JAMBI,JS- Harga kelapa sawit di Provinsi Jambi kembali mengalami penurunan pada periode 15–21 Mei 2026. Tim Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Provinsi Jambi menetapkan penurunan sebesar Rp34,46 per kilogram dibandingkan periode sebelumnya.
Meski turun, harga sawit Jambi masih bertahan di level tinggi. Untuk TBS kelapa sawit usia produktif 10 hingga 20 tahun, harga mencapai Rp3.860,52 per kilogram di tingkat pabrik kelapa sawit (PKS).
Penetapan harga tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, perusahaan kelapa sawit, perwakilan petani, hingga tim teknis lainnya. Pemerintah daerah terus melakukan evaluasi rutin agar harga sawit tetap mengikuti kondisi pasar global dan nasional.
Namun demikian, harga yang ditetapkan pemerintah tersebut hanya berlaku untuk petani plasma dan transaksi di tingkat pabrik. Sementara itu, petani mandiri masih menerima harga lebih rendah karena rantai distribusi dan biaya transportasi.
Saat ini, harga sawit di tingkat petani dan tengkulak berada di kisaran Rp3.000 hingga Rp3.400 per kilogram, tergantung kualitas buah, lokasi kebun, dan jarak menuju pabrik.
Daftar Lengkap Harga Sawit Jambi Periode 15–21 Mei 2026
Berikut rincian harga TBS kelapa sawit di jambi berdasarkan usia tanaman:
- Umur 3 tahun: Rp2.996,34 per kilogram
- Umur 4 tahun: Rp3.216,87 per kilogram
- Umur 5 tahun: Rp3.363,50 per kilogram
- Umur 6 tahun: Rp3.502,99 per kilogram
- Umur 7 tahun: Rp3.591,17 per kilogram
- Umur 8 tahun: Rp3.669,11 per kilogram
- Umur 9 tahun: Rp3.740,35 per kilogram
- Umur 10–20 tahun: Rp3.860,52 per kilogram
- Umur 21–24 tahun: Rp3.747,76 per kilogram
- Umur 25 tahun: Rp3.582,03 per kilogram
Data tersebut menunjukkan bahwa tanaman sawit usia 10 hingga 20 tahun masih menjadi fase paling produktif. Karena itu, petani yang memiliki kebun pada rentang usia tersebut masih memperoleh keuntungan lebih besar dibandingkan tanaman muda maupun tua.
Harga CPO dan Kernel Masih Jadi Penopang Pasar Sawit
Selain menetapkan harga TBS, tim juga merilis harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan harga kernel.
Pada periode ini, harga CPO berada di angka Rp15.020,26 per kilogram. Sementara itu, harga kernel tercatat Rp14.547,07 per kilogram dengan indeks K sebesar 95,22 persen.
Harga CPO global masih menjadi faktor utama yang mempengaruhi harga sawit domestik. Ketika harga minyak sawit dunia melemah, harga TBS di tingkat daerah biasanya ikut terkoreksi.
Selain faktor global, kondisi ekspor, nilai tukar rupiah, permintaan industri biodiesel, hingga produksi sawit nasional juga ikut menentukan arah harga sawit setiap pekan.
Petani Sawit Mandiri Masih Menghadapi Tantangan Besar
Walaupun harga sawit di tingkat pabrik masih relatif tinggi, banyak petani mandiri di Jambi belum menikmati harga maksimal.
Beberapa petani mengaku masih menjual hasil panen melalui tengkulak atau pengepul karena keterbatasan akses langsung ke pabrik. Akibatnya, harga jual yang diterima lebih rendah.
Di sisi lain, biaya operasional kebun juga terus meningkat. Harga pupuk, biaya panen, transportasi, hingga upah tenaga kerja membuat margin keuntungan petani semakin tertekan.
Kondisi tersebut membuat sebagian petani berharap pemerintah daerah dapat memperkuat sistem kemitraan dan memperluas akses petani mandiri ke pabrik kelapa sawit.
Selain itu, petani juga meminta pengawasan lebih ketat terhadap praktik pemotongan harga oleh tengkulak yang kerap terjadi di lapangan.
Harga Sawit Diprediksi Masih Fluktuatif Hingga Akhir 2026
Pengamat perkebunan memprediksi harga sawit masih bergerak fluktuatif dalam beberapa bulan ke depan. Pasar minyak nabati dunia saat ini masih menghadapi tekanan akibat perlambatan ekonomi global dan perubahan permintaan ekspor.
Namun demikian, kebutuhan minyak sawit untuk industri makanan, kosmetik, dan biodiesel diperkirakan tetap tinggi. Faktor tersebut berpotensi menahan penurunan harga sawit agar tidak jatuh terlalu dalam.
Selain itu, kebijakan pemerintah terkait mandatori biodiesel juga menjadi penopang penting industri sawit nasional sepanjang 2026.
Jika permintaan ekspor meningkat dan produksi global menurun, harga sawit berpeluang kembali menguat pada semester kedua tahun ini.
Sawit Masih Jadi Tulang Punggung Ekonomi Jambi
Industri kelapa sawit masih menjadi sektor andalan ekonomi masyarakat Jambi. Ribuan petani menggantungkan penghasilan dari komoditas ini.
Karena itu, setiap perubahan harga sawit selalu menjadi perhatian utama masyarakat, terutama di daerah sentra perkebunan seperti Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, Tebo, Batanghari, hingga Merangin.
Turunnya harga sawit memang belum terlalu tajam, tetapi petani berharap tren penurunan tidak berlangsung lama. Banyak petani kini memilih menekan biaya produksi sambil menunggu harga kembali stabil.
Pemerintah daerah juga terus mendorong peningkatan kualitas buah sawit agar petani memperoleh harga lebih baik di tingkat pabrik.
Kesimpulan
Harga sawit Jambi periode 15–21 Mei 2026 turun Rp34,46 per kilogram. Meski begitu, harga TBS usia 10–20 tahun masih bertahan di level Rp3.860,52 per kilogram di tingkat pabrik.
Sementara itu, harga di tingkat petani berada di kisaran Rp3.000 hingga Rp3.400 per kilogram. Perbedaan harga tersebut masih menjadi tantangan utama bagi petani mandiri.
Ke depan, harga sawit diperkirakan tetap bergerak dinamis mengikuti kondisi pasar global, harga CPO dunia, dan kebijakan energi nasional.(*)









