JAKARTA,JS- Sentimen Global, Rupiah Melemah di Tengah Penguatan Dolar AS
Perdagangan Jumat (9/1/2026) menunjukkan rupiah bergerak fluktuatif dan cenderung melemah terhadap dolar AS. Pada saat yang sama, pembukaan perdagangan di Jakarta mencatat kurs Rp16.829–Rp16.832 per dolar AS, lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya di Rp16.798 per dolar AS.
Selain itu, Bank Indonesia melaporkan kurs transaksi harian, dengan dolar AS diperdagangkan sekitar Rp16.885,01, menandakan tekanan lanjutan pada rupiah.
Penguatan Dolar AS Tekan Rupiah
Di sisi lain, indeks dolar AS menguat tipis ke level 98,75, mendorong investor meningkatkan permintaan terhadap greenback. Selain itu, pelaku pasar menunggu data nonfarm payrolls (NFP) AS Desember untuk melihat arah kebijakan suku bunga The Fed.
Sentimen Geopolitik dan Kebijakan Moneter
Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik memengaruhi pergerakan pasar. Presiden AS Donald Trump menyatakan Caracas setuju memasok 30–50 juta barel minyak ke AS setelah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro akhir pekan lalu.
Sementara itu, ketidakpastian arah suku bunga The Fed menarik perhatian investor. Gubernur The Fed Stephen Miran mendorong pelonggaran suku bunga, sedangkan Presiden Fed Thomas Barkin menilai suku bunga saat ini netral dan tidak mendorong maupun menahan aktivitas ekonomi. Dengan kondisi ini, investor menghadapi dilema strategi investasi.
Pergerakan Mata Uang Asia
Selain rupiah, investor mencatat pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS:
Melemah: dolar Hong Kong (-0,04%), dolar Taiwan (-0,30%), won Korea (-0,24%), rupee India (-0,19%), ringgit Malaysia (-0,13%), baht Thailand (-0,38%)
Menguat: yen Jepang (+0,15%), peso Filipina (+0,28%), yuan China (+0,13%)
Dengan demikian, tekanan regional berbeda-beda tergantung kondisi ekonomi dan geopolitik masing-masing negara.
Prospek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Di sisi domestik, IMF, Bank Dunia, dan Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 sekitar 5%. Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis Indonesia bisa mencapai 6%, karena fundamental ekonomi tetap kuat.
Prediksi Pergerakan Rupiah
Dengan mempertimbangkan semua faktor ini, analis memperkirakan rupiah masih akan tertekan hingga akhir pekan. Oleh karena itu, investor harus memantau data tenaga kerja AS dan perkembangan geopolitik global untuk menentukan arah pergerakan mata uang.(AN)









