KERINCI – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada tahun 2026 langsung memicu lonjakan biaya di berbagai sektor. Tidak hanya transportasi, sektor konstruksi kini ikut merasakan tekanan berat. Di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, harga material bangunan melonjak tajam hingga mencapai 60 persen.
Kondisi ini langsung memukul masyarakat yang tengah membangun rumah maupun menjalankan proyek skala kecil. Biaya yang sebelumnya masih terjangkau kini meningkat signifikan, sehingga banyak warga memilih menunda pembangunan.
Dampak Kenaikan BBM terhadap Harga Material Bangunan
Kenaikan BBM mendorong biaya distribusi melonjak. Sopir truk dan pelaku usaha angkutan harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk operasional harian. Akibatnya, harga material seperti pasir, batu, dan kerikil langsung ikut terkerek naik.
Seorang sopir dump truk di wilayah Kerinci menjelaskan kondisi di lapangan.
“Biaya solar naik, jadi ongkos angkut ikut naik. Harga material langsung menyesuaikan,” ujarnya.
Selain itu, kenaikan ini menciptakan efek domino. Distributor menaikkan harga, pengecer mengikuti, dan akhirnya masyarakat menjadi pihak yang paling terdampak.
Harga Pasir dan Batu Naik hingga 60 Persen
Lonjakan harga material bukan sekadar kenaikan biasa. Di beberapa titik, harga pasir dan batu bahkan meningkat hingga 60 persen dibandingkan sebelumnya.
Kondisi ini membuat biaya pembangunan rumah sederhana melonjak drastis. Jika sebelumnya masyarakat bisa membangun rumah dengan anggaran terbatas, kini mereka harus menyiapkan dana jauh lebih besar.
Di sisi lain, proyek pembangunan kecil seperti renovasi rumah, pengecoran jalan lingkungan, hingga pembangunan ruko mulai melambat.
Aktivitas Konstruksi Melambat, Permintaan Menurun
Kenaikan harga material langsung menekan daya beli masyarakat. Banyak calon pembeli memilih menunda pembangunan karena biaya yang semakin tinggi.
Sopir truk yang sama mengungkapkan perubahan signifikan dalam aktivitas harian.
“Biasanya bisa angkut beberapa kali sehari. Sekarang paling satu atau dua kali. Permintaan turun,” jelasnya.
Penurunan ini tidak hanya berdampak pada sopir, tetapi juga pekerja bangunan, toko material, hingga pelaku usaha kecil di sektor konstruksi.
Efek Ekonomi Lokal Mulai Terasa
Perlambatan sektor konstruksi berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi daerah. Sektor ini memiliki peran penting karena melibatkan banyak tenaga kerja dan rantai distribusi.
Ketika pembangunan melambat, perputaran uang ikut berkurang. Dampaknya bisa meluas ke sektor lain seperti perdagangan dan jasa.
Selain itu, kondisi ini berisiko meningkatkan angka pengangguran di sektor informal, terutama pekerja harian.
Masyarakat Tertekan, Proyek Rumah Terancam Tertunda
Banyak warga di Kerinci dan Sungai Penuh kini menghadapi dilema. Mereka harus memilih antara melanjutkan pembangunan dengan biaya tinggi atau menunda hingga harga kembali stabil.
Sebagian masyarakat bahkan mulai mengurangi skala pembangunan untuk menekan biaya. Namun, langkah ini sering kali tidak cukup karena kenaikan harga terjadi hampir di semua jenis material.
Harapan kepada Pemerintah dan DPRD
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kondisi ini. Kebijakan stabilisasi harga dan pengendalian distribusi menjadi harapan utama.
Selain itu, DPRD diharapkan ikut mendorong solusi jangka pendek maupun jangka panjang agar sektor konstruksi tetap berjalan.
Intervensi pemerintah dinilai sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat serta mencegah perlambatan ekonomi yang lebih luas.
FAQ
1. Apa penyebab utama harga material bangunan naik?
Kenaikan harga BBM meningkatkan biaya transportasi dan distribusi, sehingga harga material ikut naik.
2. Berapa persen kenaikan harga material di Kerinci?
Harga pasir dan batu mengalami kenaikan hingga 60 persen di beberapa wilayah.
3. Apa dampak kenaikan ini bagi masyarakat?
Masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk pembangunan, bahkan banyak yang menunda proyek.
4. Apakah harga material akan terus naik?
Harga sangat bergantung pada kebijakan BBM dan kondisi ekonomi. Jika BBM stabil, harga material berpotensi ikut stabil.
5. Bagaimana solusi untuk mengatasi kenaikan ini?
Pemerintah dapat mengendalikan distribusi, memberikan subsidi, atau menjaga stabilitas harga BBM.
Kesimpulan
Kenaikan harga BBM pada 2026 memicu dampak besar di sektor konstruksi, terutama di Kerinci dan Sungai Penuh. Harga material bangunan yang melonjak hingga 60 persen membuat biaya pembangunan meningkat drastis.
Akibatnya, aktivitas konstruksi melambat, permintaan menurun, dan ekonomi lokal mulai tertekan. Masyarakat kini menunggu langkah cepat dari pemerintah untuk menstabilkan harga dan menjaga daya beli.
Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa solusi, sektor konstruksi berisiko mengalami perlambatan lebih dalam yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan.(*)









