JAKARTA,JS– Tekanan kembali melanda pasar saham Indonesia pada perdagangan Kamis (29/1). Pada awal sesi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 10 persen dan menyentuh level terendah di 7.481. Kondisi tersebut mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan pembekuan sementara perdagangan atau trading halt.
IHSG Tertekan Dua Hari Berturut-turut
Tekanan pasar tidak hanya muncul hari ini. Pada Rabu (28/1), IHSG juga jatuh lebih dari 8 persen hingga ke kisaran 7.600-an. Situasi itu kembali mendorong BEI menghentikan sementara perdagangan demi menjaga stabilitas pasar.
Aksi jual yang masif membuat pelaku pasar meningkatkan kewaspadaan. Sentimen global turut memperberat tekanan terhadap pergerakan indeks.
Analisis Teknikal Buka Peluang Rebound
Meski pasar masih bergejolak, peluang pembalikan arah mulai terlihat. Analisis teknikal Bloomberg menunjukkan pergerakan IHSG mendekati area support penting.
“Secara teknikal, IHSG berpotensi bangkit dari area support di kisaran 7.770,” tulis Bloomberg.
Target Penguatan Mengarah ke 8.000–8.400
Jika IHSG mampu bertahan di atas area tersebut, indeks berpeluang mencatatkan rebound. Level psikologis 8.000 menjadi target terdekat sekaligus resistance awal.
Selanjutnya, momentum positif berpotensi mendorong IHSG bergerak menuju area 8.400. Namun, pelaku pasar perlu mencermati resistance kuat berikutnya di sekitar level 8.680.
Support 7.700 Jadi Area Krusial
Dari sisi bawah, pelaku pasar perlu menjaga level 7.700 sebagai support terdekat. Jika tekanan kembali meningkat, pasar mengarah ke support berikutnya di kisaran 7.200.
Dalam skenario terburuk, tekanan lanjutan dapat membawa IHSG turun ke area 7.000 hingga 6.700. Meski demikian, semakin dalam koreksi terjadi, peluang technical rebound justru semakin besar.
Sentimen MSCI Tekan Pergerakan IHSG
Selain faktor teknikal, sentimen global turut menekan pasar. Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan kenaikan bobot saham Indonesia dalam indeks global menekan minat investor.
Situasi tersebut mendorong investor, terutama investor asing, mengambil sikap lebih berhati-hati.
Investor Pilih Strategi Wait and See
Menanggapi kondisi pasar, Senior Partner SGMC Capital, Mohit Mirpuri, menilai sentimen jangka pendek masih bergerak netral hingga negatif. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan posisi Indonesia yang masih berada dalam masa evaluasi hingga Mei mendatang.
Ia menyarankan investor menerapkan strategi wait and see sambil menunggu kepastian arah pasar.
Ketidakpastian Buka Peluang Akumulasi
Meski pasar menghadapi tekanan, Mirpuri menilai periode ketidakpastian sering menghadirkan peluang bagi investor jangka panjang. Pasar kerap bergerak lebih dulu sebelum situasi benar-benar membaik.
Karena itu, investor mulai dapat mencermati saham-saham berfundamental kuat dan melakukan akumulasi secara bertahap.
IHSG Tutup Melemah Terbatas
Pada akhir perdagangan Kamis (29/1), IHSG menutup sesi di level 8.232 atau melemah sekitar 1 persen dari pembukaan.
Sementara itu, aktivitas perdagangan mencatatkan volume sebesar 973 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp66,7 triliun.(*)









