INTERNASIONAL,JS- Ekonomi Jepang: Aset Lansia Mengendap di Rekening Bank
Data terbaru menunjukkan bahwa lansia Jepang menguasai aset besar yang tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena penurunan fungsi kognitif mereka.
Krisis Ekonomi Akibat Penuaan Penduduk
Jepang kini menghadapi masalah besar terkait ekonomi, seiring dengan meningkatnya jumlah lansia yang mengalami penurunan kemampuan kognitif. Data dari Sumitomo Mitsui Trust Bank Ltd mengungkapkan bahwa lansia Jepang yang mengalami penurunan fungsi kognitif kini menguasai sekitar 315 triliun yen (sekitar USD 2 triliun atau Rp 33.405 triliun) dalam bentuk aset likuid. Nilai ini diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk usia lanjut.
Sebagian besar lansia yang memiliki aset besar ini tidak dapat memanfaatkan kekayaan mereka secara optimal, karena kemampuan kognitif yang menurun.
Data Demografi dan Tantangan Penuaan
Sekitar sepertiga dari 123 juta penduduk Jepang berusia di atas 65 tahun. Selain itu, lebih dari 10 persen populasi Jepang kini berusia di atas 80 tahun. Meskipun memiliki kekayaan dalam jumlah besar, banyak lansia yang tidak bisa mengelola atau memanfaatkan dana tersebut dengan baik. Hal ini semakin buruk karena sebagian besar lansia tidak memiliki keturunan atau ahli waris yang jelas.
Contoh nyata datang dari Teruo, pria 84 tahun asal Prefektur Toyama. Meskipun ia masih aktif berolahraga dan menjaga kesehatannya, Teruo mulai merasakan kekhawatiran terkait risiko penurunan kemampuan kognitif di usia lanjut. Ia mengungkapkan bahwa “saya mulai bertanya-tanya berapa tahun lagi yang tersisa dalam hidup saya, dan risiko hal-hal seperti demensia semakin terasa nyata.” Teruo hanya fokus pada menyiapkan dana untuk anak-anaknya ketika saatnya tiba.
Namun, kesadaran semacam ini belum umum di kalangan lansia di Jepang. Banyak di antara mereka yang tidak memiliki sistem atau pendampingan untuk mengelola keuangan, yang membuat mereka rentan terhadap penipuan atau kesalahan dalam pengelolaan dana.
Risiko Keuangan yang Mengancam Lansia
Menurut Satoshi Nojiri, CEO konsultan keuangan FinWell Research, mayoritas lansia di Jepang tidak memiliki mekanisme yang jelas untuk mengelola aset mereka. “Triliunan yen terjebak di rekening mereka, tetapi kita tidak tahu bagaimana cara mengoptimalkan uang tersebut,” kata Nojiri. Kekayaan yang mengendap ini berisiko besar salah kelola, bahkan menjadi sasaran penipuan.
Penting untuk dicatat bahwa penurunan kemampuan kognitif pada lansia sering kali datang secara perlahan. Keputusan finansial yang buruk, seperti lupa membayar kewajiban atau jatuh ke dalam perangkap penipuan, semakin sering terjadi. Ini bisa memperburuk masalah keuangan lansia dan memperbesar beban pada sistem sosial negara.
Solusi Perbankan untuk Mengatasi Masalah
Industri perbankan Jepang mulai beradaptasi dengan mengembangkan berbagai solusi. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan meluncurkan rekening serta skema perwalian berbasis dukungan keluarga. Tujuan dari inovasi ini adalah agar aset lansia dapat dikelola dengan lebih baik sebelum kondisi kognitif mereka semakin memburuk.
Namun, penerapan solusi ini tidak selalu mudah. Bagi lansia yang hidup sendiri atau tidak memiliki ahli waris, pengelolaan aset menjadi masalah serius. Selain itu, risiko penurunan kemampuan kognitif sering kali datang secara bertahap, yang membuat lansia rentan terhadap masalah keuangan.
Para pembuat kebijakan di Jepang juga mulai merespons masalah ini. Kementerian Kehakiman Jepang tengah meninjau undang-undang perwalian orang dewasa dengan tujuan membuatnya lebih sederhana dan fleksibel. Amandemen terhadap undang-undang ini bisa segera diterapkan dalam waktu dekat. Dengan perubahan ini, anggota keluarga bisa mengambil alih kendali hukum atas keuangan kerabat yang menderita demensia.
Inovasi Layanan di Wilayah Pedesaan
Di wilayah pedesaan, yang kini menghadapi penuaan penduduk yang lebih terasa, perubahan terjadi lebih cepat. Beberapa bank dan perusahaan sekuritas, seperti Kagawa Securities Co., meluncurkan layanan rekening dukungan keluarga. Permintaan untuk layanan ini bahkan melebihi ekspektasi. Imamura Securities Co. juga merilis layanan serupa, yang kini melayani permintaan dari luar wilayah mereka.
Teruo sendiri telah mendaftar layanan perwalian baru pada tahun 2024. Setelah berbicara dengan anak-anaknya mengenai pengelolaan keuangan di masa depan, putranya kini menjadi wali rekening yang bisa mengambil alih jika Teruo tidak lagi mampu mengurus urusannya sendiri. Meskipun ia telah menyerahkan sebagian besar pengelolaan keuangan kepada perusahaan sekuritas, Teruo tetap melakukan transaksi saham secara langsung, meski hanya sesekali.
Dampak Penurunan Kemampuan Kognitif terhadap Keuangan
Penurunan kemampuan kognitif, terutama demensia, menjadi masalah yang semakin besar di Jepang. Diperkirakan, pada tahun 2040, sekitar 15 persen dari populasi berusia 65 tahun ke atas akan menderita demensia, yang akan memengaruhi lebih dari 5,8 juta orang. Jing Li, seorang Ekonom Kesehatan di University of Washington, menjelaskan bahwa penurunan fungsi eksekutif yang terjadi pada lansia sering kali mengikis kemampuan mereka untuk membuat keputusan yang tepat, termasuk keputusan finansial.
Kerentanannya terhadap kesalahan dalam pengelolaan keuangan akan semakin dalam seiring dengan bertambahnya usia. Ini menciptakan risiko besar bagi lansia yang tidak memiliki pendamping atau sistem yang dapat melindungi mereka dari penipuan atau kesalahan finansial.
Dampak Sosial dan Ekonomi yang Meningkat
Lansia yang kehilangan aset mereka biasanya akan bergantung pada bantuan sosial dan layanan kesehatan publik. Ini memberi tekanan tambahan pada sistem sosial Jepang yang sudah mengalami beban berat akibat penuaan populasi. Oleh karena itu, perubahan yang dilakukan untuk membantu lansia mengelola kekayaan mereka akan sangat penting untuk mengurangi beban ekonomi yang ditanggung negara.
Pemerintah Jepang, bersama sektor perbankan, kini sedang berupaya mengembangkan kebijakan dan inovasi yang dapat mengatasi masalah ini. Diharapkan, langkah-langkah yang diambil akan membantu lansia melindungi aset mereka dan memastikan kualitas hidup mereka tetap terjaga di masa depan.(AN)









