158 Kasus ISPA Tercatat di Tanjab Barat, Ini Kecamatan Kasus Terbanyak

- Jurnalis

Kamis, 10 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

TANJABBAR,JS- Aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di sejumlah wilayah Provinsi Jambi. Kondisi tersebut membuat kualitas udara dan risiko gangguan kesehatan menjadi topik yang semakin banyak diperhatikan masyarakat.

Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjab Barat), Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 158 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dalam pemantauan rutin yang dilakukan tenaga kesehatan.

Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Tanjab Barat, Sahala Simatupang, pada Selasa, 8 September 2026.

Menurut Sahala, angka 158 kasus tersebut tersebar di sejumlah wilayah kecamatan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Namun, Kecamatan Tungkal Ilir mencatat jumlah kasus yang lebih banyak dibandingkan wilayah lainnya.

“Kalau untuk saat ini kasus ISPA ada 158 yang tersebar di seluruh Tanjab Barat,” kata Sahala.

Dinkes Tanjab Barat Catat 158 Kasus ISPA

Angka 158 kasus ISPA menjadi perhatian di tengah pembahasan mengenai karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Jambi.

ISPA sendiri mencakup berbagai gangguan pada saluran pernapasan. Gejalanya dapat berupa batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, hingga gangguan pernapasan dengan tingkat keparahan yang berbeda.

Meski demikian, masyarakat perlu memahami bahwa munculnya kasus ISPA tidak otomatis menunjukkan bahwa seluruh kasus tersebut berasal dari paparan asap karhutla.

Dinas Kesehatan Tanjab Barat menyampaikan bahwa angka 158 tersebut berasal dari pemantauan kesehatan rutin yang berlangsung secara berkala.

Sahala menegaskan bahwa pihaknya belum melihat perubahan jumlah kasus ISPA yang secara khusus berkaitan dengan kondisi asap.

“Tidak ada perubahan kasus ISPA, asap kita masih normal kondisinya,” ujar Sahala.

Pernyataan tersebut sekaligus memberikan gambaran bahwa Dinas Kesehatan masih memantau perkembangan penyakit pernapasan melalui data pelayanan kesehatan yang masuk dari berbagai wilayah.

Tungkal Ilir Menjadi Wilayah dengan Kasus Terbanyak

Dari data yang masuk dalam pemantauan Dinas Kesehatan Tanjab Barat, Kecamatan Tungkal Ilir menjadi wilayah dengan jumlah kasus ISPA yang relatif paling banyak.

Tungkal Ilir merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas masyarakat yang cukup tinggi. Karena itu, berbagai faktor lingkungan dan kondisi kesehatan masyarakat menjadi bagian penting dalam pemantauan Dinas Kesehatan.

Namun, tingginya jumlah kasus di satu wilayah tidak bisa langsung digunakan untuk menyimpulkan penyebab tertentu tanpa pemeriksaan dan analisis kesehatan lebih lanjut.

Dinas Kesehatan tetap melakukan pemantauan agar perubahan jumlah kasus dapat diketahui sejak awal.

Langkah tersebut penting, terutama ketika sejumlah wilayah di Provinsi Jambi menghadapi persoalan kebakaran hutan dan lahan serta potensi penurunan kualitas udara.

Data ISPA Tanjab Barat Diperbarui Setiap Dua Pekan

Sahala menjelaskan bahwa angka 158 bukan hasil pendataan satu hari. Dinas Kesehatan mengumpulkan data secara rutin melalui pemantauan kesehatan masyarakat.

Tim kesehatan melakukan pemantauan dengan periode sekitar dua pekan. Hasil pemantauan kemudian memberikan gambaran mengenai perkembangan kasus ISPA di Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Baca Juga :  Waspada Karhutla Bungo! Ratusan Hotspot Muncul, Luas Lahan Terbakar Terus Bertambah

“Pemantauan rutin dilakukan oleh tim dinas kesehatan rata-rata di angka 158 kasus setiap dua mingguan,” jelas Sahala.

Dengan pola pemantauan tersebut, angka kasus dapat berubah sesuai dengan kondisi kesehatan masyarakat dan data terbaru dari fasilitas pelayanan kesehatan.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menganggap angka 158 sebagai angka tetap sepanjang waktu.

Data tersebut merupakan gambaran dari hasil pemantauan pada periode tertentu dan Dinas Kesehatan terus memperbaruinya.

Karhutla Jambi dan Kekhawatiran terhadap Kualitas Udara

Karhutla menjadi salah satu persoalan lingkungan yang perlu mendapatkan perhatian serius, khususnya ketika kebakaran menghasilkan asap dalam jumlah besar.

Asap kebakaran dapat membawa partikel dan berbagai zat yang berpotensi mengganggu sistem pernapasan. Anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki kondisi kesehatan tertentu dapat menjadi kelompok yang lebih rentan ketika kualitas udara memburuk.

Oleh sebab itu, masyarakat perlu mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan dari pemerintah maupun instansi kesehatan.

Akan tetapi, kondisi tersebut berbeda dengan data kasus ISPA yang tercatat Dinas Kesehatan Tanjab Barat.

Sahala menyebut angka kasus yang tercatat saat ini masih berada dalam pola pemantauan rutin dan belum menunjukkan perubahan yang ia kaitkan secara khusus dengan kondisi asap.

Dengan demikian, masyarakat perlu memisahkan antara potensi risiko akibat polusi udara dengan data kasus ISPA yang tercatat dalam pelayanan kesehatan.

Apa Itu ISPA dan Apa Saja Gejalanya?

ISPA merupakan kelompok penyakit yang menyerang saluran pernapasan. Gangguan tersebut dapat mengenai bagian atas maupun bawah sistem pernapasan.

Gejala ISPA dapat berbeda pada setiap orang. Beberapa keluhan yang umum muncul antara lain:

  • Batuk.
  • Pilek atau hidung tersumbat.
  • Sakit atau terasa tidak nyaman pada tenggorokan.
  • Demam.
  • Bersin.
  • Tubuh terasa lemas.

Sesak atau kesulitan bernapas pada kondisi tertentu.

Masyarakat tidak perlu langsung panik ketika mengalami gejala ringan. Namun, seseorang perlu memperhatikan perkembangan gejala, terutama jika keluhan semakin berat atau mengganggu aktivitas sehari-hari.

Untuk keluhan yang membutuhkan pemeriksaan, masyarakat dapat mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar tenaga medis dapat menentukan penanganan yang sesuai.

Baca Juga :  Karhutla Jadi Perhatian Nasional, Wali Kota Alfin dan Wawako Azhar Perkuat Kesiapsiagaan Sungai Penuh

Cara Mengurangi Risiko Gangguan Pernapasan Saat Asap Meningkat

Ketika kebakaran hutan dan lahan menyebabkan kualitas udara menurun, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah pencegahan sederhana.

Pertama, kurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara sedang buruk. Kedua, gunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Selanjutnya, masyarakat dapat menutup pintu dan jendela ketika asap masuk ke dalam rumah. Pastikan pula sirkulasi udara di dalam ruangan tetap terkelola dengan baik.

Selain itu, masyarakat perlu memperhatikan kondisi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.

Jika muncul keluhan seperti sesak napas, nyeri dada, batuk yang semakin berat, atau kondisi kesehatan memburuk, segera cari pertolongan medis.

Langkah pencegahan menjadi semakin penting apabila kondisi kualitas udara berubah dalam waktu singkat.

Jangan Langsung Mengaitkan Semua Kasus ISPA dengan Asap

Data 158 kasus ISPA di Tanjab Barat muncul ketika isu karhutla sedang mendapat perhatian. Kondisi tersebut dapat membuat masyarakat menghubungkan kedua hal tersebut secara langsung.

Namun, hubungan sebab-akibat membutuhkan data dan analisis medis yang lebih lengkap.

ISPA dapat muncul karena berbagai faktor. Infeksi virus dan bakteri, lingkungan, perubahan cuaca, serta faktor kesehatan individu dapat berperan terhadap munculnya gangguan saluran pernapasan.

Sementara itu, asap dan polusi udara juga dapat mengiritasi saluran pernapasan serta memperburuk kondisi tertentu.

Karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti keterangan resmi dari Dinas Kesehatan dan tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan waktu terjadinya suatu peristiwa.

Dinkes Tanjab Barat Terus Memantau Perkembangan

Dinas Kesehatan Tanjung Jabung Barat tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan penyakit di tengah kondisi lingkungan yang perlu mendapat perhatian.

Pemantauan berkala memungkinkan pemerintah melihat apakah terjadi peningkatan atau penurunan kasus dari satu periode ke periode berikutnya.

Apabila angka kasus menunjukkan perubahan signifikan, data tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk mengambil langkah kesehatan masyarakat yang lebih tepat.

Karena itu, pembaruan data menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi dampak karhutla dan perubahan kualitas udara.

Masyarakat juga memiliki peran penting dengan melaporkan keluhan kesehatan melalui fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala yang mengkhawatirkan.

Masyarakat Perlu Mengikuti Informasi Resmi

Di tengah munculnya informasi mengenai karhutla, masyarakat perlu lebih selektif dalam menerima informasi mengenai kesehatan.

Informasi mengenai jumlah kasus penyakit sebaiknya berasal dari sumber resmi seperti Dinas Kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah daerah, atau tenaga medis.

Cara tersebut dapat mencegah munculnya kepanikan akibat informasi yang belum terverifikasi.

Selain itu, masyarakat dapat memantau perkembangan kualitas udara melalui sumber informasi resmi dan menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan.(*)

Berita Terkait

Karhutla Sarolangun 2026 Makin Mengkhawatirkan, 488 Hektare Lahan Terbakar dan 1.070 Hotspot Terdeteksi
Atlet Sungai Penuh Panen Medali, Wako Alfin Janjikan Beasiswa dan Penghargaan
Kabut Asap Masih Selimuti Sungai Penuh, Bunda PAUD Minta Guru dan Orang Tua Awasi Kesehatan Anak
ISPU Tanjab Timur 55, Masih Aman atau Berbahaya? Ini Penjelasan dan Imbauan Dinas Kesehatan
Pemkot Sungai Penuh Siapkan Penilaian 360 Derajat untuk PNS dan PPPK, Kinerja ASN Dipantau Lebih Transparan
Kabut Asap Makin Pekat, Kemenag Tebo Alihkan KBM ke Daring 10–12 September 2026
Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Wali Kota Alfin Ajak Masyarakat Teladani Akhlak Rasulullah
Kabut Asap Kerinci Makin Mengkhawatirkan, 54 Kasus ISPA Tercatat di RSUD: Warga Diminta Pakai Masker
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 22:01 WIB

Karhutla Sarolangun 2026 Makin Mengkhawatirkan, 488 Hektare Lahan Terbakar dan 1.070 Hotspot Terdeteksi

Kamis, 10 September 2026 - 19:01 WIB

Atlet Sungai Penuh Panen Medali, Wako Alfin Janjikan Beasiswa dan Penghargaan

Kamis, 10 September 2026 - 18:01 WIB

Kabut Asap Masih Selimuti Sungai Penuh, Bunda PAUD Minta Guru dan Orang Tua Awasi Kesehatan Anak

Kamis, 10 September 2026 - 16:31 WIB

ISPU Tanjab Timur 55, Masih Aman atau Berbahaya? Ini Penjelasan dan Imbauan Dinas Kesehatan

Kamis, 10 September 2026 - 10:50 WIB

Pemkot Sungai Penuh Siapkan Penilaian 360 Derajat untuk PNS dan PPPK, Kinerja ASN Dipantau Lebih Transparan

Berita Terbaru