JAMBI,JS- Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Provinsi Jambi mulai memberikan tekanan serius terhadap sektor pertanian, khususnya tanaman padi sawah. Hingga akhir Agustus 2026, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (TPHP) Provinsi Jambi mencatat puluhan hektare tanaman padi mengalami gagal panen atau puso akibat keterbatasan pasokan air.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena tanaman padi membutuhkan ketersediaan air yang cukup selama masa pertumbuhan. Ketika kemarau berlangsung panjang, sawah yang mengandalkan sumber air alami menghadapi risiko kerusakan yang lebih besar.
Data Dinas TPHP Provinsi Jambi menunjukkan total 53 hektare lahan padi mengalami puso. Kabupaten Batang Hari mencatat dampak puso paling luas, sedangkan wilayah lain seperti Tebo, Muaro Jambi, Sarolangun, Kota Jambi dan Tanjung Jabung Barat juga menghadapi kerusakan tanaman.
Di wilayah dataran tinggi, Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh turut menghadapi dampak kekeringan. Meski laporan yang diterima hingga akhir Agustus belum mencatat adanya tanaman padi yang mengalami puso di kedua daerah tersebut, sebagian areal persawahan sudah mengalami kerusakan ringan dan sedang.
Kekeringan Mulai Mengancam Produksi Padi Jambi
Kepala UPTD Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Dinas TPHP Provinsi Jambi, Darmawansyah, menjelaskan bahwa kondisi tersebut muncul akibat kemarau yang berlangsung di sejumlah wilayah.
Menurutnya, fenomena El Nino turut memperburuk kondisi kekeringan sehingga ketersediaan air untuk tanaman padi semakin terbatas.
Darmawansyah menyampaikan data tersebut kepada wartawan pada Jumat (11/9/2026).
“Yang terbesar berada Kabupaten Batang Hari di Kecamatan Bathin XXIV ada 11,5 hektare,” kata Darmawansyah.
Namun, persoalan kekeringan tidak hanya muncul dalam bentuk gagal panen. Ribuan hektare tanaman padi juga mengalami tingkat kerusakan yang berbeda, mulai dari rusak ringan hingga rusak berat.
Dinas TPHP mencatat kondisi tersebut berdasarkan laporan yang masuk sampai dengan akhir Agustus 2026.
Lebih dari 3.700 Hektare Padi Mengalami Kerusakan
Dari total 7.659,73 hektare tanaman padi sawah pada periode masa tanam yang masuk dalam laporan, pemerintah menemukan kerusakan pada sejumlah areal.
Rinciannya cukup besar.
Sebanyak 1.851,18 hektare mengalami kerusakan ringan. Kemudian, 1.313,18 hektare mengalami kerusakan sedang.
Selain itu, sekitar 559,47 hektare mengalami kerusakan berat. Sementara itu, sebanyak 53 hektare tanaman padi mengalami puso atau gagal panen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekeringan tidak hanya menyangkut petani yang sudah kehilangan hasil panen. Petani yang sawahnya mengalami kerusakan ringan hingga berat juga menghadapi risiko penurunan produktivitas.
Karena itu, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produksi pangan di tengah perubahan pola cuaca.
Kondisi Tanaman Padi di Kerinci
Kabupaten Kerinci menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian karena daerah ini memiliki kawasan pertanian yang cukup penting bagi produksi pangan di Jambi.
Berdasarkan laporan Dinas TPHP Provinsi Jambi, Kerinci memiliki 533,50 hektare luas tanam padi sawah yang masuk dalam data tersebut.
Dari jumlah itu, sebanyak 70,50 hektare mengalami kerusakan ringan. Kemudian, 24 hektare mengalami kerusakan sedang.
Menariknya, laporan hingga akhir Agustus 2026 belum mencatat tanaman padi di Kerinci mengalami kerusakan berat maupun puso.
Kondisi ini tentu memberikan ruang bagi pemerintah dan petani untuk melakukan langkah penyelamatan lebih awal.
Apabila pasokan air kembali tersedia, tanaman yang mengalami kerusakan ringan maupun sedang masih memiliki peluang untuk mempertahankan produktivitasnya.
Karena itu, pemantauan terhadap sumber air dan kondisi persawahan menjadi penting selama musim kemarau.
Sungai Penuh Juga Mengalami Dampak Kekeringan
Sementara itu, Kota Sungai Penuh juga masuk dalam wilayah yang mengalami dampak kekeringan pada tanaman padi.
Data Dinas TPHP Provinsi Jambi mencatat luas tanam padi sawah di Kota Sungai Penuh mencapai 464 hektare.
Dari luas tersebut, sekitar 60 hektare mengalami kerusakan ringan. Kemudian, 2 hektare mengalami kerusakan sedang.
Hingga laporan akhir Agustus 2026, pemerintah belum mencatat tanaman padi di Kota Sungai Penuh mengalami kerusakan berat maupun puso.
Data ini menunjukkan bahwa kondisi tanaman padi di Sungai Penuh relatif lebih baik dibandingkan beberapa wilayah lain di Provinsi Jambi yang sudah mencatat gagal panen.
Meski demikian, petani tetap perlu mewaspadai perkembangan cuaca.
Sebab, kekeringan yang berlangsung lebih lama dapat meningkatkan tekanan terhadap tanaman, terutama pada sawah yang tidak memiliki sumber irigasi memadai.
Batang Hari Catat Puso Terbesar
Dari seluruh wilayah yang masuk dalam laporan, Kabupaten Batang Hari mencatat dampak puso paling besar.
Kabupaten tersebut memiliki total luas tanam padi sawah mencapai 3.039,30 hektare.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 418,50 hektare mengalami kerusakan ringan, 679,90 hektare rusak sedang dan 99,40 hektare rusak berat.
Sementara itu, 23,25 hektare mengalami puso.
Data tersebut membuat Batang Hari menjadi daerah dengan tingkat puso terbesar dalam laporan Dinas TPHP Provinsi Jambi hingga akhir Agustus 2026.
Darmawansyah sebelumnya menyebut Kecamatan Bathin XXIV sebagai salah satu wilayah dengan dampak besar.
Tebo dan Muaro Jambi Juga Menghadapi Ancaman Gagal Panen
Kabupaten Tebo juga mengalami dampak cukup besar.
Dari total luas tanam 458,75 hektare, Dinas TPHP mencatat 167,75 hektare mengalami kerusakan ringan.
Kemudian, 115,5 hektare rusak sedang dan 57,50 hektare rusak berat. Sementara itu, 16,75 hektare mengalami puso.
Selanjutnya, Kabupaten Muaro Jambi memiliki luas tanam padi sawah sebesar 1.375,27 hektare.
Sebanyak 518,30 hektare mengalami kerusakan ringan, 154,50 hektare rusak sedang dan 317,54 hektare rusak berat.
Adapun tanaman padi yang mengalami puso mencapai 10 hektare.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap sektor pertanian berlangsung di beberapa kawasan sekaligus.
Daerah Lain yang Mengalami Kerusakan Padi
Selain Batang Hari, Tebo dan Muaro Jambi, sejumlah daerah lain juga melaporkan kerusakan tanaman padi.
Di Kabupaten Sarolangun, dari luas tanam 986,75 hektare, sebanyak 274,75 hektare mengalami kerusakan ringan.
Kemudian, 195,75 hektare rusak sedang, 70 hektare rusak berat dan 1 hektare mengalami puso.
Sementara itu, Kota Jambi memiliki luas tanam 141,25 hektare. Sebanyak 75,36 hektare mengalami kerusakan ringan, 18,53 hektare rusak sedang, 4 hektare rusak berat dan 2 hektare mengalami puso.
Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dari luas tanam 92 hektare, tercatat 30 hektare rusak ringan, 51 hektare rusak sedang dan 11 hektare rusak berat.
Untuk Tanjung Jabung Timur, luas tanam yang masuk laporan mencapai 49,50 hektare. Sebanyak 6 hektare mengalami kerusakan ringan.
Sampai laporan tersebut, belum ada tanaman yang tercatat mengalami kerusakan sedang, berat maupun puso di Tanjung Jabung Timur.
Kemudian, Kabupaten Merangin memiliki luas tanam 528,44 hektare. Sebanyak 230,02 hektare mengalami kerusakan ringan dan 72 hektare rusak sedang.
Pemerintah Siapkan Pompanisasi untuk Selamatkan Tanaman
Menghadapi kondisi tersebut, Dinas TPHP Provinsi Jambi menyiapkan sejumlah langkah untuk membantu petani.
Salah satu upaya yang pemerintah lakukan ialah pompanisasi.
Melalui pompa air, pemerintah berupaya mengalirkan air dari sumber yang masih tersedia menuju areal persawahan yang mengalami kekurangan air.
Darmawansyah mengatakan Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian telah melakukan upaya penanganan terhadap tanaman yang terdampak kekeringan.
“Melalui Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian sudah berupaya melakukan penanganan,” katanya.
Namun, pemerintah tidak dapat menerapkan pompanisasi pada seluruh lahan.
Ketersediaan sumber air menjadi faktor utama.
Jika sawah mengalami kekeringan ekstrem dan tidak memiliki sumber air di sekitar lokasi, pompa tidak akan memberikan solusi yang efektif.
Kekeringan Ekstrem Jadi Tantangan Terbesar
Darmawansyah menjelaskan bahwa pemerintah menghadapi kendala ketika lokasi persawahan tidak memiliki sumber air yang cukup.
“Namun untuk daerah yang mengalami kekeringan ekstrem, pemerintah tidak bisa mengambil langkah tersebut karena terkendala oleh pasokan air,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat petani harus menghadapi risiko lebih besar.
Tanaman yang masih mengalami kerusakan ringan dan sedang membutuhkan penanganan cepat. Sebaliknya, tanaman yang sudah mengalami kerusakan berat membutuhkan strategi berbeda agar kerugian petani tidak semakin besar.
Karena itu, pemerintah perlu mengutamakan wilayah yang masih memiliki peluang untuk menyelamatkan tanaman.
Petani Kerinci dan Sungai Penuh Perlu Waspada
Bagi petani di Kerinci dan Sungai Penuh, data tersebut menjadi peringatan agar tidak menganggap kondisi tanaman yang masih relatif aman sebagai tanda bahwa risiko sudah berakhir.
Kerusakan ringan pada tanaman padi dapat berkembang menjadi lebih parah apabila kekeringan terus berlangsung.
Karena itu, pemantauan sumber air, kondisi sawah dan perkembangan tanaman perlu dilakukan secara rutin.
Petani juga perlu berkoordinasi dengan pemerintah daerah maupun petugas pertanian apabila mulai menghadapi kesulitan mendapatkan air.
Langkah cepat dapat membantu mengurangi potensi kerusakan tanaman.(TIM)










