KERINCI,JS- Harga ayam potong di Pasar Tradisional, Kabupaten Kerinci, masih bertahan di level tinggi hingga Sabtu, 11 April 2026. Pedagang menjual ayam di kisaran Rp45.000 hingga Rp48.000 per kilogram, jauh di atas harga normal beberapa bulan sebelumnya.
Jika dibandingkan dengan harga lama yang berada di sekitar Rp38.000 per kilogram, kenaikan ini terasa signifikan. Akibatnya, banyak pembeli mulai mengeluhkan kondisi tersebut karena ayam merupakan salah satu kebutuhan pokok harian.
Selain itu, kondisi ini juga berdampak langsung pada pola belanja masyarakat. Banyak warga kini mulai mengurangi jumlah pembelian atau mencari alternatif sumber protein lain yang lebih terjangkau.
Daya Beli Masyarakat Mulai Melemah
Kenaikan harga ayam potong langsung memengaruhi daya beli masyarakat. Meski aktivitas di pasar tetap berjalan, jumlah pembelian cenderung menurun.
Beberapa pembeli mengaku kini lebih selektif saat berbelanja. Mereka tidak lagi membeli dalam jumlah besar seperti sebelumnya.
Jika kondisi ini terus berlangsung, maka bukan hanya konsumen yang terdampak, tetapi juga pedagang yang berpotensi mengalami penurunan omzet.
Penyebab Harga Ayam Naik di 2026
Pedagang mengungkapkan beberapa faktor utama yang mendorong kenaikan harga ayam potong sejak awal tahun 2026.
- Pasokan dari Peternak Menurun
Pertama, pasokan ayam dari peternak mengalami penurunan. Kondisi ini membuat stok di pasar terbatas, sehingga harga naik secara alami mengikuti hukum permintaan dan penawaran.
- Biaya Pakan Ternak Meningkat
Selain itu, harga pakan ternak seperti jagung dan konsentrat juga mengalami kenaikan. Dampaknya, biaya produksi peternak ikut meningkat.
- Biaya Distribusi Lebih Mahal
Kenaikan harga bahan bakar dan logistik turut mendorong biaya distribusi. Akibatnya, harga jual di tingkat pasar ikut terkerek naik.
- Tren Inflasi Pangan Global
Secara global, kenaikan harga pangan (food inflation 2026) juga memengaruhi stabilitas harga di daerah, termasuk di Kerinci.
Harga Ayam Berpotensi Bertahan Tinggi
Melihat kondisi saat ini, harga ayam potong diperkirakan masih akan bertahan di level tinggi dalam waktu dekat.
Jika pasokan belum kembali normal dan biaya produksi tetap tinggi, maka peluang penurunan harga akan cukup kecil.
Namun demikian, harga bisa kembali stabil jika:
- Distribusi kembali lancar
- Produksi peternak meningkat
- Intervensi pemerintah berjalan efektif
Harapan Pedagang dan Masyarakat
Pedagang berharap harga segera stabil agar daya beli masyarakat kembali meningkat. Dengan harga yang lebih terjangkau, transaksi di pasar bisa kembali normal.
Di sisi lain, masyarakat juga menginginkan adanya langkah konkret dari pemerintah untuk mengendalikan harga bahan pokok, khususnya daging ayam.
Dampak Kenaikan Harga Ayam bagi Ekonomi Lokal
Kenaikan harga ayam tidak hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga memengaruhi sektor lain seperti:
- Usaha kuliner (warung makan, restoran)
- Pedagang kecil
- Industri olahan makanan
Jika harga terus tinggi, maka biaya produksi makanan ikut meningkat. Hal ini bisa memicu kenaikan harga makanan di tingkat konsumen.
Tips Menghemat Belanja Saat Harga Ayam Naik
Untuk menyiasati kondisi ini, masyarakat bisa melakukan beberapa strategi:
- Membeli ayam dalam jumlah secukupnya
- Memilih potongan ayam yang lebih murah
- Mengganti menu dengan protein alternatif seperti telur atau tempe
- Memanfaatkan promo pasar atau diskon
Dengan strategi ini, pengeluaran tetap bisa dikontrol meski harga ayam sedang tinggi.
FAQ
- Berapa harga ayam potong terbaru di Kerinci?
Saat ini berkisar Rp45.000 hingga Rp48.000 per kilogram.
- Mengapa harga ayam naik terus?
Karena pasokan berkurang, biaya pakan naik, dan distribusi lebih mahal.
- Kapan harga ayam akan turun?
Harga bisa turun jika pasokan kembali normal dan biaya produksi menurun.
- Apakah harga ayam akan terus naik?
Tidak selalu, namun dalam jangka pendek harga cenderung masih tinggi.
- Apa alternatif selain ayam?
Telur, ikan, tahu, dan tempe bisa menjadi pilihan protein yang lebih ekonomis.
Kesimpulan
Harga ayam potong di Pasar Semurup, Kerinci, masih berada di level tinggi pada April 2026 dan belum menunjukkan tanda penurunan. Kenaikan ini dipicu oleh kombinasi faktor pasokan, biaya produksi, dan distribusi.
Meskipun aktivitas pasar tetap berjalan, daya beli masyarakat mulai melemah. Oleh karena itu, dibutuhkan langkah cepat dari berbagai pihak untuk menjaga stabilitas harga pangan.
Jika kondisi segera membaik, maka harga ayam berpeluang kembali normal dan tidak lagi membebani masyarakat.(*)









