INTERNASIONAL,JS— Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, membubarkan parlemen pada Jumat (23/1) dan membuka jalan bagi pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada 8 Februari. Langkah ini menjadi ujian penting bagi kabinet perempuan pertama Jepang dalam mempertahankan dukungan publik.
“Banzai” dan Strategi Politik
Ketua Parlemen membacakan surat resmi, dan anggota dewan menyambutnya dengan sorakan “banzai”, sesuai tradisi politik Jepang. Para pengamat menilai Takaichi membubarkan parlemen untuk memanfaatkan tingginya popularitas kabinet menjelang pemilu.
Takaichi menyatakan, pemilu dini bertujuan memperoleh mandat publik terkait pengendalian biaya hidup dan peningkatan belanja pertahanan.
Koalisi Tipis Jadi Tantangan
Meskipun kabinet mendapat tingkat kepuasan publik yang tinggi, koalisi LDP-JIP hanya menguasai mayoritas tipis di majelis rendah. Analis politik memperingatkan bahwa popularitas Takaichi belum tentu meningkatkan dukungan langsung untuk LDP, yang masih menghadapi sejumlah skandal.
Profesor politik Universitas Tsukuba, Hidehiro Yamamoto, menekankan, “Publik kini lebih fokus pada upaya pemerintah menahan inflasi daripada mendukung partai tertentu.”
Inflasi Melambat, Biaya Hidup Masih Tinggi
Data pemerintah menunjukkan inflasi melambat pada Desember 2025, sebagian besar karena pemerintah menyalurkan subsidi listrik dan gas. Indeks harga konsumen, di luar pangan segar, naik 2,4 persen dibanding tahun sebelumnya, turun dari 3 persen pada November, tetapi tetap melebihi target Bank Sentral Jepang sebesar 2 persen.
Anggaran Besar untuk Memacu Ekonomi
Kabinet Takaichi menyetujui anggaran 122,3 triliun yen (sekitar 770 miliar USD) untuk tahun fiskal yang dimulai April 2026. Pemerintah mengalokasikan anggaran tersebut untuk mendorong pertumbuhan ekonomi terbesar keempat di dunia.
Oposisi mengkritik keputusan pembubaran parlemen. Jun Azumi dari Partai Demokrat Konstitusional (CDP) menilai langkah ini bisa menghambat pengesahan anggaran dan memperberat tekanan pada mata pencaharian masyarakat.
Pemilu Dini: Ujian bagi Takaichi dan LDP
Dengan mayoritas parlemen yang tipis dan ekonomi yang masih menantang, pemilu dini menjadi momen penentu bagi Takaichi. Ia harus membuktikan bahwa popularitas kabinetnya dapat diterjemahkan menjadi dukungan nyata untuk partai.(TIM)









