BISNIS,JS- Harga emas kembali turun ke bawah level psikologis US$5.000 per troy ounce pada Senin (16/2/2026), setelah investor memutuskan untuk mengambil untung menyusul reli tajam pekan lalu.
Emas Spot dan Comex Melemah
Data Bloomberg mencatat harga emas spot turun 1,27% menjadi US$4.979,26 per troy ounce. Sementara itu, kontrak emas Comex turun 1,04% ke level US$4.993,70 per troy ounce. Kenaikan harga emas pada Jumat lalu mencapai 2,4%, terdorong oleh data indeks harga konsumen (CPI) AS Januari yang menunjukkan inflasi moderat. Kondisi ini menurunkan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi yang lebih tinggi.
Ekspektasi Suku Bunga Membantu Harga Emas
Data CPI yang lebih landai membuat pasar memperkirakan Federal Reserve memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga. Penurunan biaya pinjaman biasanya menguntungkan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Likuiditas Tipis di Pasar Asia
Pergerakan harga juga dipengaruhi oleh libur Tahun Baru Imlek di China, sehingga pasar Asia cenderung sepi. Permintaan emas di China tetap tinggi, terutama di Shenzhen, pusat perdagangan ritel utama. Otoritas setempat menegaskan larangan aktivitas perdagangan emas ilegal, termasuk aplikasi dengan leverage dan siaran langsung daring yang mempromosikan penjualan bullion.
“Dengan sebagian pasar Asia masih libur, perdagangan emas pada awal pekan cenderung sepi. Harga bergerak dalam konsolidasi tertib,” ujar Hebe Chen, analis Vantage Markets di Melbourne.
Aksi Ambil Untung Setelah Rekor Harga
Emas sempat menembus US$5.000 per ounce pekan lalu, namun investor memanfaatkan momentum untuk merealisasikan keuntungan. Sejak rekor tertinggi di atas US$5.595 per ounce akhir Januari, harga emas sempat jatuh di bawah US$4.500 per ounce selama dua hari. Sejak itu, harga berhasil pulih sekitar setengah dari kerugian tersebut, meskipun masih berfluktuasi.
Prospek Jangka Panjang Tetap Optimistis
Beberapa bank global tetap optimistis terhadap tren jangka panjang harga emas. Mereka melihat faktor pendorong seperti ketegangan geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve, dan pergeseran minat investor dari mata uang serta obligasi pemerintah sebagai kekuatan fundamental.
ANZ Group Holdings Ltd. memperkirakan harga emas bisa menembus US$5.800 per ounce pada kuartal II/2026. “Secara struktural, emas tetap kuat. Latar belakang makroekonomi cukup mendukung, dan level dukungan teknikal tetap solid,” kata Chen.
Dengan kondisi ini, harga emas masih berpotensi melanjutkan reli beberapa bulan ke depan, meskipun investor harus tetap memperhatikan volatilitas jangka pendek.(*)









