Wajib Pajak dengan 2 Bukti Potong? Begini Cara Cepat Lapor SPT Tahunan 2025 di Coretax

- Jurnalis

Jumat, 20 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bukti pelaporan wajib pajak SPT

Bukti pelaporan wajib pajak SPT

JAKARTA,JS- Setiap Wajib Pajak Orang Pribadi yang memiliki NPWP dan memperoleh penghasilan harus melaporkan SPT Tahunan Pajak Penghasilan (PPh). SPT Tahunan menjadi sarana untuk melaporkan seluruh penghasilan yang diterima, pajak yang sudah dipotong pihak lain, dan menghitung pajak terutang selama setahun.

Selain itu, tahun 2025, Wajib Pajak harus melaporkan SPT melalui Coretax DJP, terutama jika memiliki dua bukti potong PPh Pasal 21. Kondisi ini muncul ketika seseorang berpindah kerja atau memiliki lebih dari satu pemberi kerja. Misalnya, seorang pegawai bekerja di Perusahaan A pada awal tahun, kemudian pindah ke Perusahaan B di pertengahan tahun. Pegawai tersebut akan menerima dua bukti potong dari masing-masing perusahaan.

Baca Juga :  Belum Lapor SPT 2024? Ini Cara Mudah Hindari Denda!

Dampak Dua Bukti Potong terhadap Perhitungan Pajak

Akibatnya, Wajib Pajak sering mengalami selisih perhitungan pajak ketika menggabungkan dua bukti potong. Setiap pemberi kerja menghitung PPh berdasarkan penghasilan yang mereka bayarkan. Kemudian, total penghasilan yang digabungkan bisa membuat PPh terutang lebih tinggi daripada jumlah yang sudah dipotong.

Beberapa penyebab umum selisih pajak:

  • Pertama, Wajib Pajak menghitung PTKP dua kali, padahal seharusnya hanya sekali.
  • Kedua, penghasilan kena pajak melebihi tarif 5%, sehingga sebagian masuk ke tarif lebih tinggi (15% atau lebih).

Oleh karena itu, Wajib Pajak berpotensi mengalami kurang bayar, meskipun pajak sudah dipotong oleh pemberi kerja.

Informasi Penting dalam Bukti Potong PPh Pasal 21

Bukti potong mencantumkan informasi penting tentang penghasilan dan pajak yang dipotong, antara lain:

  • Identitas pemberi kerja
  • Identitas Wajib Pajak
  • Jumlah penghasilan bruto
  • Pengurang penghasilan (biaya jabatan, iuran pensiun, dll.)
  • Penghasilan kena pajak
  • Nilai PTKP
  • Jumlah penghasilan netto
  • Jumlah PPh Pasal 21 yang dipotong

Selain itu, Wajib Pajak harus mencantumkan semua bukti potong dalam SPT Tahunan. Sistem pajak Indonesia mengacu pada prinsip self assessment, sehingga Wajib Pajak menghitung sendiri pajak terutang dari total penghasilan setahun.

Cara Praktis Lapor SPT Tahunan di Coretax

Berikut langkah-langkah agar pelaporan lebih mudah dan akurat:

  1. Pertama, login ke Coretax menggunakan NIK dan kata sandi.
  2. Selanjutnya, kumpulkan bukti potong dari pemberi kerja melalui menu dokumen.
  3. Kemudian, buat konsep SPT Tahunan melalui menu Surat Pemberitahuan.
  4. Isi dan edit konsep SPT dengan menjawab semua pertanyaan di induk SPT.
  5. Setelah itu, cek lampiran penting:
    • Lampiran 1 bagian D → Masukkan semua penghasilan netto dari pekerjaan.
    • Lampiran 1 bagian E → Catat semua bukti potong untuk pengkreditan pajak.
      Jika perlu, tambahkan data manual saat bukti potong belum muncul.
  6. Selanjutnya, cek hasil perhitungan pajak untuk mengetahui status: nihil, kurang bayar, atau lebih bayar.
  7. Kemudian, lengkapi data tambahan: harta, utang, dan anggota keluarga yang menjadi tanggungan.
  8. Setelah itu, lakukan pembayaran atau klaim pengembalian pajak:
    • Jika lebih bayar, pilih mekanisme pengembalian atau pemeriksaan, dan daftarkan nomor rekening untuk pencairan.
    • Jika kurang bayar, lakukan pembayaran melalui kode billing; sistem otomatis memindahkan SPT ke folder “Dilaporkan”.
    • Jika nihil, klik bayar dan lapor; sistem langsung memindahkan SPT ke folder “Dilaporkan”.
  9. Terakhir, Wajib Pajak menerima bukti penerimaan elektronik melalui email yang terhubung dengan Coretax.
Baca Juga :  Kaget SPT Lebih Bayar Saat Lapor Pajak? Ini Penyebabnya

Tips Agar Laporan SPT Tepat dan Akurat

  • Pertama, gabungkan semua penghasilan bruto dari berbagai pemberi kerja sebelum menghitung pajak.
  • Selanjutnya, pastikan seluruh bukti potong tercatat pada lampiran 1 bagian D dan E.
  • Terakhir, periksa status pajak setelah sistem menghitung otomatis untuk menghindari kurang bayar atau lebih bayar.

Dengan memahami mekanisme penggabungan penghasilan, menghitung pajak tahunan secara tepat, dan mengisi SPT dengan cermat, Wajib Pajak dapat melaporkan SPT Tahunan secara optimal, menghindari kesalahan, serta berkontribusi nyata terhadap pembangunan nasional.(*)

Berita Terkait

IHSG Turun 3,28% Sepekan, Asing Jual Saham Rp82,55 Triliun Sepanjang 2026
BRI Raih Penghargaan Bank UMKM Terbaik 2027, Ini Program untuk Petani dan Pengusaha Desa
Kurs Dolar AS Hari Ini 2 Oktober 2026: Cek Harga Jual dan Beli di BCA, Mandiri, BRI, dan BNI
Ingin jadi Nasabah BCA Prioritas 2026: Ini Syarat, Cara Dapat Undangan dan Keuntungannya
Bank Digital Makin Populer, Transaksi Digital Indonesia Capai 5,50 Miliar
MotoGP Indonesia 2026 Segera Digelar, BRI Dorong Ekonomi Digital dan Peluang UMKM
Terbaru! KUR BRI Rp20 Juta September 2026: Cicilan Mulai Rp396 Ribu, Cek Simulasi Lengkap dan Syarat Pinjaman BRI
IHSG Hari Ini Diprediksi Melemah, Investor Wajib Cermati Level 6.000 dan 6.200
Berita ini 93 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:01 WIB

IHSG Turun 3,28% Sepekan, Asing Jual Saham Rp82,55 Triliun Sepanjang 2026

Jumat, 2 Oktober 2026 - 15:59 WIB

BRI Raih Penghargaan Bank UMKM Terbaik 2027, Ini Program untuk Petani dan Pengusaha Desa

Jumat, 2 Oktober 2026 - 10:15 WIB

Kurs Dolar AS Hari Ini 2 Oktober 2026: Cek Harga Jual dan Beli di BCA, Mandiri, BRI, dan BNI

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:01 WIB

Ingin jadi Nasabah BCA Prioritas 2026: Ini Syarat, Cara Dapat Undangan dan Keuntungannya

Rabu, 30 September 2026 - 21:45 WIB

Bank Digital Makin Populer, Transaksi Digital Indonesia Capai 5,50 Miliar

Berita Terbaru