TEKNOLOGI,JS- Saat ini, banyak orang tanpa sadar sering membuka ponsel hanya untuk melihat sesuatu yang baru. Mereka berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, meskipun tidak memiliki tujuan yang jelas.
Kebiasaan ini tidak hanya terjadi pada remaja. Orang dewasa hingga pekerja profesional juga mengalaminya. Bahkan, sebagian orang melakukannya secara refleks saat merasa bosan, cemas, atau menunggu sesuatu.
Penelitian Ilmiah Mengungkap Penyebabnya
Menariknya, perilaku ini memiliki penjelasan ilmiah. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences meneliti mengapa manusia terus mencari informasi, meskipun tidak selalu membutuhkannya.
Tim peneliti dari Haas School of Business UC Berkeley memimpin riset tersebut. Mereka fokus memahami hubungan antara rasa ingin tahu dan sistem penghargaan di otak.
Otak Menganggap Informasi Sebagai Hadiah
Menurut peneliti utama, Ming Hsu, otak manusia memperlakukan informasi seperti hadiah. Setiap kali seseorang menemukan informasi baru, otak merespons dengan rasa senang.
Selain itu, otak tidak membedakan secara ketat antara informasi penting dan informasi sepele. Selama informasi tersebut baru, sistem penghargaan tetap aktif.
Akibatnya, seseorang bisa merasa puas hanya dengan membaca berita ringan atau melihat unggahan media sosial, meskipun tidak mendapatkan manfaat nyata.
Peran Dopamin dalam Rasa Ingin Tahu
Dopamin merupakan neurotransmiter yang berperan besar dalam emosi, motivasi, dan rasa senang. Saat seseorang menerima sesuatu yang dianggap bernilai, otak melepaskan dopamin sebagai bentuk penghargaan.
Proses ini tidak hanya terjadi saat seseorang mendapatkan uang atau makanan. Otak juga melepaskan dopamin ketika seseorang memperoleh informasi baru.
Dengan kata lain, rasa ingin tahu dan rasa senang memiliki jalur saraf yang sama. Oleh sebab itu, aktivitas sederhana seperti scrolling dapat terasa menyenangkan.
Eksperimen: Peserta Rela Membayar Demi Informasi
Untuk menguji teori tersebut, para peneliti melakukan eksperimen dengan permainan berbasis taruhan. Peserta diminta memilih apakah mereka ingin membayar untuk mengetahui peluang menang.
Selanjutnya, peneliti memindai aktivitas otak peserta selama mereka membuat keputusan. Hasilnya menunjukkan bahwa banyak peserta tetap memilih membeli informasi, meskipun informasi itu tidak selalu meningkatkan peluang mereka secara signifikan.
Temuan ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya mencari manfaat praktis. Mereka juga mencari sensasi mengetahui sesuatu lebih dulu.
Bagian Otak yang Aktif Saat Mencari Informasi
Pemindaian otak memperlihatkan bahwa aktivitas mencari informasi mengaktifkan dua area penting, yaitu striatum dan ventromedial prefrontal cortex (VMPFC). Kedua area ini berperan dalam sistem penghargaan dan pengambilan keputusan.
Ketika area tersebut aktif, otak melepaskan dopamin. Respons ini sama dengan saat seseorang menerima hadiah nyata, seperti uang atau makanan.
Dengan demikian, otak benar-benar memperlakukan informasi sebagai sesuatu yang bernilai.
Internet Memperkuat Siklus Kecanduan Informasi
Di masa lalu, manusia harus berusaha keras untuk mendapatkan informasi. Namun sekarang, internet menyediakan informasi dalam jumlah hampir tak terbatas dan dapat diakses dalam hitungan detik.
Kondisi ini membuat otak menerima rangsangan penghargaan secara terus-menerus. Setiap notifikasi, judul berita, atau unggahan baru berpotensi memicu pelepasan dopamin.
Akibatnya, seseorang terdorong untuk terus mengecek ponsel, bahkan ketika tidak ada kebutuhan yang jelas.
Mirip Junk Food: Mudah, Cepat, dan Sulit Dihentikan
Para peneliti membandingkan konsumsi informasi dengan kebiasaan mengonsumsi junk food. Keduanya sama-sama memberikan kepuasan instan, tetapi tidak selalu memberikan manfaat jangka panjang.
Karena itu, otak cenderung menginginkan lebih banyak informasi, sama seperti tubuh yang sering menginginkan makanan tinggi gula atau lemak.
Analogi ini membantu menjelaskan mengapa banyak orang merasa kesulitan berhenti scrolling, meskipun mereka sadar waktu mereka terbuang.(*)









