INTERNASIONAL,JS- Perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran kembali berjalan setelah sempat terancam gagal. Iran meminta pertemuan dipindahkan dari Istanbul ke Oman, dan AS akhirnya menyetujui perubahan tersebut.
Menurut pejabat AS yang berbicara kepada media Axios, beberapa pemimpin Timur Tengah melobi pemerintahan Presiden Donald Trump agar tidak menindaklanjuti ancaman militer terhadap Iran. Setidaknya sembilan negara di kawasan mendesak Gedung Putih untuk tetap melanjutkan jalur diplomatik.
Seorang pejabat AS menyatakan, “Mereka meminta kami tetap mengadakan pertemuan dan mendengarkan apa yang dikatakan Iran. Kami menyampaikan bahwa pertemuan akan tetap dilakukan jika mereka bersikeras, meski kami tetap skeptis.”
Iran Ingin Fokus Nuklir, Bukan Isu Lain
Awalnya, AS dan Iran sepakat bertemu di Istanbul pada hari Jumat, dengan negara-negara Timur Tengah sebagai pengamat. Namun, Iran meminta pertemuan dilakukan secara bilateral di Oman agar fokus hanya pada isu nuklir dan tidak membahas program rudal.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi melalui X bahwa pertemuan akan berlangsung di Muscat pukul 10 pagi pada Jumat. Ia juga mengapresiasi Oman karena mempersiapkan semua pengaturan pertemuan.
Perundingan akan membahas tiga isu: pengayaan uranium, kemampuan rudal balistik, dan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata di kawasan.
Pemerintahan AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium di dalam negeri. Iran bersedia membatasi pengayaan hingga 20 persen. Washington juga ingin Iran mengurangi jangkauan rudal balistiknya, yang kini bisa mencapai 2.500 km, termasuk pangkalan militer AS dan Israel. Iran menegaskan rudal tersebut merupakan bagian dari pertahanan nasional.
Selain itu, AS menuntut Iran menghentikan dukungan terhadap sekutu non-negara di kawasan. Israel dan beberapa negara Arab mendukung tuntutan ini. Iran menolak klaim tersebut dan menyebut dukungan terhadap “poros perlawanan” merupakan tindakan pertahanan.
Program luar angkasa strategis Iran juga menjadi perhatian. Washington, Israel, dan beberapa negara Barat khawatir terhadap kerja sama Teheran dengan Moskow dalam bidang satelit dan komunikasi.
Teheran menekankan perundingan harus adil dan mencakup pencabutan sanksi yang telah menghancurkan perekonomian negaranya.
Sikap Presiden Trump dan AS
Presiden Trump tetap ingin mencapai kesepakatan dengan Iran.
Pejabat AS menegaskan, mereka tetap membuka jalur komunikasi meski skeptis terhadap hasil perundingan. “Kami tidak naif terhadap Iran. Jika ada perundingan yang nyata, kami akan mengikutinya, tapi tidak akan membuang waktu,” kata seorang pejabat.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menambahkan, Presiden Trump memiliki beberapa opsi untuk menghadapi Iran dan siap bertemu pihak manapun pada Jumat. Ia menekankan, setiap pertemuan harus membahas isu rudal balistik, karena membatasi pembicaraan hanya pada satu isu tidak cukup dari perspektif Washington.
Reaksi Regional dan Persiapan Israel
Beberapa negara di Timur Tengah berharap diplomasi membawa Iran dan AS mencapai kesepakatan. Di sisi lain, Israel terus menyiapkan skenario militer.
Pada Selasa, utusan Gedung Putih Steve Witkoff bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan pejabat senior pertahanan. Mereka membahas posisi Israel menjelang pertemuan dengan Iran. Netanyahu menekankan bahwa Iran tidak dapat dipercaya.
Kapal induk USS Abraham Lincoln pernah terlihat berlayar di Selat Hormuz, menunjukkan kesiapan militer AS di kawasan.(*)









