TANJABTIM,JS- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi perhatian masyarakat di Provinsi Jambi. Kondisi tersebut mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung Timur untuk mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap bagi kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Nasrul Dirman, SKM., MKM., menyampaikan imbauan tersebut pada Rabu, 9 September 2026. Ia meminta masyarakat tidak menganggap ringan kondisi udara yang mulai terdampak asap, meskipun angka Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU Tanjab Timur masih berada dalam kategori Sedang.
Menurut data ISPU yang menjadi acuan pemerintah daerah, kualitas udara di Tanjung Jabung Timur tercatat pada angka 55. Angka tersebut masih berada dalam kategori Sedang. Namun, kondisi itu tidak berarti masyarakat boleh mengabaikan risiko paparan asap, terutama ketika aktivitas kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah Jambi.
Nasrul meminta warga tetap mengikuti perkembangan kualitas udara dan mengambil langkah perlindungan diri, khususnya ketika harus beraktivitas di luar rumah.
ISPU Tanjab Timur Berada di Angka 55
Kualitas udara menjadi salah satu indikator penting bagi masyarakat ketika kabut asap muncul. Pemerintah menggunakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) untuk memberikan gambaran mengenai kondisi udara dan potensi dampaknya terhadap kesehatan.
Di Tanjab Timur, angka ISPU tercatat 55 atau kategori Sedang. Kondisi tersebut memang belum mencapai tingkat pencemaran seperti beberapa wilayah lain di Jambi.
Kota Jambi dan Muaro Jambi, misalnya, sempat mencatat kualitas udara dalam kategori yang lebih buruk, mulai dari Tidak Sehat hingga Sangat Tidak Sehat.
Meski kondisi Tanjab Timur masih berada pada kategori Sedang, Dinas Kesehatan tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak menunggu sampai kualitas udara memburuk sebelum melakukan perlindungan diri.
Pasalnya, setiap orang memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap polusi udara. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan dan penyakit jantung membutuhkan perhatian lebih besar.
Kabut Asap Bisa Mengganggu Kesehatan
Paparan wildfire smoke atau asap kebakaran hutan dan lahan dapat membawa berbagai partikel dan zat pencemar ke udara. Ketika masyarakat menghirup udara tersebut dalam waktu tertentu, saluran pernapasan dapat mengalami iritasi.
Kondisi itu dapat memicu keluhan seperti batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, mata perih, mata berair, hingga sesak napas.
Pada masyarakat yang memiliki penyakit tertentu, paparan polusi udara juga dapat memperburuk kondisi yang sudah ada.
Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa kualitas udara bukan sekadar angka pada aplikasi atau papan informasi. Kondisi air quality secara langsung berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, terutama ketika warga menghabiskan banyak waktu di luar ruangan.
Dinas Kesehatan Tanjab Timur pun meminta masyarakat mengambil langkah sederhana tetapi penting untuk mengurangi paparan asap.
Gunakan Masker Saat Keluar Rumah
Nasrul Dirman mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika melakukan aktivitas di luar rumah.
Masker harus menutup hidung dan mulut dengan baik. Dengan begitu, masyarakat dapat mengurangi paparan langsung terhadap udara yang mengandung asap dan partikel pencemar.
Penggunaan masker menjadi semakin penting bagi warga yang harus bekerja atau menjalankan aktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.
Selain memakai masker, masyarakat juga sebaiknya memperhatikan kondisi udara sebelum bepergian. Jika kualitas udara memburuk, warga dapat mempertimbangkan untuk menunda kegiatan luar ruangan yang tidak mendesak.
Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Dinas Kesehatan juga meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar rumah ketika kondisi kabut asap meningkat.
Jika seseorang tidak memiliki keperluan mendesak, berada di dalam ruangan dapat membantu mengurangi durasi paparan asap.
Namun, warga yang tetap harus keluar rumah perlu melakukan perlindungan tambahan. Selain memakai masker, masyarakat dapat menggunakan pakaian berlengan panjang dan kacamata pelindung untuk mengurangi paparan langsung terhadap asap.
Langkah sederhana tersebut penting, terutama ketika kondisi air pollution meningkat.
Masyarakat juga perlu memperhatikan kondisi anak-anak. Orang tua sebaiknya tidak mengajak anak bermain terlalu lama di luar rumah ketika kualitas udara memburuk.
Anak-anak dan Lansia Perlu Mendapat Perhatian Lebih
Kelompok rentan membutuhkan perlindungan lebih ketat ketika kabut asap muncul.
Kelompok tersebut mencakup bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki asma, penyakit paru obstruktif kronis atau PPOK, dan penyakit jantung.
Dinas Kesehatan meminta kelompok tersebut mengurangi aktivitas di luar ruangan dan tetap berada di dalam rumah ketika kondisi udara tidak mendukung.
Orang tua juga perlu memantau kondisi anak. Jika anak mulai mengalami batuk, sesak napas, mata perih, atau keluhan lain setelah terpapar asap, orang tua sebaiknya segera mengambil tindakan.
Langkah ini penting karena anak-anak dapat mengalami dampak polusi udara dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa.
Jangan Lupakan Asupan Air dan Makanan Bergizi
Selain mengurangi paparan asap, masyarakat perlu menjaga kondisi tubuh.
Nasrul mengingatkan warga agar memperbanyak konsumsi air putih serta menjaga pola makan dengan mengonsumsi buah, sayuran, dan makanan bergizi.
Asupan yang baik membantu masyarakat menjaga kondisi tubuh selama menghadapi situasi lingkungan yang kurang ideal.
Namun, masyarakat tetap perlu memahami bahwa makanan dan minuman bergizi bukan pengganti perlindungan dari polusi udara. Warga tetap harus mengurangi paparan asap dan mengikuti informasi kualitas udara dari sumber resmi.
Dengan menggabungkan beberapa langkah perlindungan, masyarakat dapat mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat haze atau kabut asap.
Kenali Gejala yang Tidak Boleh Diabaikan
Masyarakat juga perlu mengetahui tanda-tanda gangguan kesehatan yang mungkin muncul akibat paparan asap.
Beberapa gejala yang perlu mendapat perhatian antara lain:
- Batuk yang berlangsung terus-menerus.
- Sesak atau kesulitan bernapas.
- Nyeri pada bagian dada.
- Mata terasa perih atau terus berair.
- Tenggorokan mengalami iritasi.
- Keluhan pernapasan yang semakin berat.
Jika gejala tersebut muncul atau semakin parah, masyarakat sebaiknya segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.
Warga Tanjab Timur dapat mendatangi Puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sesuai kondisi masing-masing.
Jangan menunggu sampai keluhan menjadi semakin berat, terutama bagi kelompok rentan dan masyarakat yang sebelumnya sudah memiliki masalah kesehatan.
Puskesmas Tanjab Timur Diminta Siaga
Dinas Kesehatan Kabupaten Tanjung Jabung Timur tidak hanya memberikan imbauan kepada masyarakat.
Dinas Kesehatan juga telah menginstruksikan Puskesmas untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dari respons pemerintah daerah ketika kualitas udara mengalami penurunan.
Masyarakat pun dapat berperan dengan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan yang mengganggu aktivitas atau kondisi tubuh.
Dengan demikian, fasilitas kesehatan dapat menangani kasus lebih cepat dan mencegah keluhan berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Sekolah Sempat Terapkan Pembelajaran Daring
Kabut asap juga sempat memengaruhi aktivitas pendidikan di Tanjab Timur.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur mengeluarkan surat edaran yang mengatur pelaksanaan pembelajaran secara daring selama tiga hari akibat kondisi kabut asap.
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara dapat memengaruhi berbagai aktivitas masyarakat, bukan hanya sektor kesehatan.
Setelah kondisi ISPU membaik dan berada dalam kategori Sedang, kegiatan belajar mengajar secara tatap muka kembali berjalan pada Rabu, 9 September 2026.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu memantau perubahan kualitas udara karena kondisi kabut asap dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran lahan, arah angin, dan kondisi cuaca.
Karhutla Jambi Berdampak Luas
Persoalan kabut asap tidak hanya terjadi di satu kabupaten.
Data Kementerian Kesehatan yang disebut dalam imbauan tersebut mencatat bahwa hingga 21 Agustus 2026, karhutla telah menyebar di 87 kabupaten/kota yang berada di tujuh provinsi, termasuk Provinsi Jambi.
Sekitar 3 juta jiwa tercatat menghadapi paparan langsung kabut asap.
Angka tersebut menunjukkan besarnya dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap masyarakat.
Selain menimbulkan persoalan lingkungan, karhutla juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan ketika asap menyebar ke wilayah permukiman.
Karena itu, masyarakat perlu melihat persoalan karhutla sebagai masalah bersama. Pencegahan kebakaran, pengawasan lahan, serta respons cepat terhadap titik api menjadi bagian penting untuk mengurangi dampak asap.
Warga Diminta Pantau Informasi ISPU Resmi
Nasrul Dirman mengingatkan masyarakat agar terus mengikuti perkembangan kualitas udara melalui informasi ISPU resmi.
Masyarakat tidak perlu panik. Namun, warga juga tidak boleh mengabaikan risiko ketika kualitas udara memburuk.
Informasi ISPU dapat membantu masyarakat menentukan apakah mereka perlu mengurangi aktivitas di luar rumah atau mengambil perlindungan tambahan.
Selain itu, masyarakat sebaiknya tidak mudah mempercayai informasi yang beredar tanpa sumber yang jelas. Gunakan informasi dari pemerintah dan instansi terkait sebagai acuan utama.
Kebiasaan memantau air quality juga dapat membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam menjalankan aktivitas harian.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Kabut Asap Memburuk?
Ketika kualitas udara kembali menurun, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah sederhana.
Pertama, kurangi aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak. Kedua, gunakan masker yang menutup hidung dan mulut dengan baik ketika harus keluar.
Ketiga, pastikan kebutuhan air minum tercukupi dan tetap konsumsi makanan bergizi.
Keempat, berikan perhatian khusus kepada bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung.
Kelima, segera mencari pertolongan medis jika muncul gejala seperti sesak napas, nyeri dada, atau batuk berkepanjangan.
Dengan langkah tersebut, masyarakat dapat mengurangi risiko paparan asap sambil menunggu kondisi udara kembali membaik.(*)










