lanjutkan Buyback Saham Oktober 2026, Harga BBCA Turun ke Rp4.820
Rupiah Menguat ke Rp18.029 per Dolar AS, Simak Prediksi Kurs Hari Ini
Tabel Angsuran KUR BNI Rp50 Juta 2026: Cicilan 3 Tahun Rp1,52 Juta per Bulan
IPO BUMN 2027: 10 Saham Pelat Merah dengan Nilai Penawaran Terbesar, MTEL Tembus Rp18,34 Triliun
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 19 Oktober 2026: Cek Daftar Harga Terbarunya
Pinjaman Modal Usaha Jaminan Sertifikat Rumah: Berapa Maksimal Dana yang Bisa Cair?
Asing Jual Saham BBCA Rp34 Triliun, Bagaimana Prospek Saham Bank BCA, BRI dan Mandiri?
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:31 WIB

BCA Lanjutkan Buyback Saham Oktober 2026, Harga BBCA Turun ke Rp4.820

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:30 WIB

Rupiah Menguat ke Rp18.029 per Dolar AS, Simak Prediksi Kurs Hari Ini

Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:01 WIB

Tabel Angsuran KUR BNI Rp50 Juta 2026: Cicilan 3 Tahun Rp1,52 Juta per Bulan

Senin, 19 Oktober 2026 - 15:01 WIB

IPO BUMN 2027: 10 Saham Pelat Merah dengan Nilai Penawaran Terbesar, MTEL Tembus Rp18,34 Triliun

Senin, 19 Oktober 2026 - 11:07 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 19 Oktober 2026: Cek Daftar Harga Terbarunya

Berita Terbaru