POLITIK,JS- Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Oktober 2026 mencatat perubahan dukungan publik terhadap sejumlah tokoh politik nasional. Dalam simulasi semi terbuka dengan 24 nama kandidat, Dedi Mulyadi memperoleh elektabilitas 35,5%, sedangkan Anies Baswedan meraih 10,3% dan Presiden Prabowo Subianto mencatat 9,8%.
Survei tersebut mengukur pilihan responden jika pemilihan presiden berlangsung saat ini. Hasilnya menempatkan Dedi Mulyadi, yang dikenal dengan sebutan KDM, pada angka tertinggi di antara nama-nama yang masuk dalam simulasi tersebut.
Sementara itu, sejumlah tokoh lain juga memperoleh dukungan responden. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meraih 8,4%, sedangkan Purbaya Yudhi Sadewa dan Ganjar Pranowo masing-masing mencatat 5%. Adapun Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memperoleh 2,1%.
SMRC juga mencatat 13,9% responden belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban. Kelompok ini menjadi bagian penting dalam membaca hasil survei karena pilihan politik mereka masih dapat berubah.
Elektabilitas Prabowo dan Dedi Mulyadi Berubah
Perbandingan dengan survei sebelumnya memperlihatkan perubahan angka dukungan terhadap Prabowo dan Dedi Mulyadi. Menurut data yang tercantum dalam materi rilis SMRC, elektabilitas Prabowo mencapai 33,3% pada survei Februari–Maret 2026. Angka tersebut kemudian tercatat sebesar 9,8% dalam survei Oktober 2026.
Pada periode yang sama, elektabilitas Dedi Mulyadi bergerak dari 23,3% menjadi 35,5%. Perubahan tersebut menunjukkan perbedaan tren dukungan yang cukup besar dalam pengukuran opini publik selama tujuh bulan.
Meski demikian, angka survei tidak serta-merta menjelaskan alasan di balik perubahan pilihan responden. Untuk mengetahui faktor yang memengaruhi dukungan terhadap masing-masing tokoh, diperlukan informasi tambahan mengenai penilaian publik terhadap kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, kepuasan terhadap kinerja pejabat, serta isu politik yang berkembang.
Hasil survei juga perlu dibaca sesuai waktu pengumpulan data. Pilihan responden pada Oktober 2026 belum tentu menggambarkan preferensi mereka ketika tahapan pemilihan presiden berlangsung pada masa mendatang.
Simulasi Dua Nama Mengukur Dukungan kepada Prabowo
SMRC turut menguji pilihan responden melalui simulasi yang hanya menghadirkan dua nama, yakni Prabowo Subianto dan Dedi Mulyadi. Dalam skenario tersebut, Dedi Mulyadi memperoleh 69,3%, sedangkan Prabowo meraih 18,8%.
Sebanyak 12% responden lainnya belum menentukan pilihan. Angka dalam simulasi ini menggambarkan preferensi responden ketika mereka hanya menghadapi dua alternatif yang tersedia dalam pertanyaan survei.
Perlu diperhatikan bahwa simulasi dua nama berbeda dari pemilihan presiden yang sebenarnya. Pemilih dapat mempertimbangkan lebih banyak kandidat, partai politik, program kerja, serta dinamika koalisi. Karena itu, hasil simulasi tidak dapat diperlakukan sebagai kepastian mengenai hasil pemilihan mendatang.
Bagi pembaca, perbandingan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana dukungan responden dapat berubah ketika pilihan kandidat semakin terbatas. Namun, hasilnya tetap bergantung pada rancangan pertanyaan, daftar nama, dan karakteristik responden yang mengikuti survei.
Simulasi Tanpa Dedi Mulyadi Menempatkan Gibran dan AHY di Posisi Teratas
SMRC juga menguji skenario berbeda dengan menghilangkan nama Dedi Mulyadi dari daftar kandidat. Dalam simulasi tiga nama yang melibatkan Prabowo, Gibran Rakabuming Raka, dan AHY, Gibran memperoleh 29,7%.
AHY menyusul dengan 28,2%, sedangkan Prabowo meraih 22,7%. Pada skenario tersebut, sebanyak 19,4% responden belum menentukan pilihan.
Perubahan komposisi kandidat menghasilkan distribusi dukungan yang berbeda dari simulasi semi terbuka maupun simulasi dua nama. Hasil ini memperlihatkan pentingnya memahami konteks setiap pertanyaan sebelum membandingkan angka elektabilitas.
Ketika satu nama tidak masuk dalam simulasi, responden dapat memilih kandidat lain atau tetap menyatakan belum memiliki pilihan. Oleh sebab itu, peneliti tidak dapat langsung menganggap seluruh dukungan kepada kandidat yang tidak tercantum akan berpindah kepada tokoh tertentu.
Simulasi tiga nama ini juga tidak menggambarkan konfigurasi resmi calon presiden dan calon wakil presiden. Daftar tersebut berfungsi sebagai skenario penelitian untuk mengukur respons publik terhadap pilihan yang berbeda.
Loyalitas Pemilih Gerindra Menjadi Bagian Penting Survei
Materi hasil survei SMRC juga memuat temuan mengenai pilihan pemilih Partai Gerindra. Dalam simulasi semi terbuka, materi tersebut menyebut 20% pemilih Gerindra tetap memilih Prabowo, sementara 74% menyatakan lebih memilih kandidat presiden lain.
Angka itu menarik perhatian karena Prabowo memimpin Partai Gerindra sekaligus menjabat sebagai presiden. Namun, pembaca perlu mengetahui dasar perhitungan angka tersebut sebelum menarik kesimpulan mengenai loyalitas pemilih partai.
Informasi tentang jumlah responden dari kelompok pemilih Gerindra, pertanyaan yang digunakan, serta distribusi pilihan lainnya akan membantu pembaca memahami temuan tersebut secara lebih utuh. Tanpa rincian itu, angka dalam kelompok tertentu tidak sebaiknya dianggap mewakili seluruh anggota atau pendukung Gerindra.
Selain itu, pilihan responden dalam survei tidak selalu sama dengan keputusan ketika pemungutan suara berlangsung. Kampanye, penetapan pasangan calon, program yang ditawarkan, dan perkembangan situasi nasional dapat memengaruhi preferensi pemilih.
Metode Survei dan Margin of Error
Berdasarkan materi yang Anda berikan, SMRC melaksanakan survei pada 1–10 Oktober 2026. Penelitian tersebut melibatkan 1.213 warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih.
Materi itu menyebut metode pemilihan responden secara acak atau random sampling, dengan pengumpulan data melalui wawancara tatap muka dan telepon. SMRC juga mencantumkan margin of error sekitar 2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.
Margin of error menunjukkan kisaran ketidakpastian statistik yang berkaitan dengan proses pengambilan sampel. Angka tersebut tidak berarti seluruh hasil survei pasti benar dalam rentang yang sama, karena kualitas data juga bergantung pada desain sampel, tingkat respons, metode wawancara, pembobotan, dan faktor lain.
Selain itu, perbedaan angka yang kecil perlu dibaca secara hati-hati. Misalnya, selisih elektabilitas antara Anies Baswedan dan Prabowo Subianto hanya 0,5 poin persentase. Tanpa analisis ketidakpastian yang sesuai, pembaca tidak sebaiknya menganggap selisih tersebut sebagai bukti pasti bahwa dukungan keduanya berbeda secara statistik.
Sebelum menerbitkan laporan ini, redaksi perlu mencocokkan tanggal survei, jumlah responden, metode pengumpulan data, angka setiap simulasi, serta margin of error dengan dokumen resmi SMRC.
Hasil Survei Bukan Penentu Hasil Pemilu
Secara keseluruhan, materi survei Oktober 2026 menunjukkan perbedaan distribusi dukungan terhadap sejumlah tokoh nasional dalam beberapa skenario pertanyaan. Dedi Mulyadi memperoleh 35,5% dalam simulasi semi terbuka, sementara Prabowo mencatat 9,8%. Dalam simulasi dua nama, keduanya memperoleh angka yang berbeda dari simulasi tiga kandidat yang melibatkan Gibran dan AHY.
Perbedaan tersebut menegaskan bahwa hasil survei sangat bergantung pada susunan kandidat dan cara peneliti mengajukan pertanyaan. Karena itu, masyarakat perlu melihat metode, waktu pelaksanaan, dan konteks penelitian sebelum menggunakan angka elektabilitas untuk menilai perkembangan politik nasional.
Survei juga bukan pengganti pemungutan suara. Hasil akhir pemilihan presiden bergantung pada proses pemilu yang sah, kandidat yang resmi mengikuti kontestasi, serta pilihan masyarakat saat memberikan suara.
Dengan demikian, hasil survei SMRC ini dapat menjadi bahan untuk mengikuti perubahan opini publik, selama pembaca tetap memperhatikan keterbatasan metodologi dan menunggu konfirmasi dari sumber resmi. Perkembangan dukungan politik selanjutnya masih perlu dipantau melalui survei yang transparan, data yang dapat diperiksa, dan informasi yang terverifikasi.(*)










