KERINCI,JS- Pemerintah Kabupaten Kerinci mulai mendorong pola budidaya nilam di bawah tegakan kulit manis sebagai strategi baru untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus membuka sumber pendapatan tambahan bagi petani.
Bupati Kerinci Monadi, S.Sos., M.Si., bersama buyer dari PT Natraco meninjau langsung lokasi uji coba budidaya nilam di wilayah Renah Pemetik, Minggu (4/10/2026).
Pengembangan tersebut menawarkan pendekatan berbeda dalam pengelolaan lahan perkebunan. Petani dapat menanam nilam di sela tanaman kulit manis tanpa harus menunggu pohon utama memasuki masa panen.
Strategi itu menjadi penting bagi petani Kerinci karena tanaman kulit manis membutuhkan waktu relatif panjang sebelum memberikan hasil. Sementara itu, nilam dapat menjadi komoditas pendamping yang memberikan peluang pendapatan lebih cepat dari lahan yang sama.
Nilam Jadi Komoditas Alternatif Petani Kerinci
Pengembangan nilam di Kerinci bukan sekadar uji coba. Sejak 2024, sebanyak 157 petani di Kabupaten Kerinci telah membudidayakan tanaman tersebut.
Data tersebut menunjukkan minat petani terhadap nilam terus tumbuh. Selain memiliki peluang pasar, tanaman nilam juga memberikan alternatif bagi masyarakat yang selama ini mengandalkan komoditas perkebunan utama.
Pola tanam di bawah tegakan kulit manis kemudian menjadi salah satu inovasi yang menarik perhatian karena menawarkan pemanfaatan ruang tumbuh secara lebih optimal.
Dengan pola tersebut, petani tidak harus mengubah seluruh kebun menjadi lahan nilam. Mereka dapat memanfaatkan area yang tersedia di antara tanaman kulit manis sesuai dengan kondisi lahan dan teknis budidaya.
Konsep itu juga dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap satu komoditas. Ketika harga atau produksi salah satu komoditas mengalami tekanan, petani masih memiliki sumber pendapatan lain dari tanaman pendamping.
Bagi wilayah yang memiliki basis perkebunan seperti Kerinci, diversifikasi semacam ini memiliki nilai strategis.
Buyer Mulai Melihat Potensi Nilam Kerinci
Kehadiran buyer PT Natraco dalam peninjauan lokasi memberikan sinyal positif bagi pengembangan pasar nilam di Kerinci.
Pasalnya, keberhasilan sebuah komoditas perkebunan tidak hanya bergantung pada kemampuan petani menghasilkan produk. Petani juga membutuhkan akses pasar yang jelas agar hasil panen dapat memberikan keuntungan yang layak.
Keterlibatan buyer dapat mempertemukan produksi petani dengan kebutuhan pasar. Kondisi tersebut membuka peluang bagi petani untuk mendapatkan akses pemasaran yang lebih terarah.
Namun, petani tetap perlu menjaga kualitas hasil panen. Pasar komoditas nilam akan mempertimbangkan kualitas bahan baku, kontinuitas produksi, serta kemampuan petani memenuhi standar yang dibutuhkan pembeli.
Karena itu, pengembangan nilam sebaiknya berjalan bersamaan dengan peningkatan kemampuan budidaya dan pascapanen.
Jika produksi meningkat tanpa menjaga kualitas, peluang pasar justru dapat menghadapi kendala. Sebaliknya, kualitas yang konsisten dapat memperkuat posisi nilam Kerinci dalam rantai perdagangan.
Menunggu Panen Kulit Manis Sambil Menghasilkan
Salah satu alasan pola tanam nilam di bawah kulit manis menarik perhatian terletak pada pemanfaatan waktu dan ruang dalam kebun.
Tanaman kulit manis membutuhkan waktu cukup panjang untuk mencapai masa panen. Selama periode tersebut, lahan tetap harus dikelola agar menghasilkan manfaat ekonomi bagi pemiliknya.
Nilam menawarkan salah satu alternatif.
Petani dapat memanfaatkan ruang di bawah tegakan kulit manis untuk menanam tanaman nilam. Dengan demikian, kebun tidak hanya mengandalkan satu komoditas utama.
Strategi tersebut juga dapat menjadi bagian dari pengelolaan kebun yang lebih produktif. Petani memiliki kesempatan memperoleh pendapatan dari komoditas pendamping sembari mempertahankan tanaman kulit manis sebagai investasi jangka panjang.
Model seperti ini semakin relevan ketika biaya produksi pertanian terus menjadi perhatian petani.
Petani membutuhkan pola usaha yang mampu memberikan pemasukan secara berkelanjutan. Karena itu, kombinasi komoditas dapat menjadi salah satu cara untuk mengelola risiko usaha perkebunan.
157 Petani Sudah Budidayakan Nilam Sejak 2024
Perkembangan nilam di Kerinci menunjukkan bahwa komoditas tersebut mulai mendapatkan tempat di kalangan petani.
Sejak 2024, sebanyak 157 petani tercatat telah membudidayakan nilam. Jumlah tersebut menjadi modal awal bagi pemerintah daerah untuk memperluas pengembangan komoditas tersebut.
Selain jumlah petani, kualitas hasil produksi juga menjadi faktor penting.
Nilam Kerinci disebut memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan produksi dari daerah lain. Kondisi itu memberikan peluang bagi Kerinci untuk membangun identitas sebagai salah satu sentra produksi nilam yang memiliki prospek ekonomi.
Akan tetapi, pengembangan sentra komoditas membutuhkan konsistensi.
Petani perlu mendapatkan pendampingan terkait teknik budidaya, pemilihan bibit, pemeliharaan tanaman, hingga proses panen dan pengolahan. Pemerintah daerah juga perlu memastikan pengembangan komoditas berjalan berdasarkan kebutuhan pasar.
Dengan begitu, peningkatan jumlah petani tidak hanya menghasilkan pertumbuhan produksi, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap pendapatan masyarakat.
Peluang Nilam Masuk Rantai Pasok Bernilai Tinggi
Nilam memiliki nilai ekonomi karena tanaman tersebut menjadi bahan baku dalam industri minyak atsiri.
Produk turunan nilam memiliki pasar yang luas dan dapat masuk ke berbagai kebutuhan industri. Kondisi tersebut membuat komoditas nilam memiliki peluang untuk berkembang apabila petani mampu menghasilkan bahan baku dengan kualitas konsisten.
Bagi Kerinci, peluang tersebut dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan ekonomi berbasis perkebunan.
Kabupaten ini memiliki kawasan pertanian dan perkebunan yang luas dengan karakteristik agroekosistem yang mendukung beragam komoditas. Karena itu, pengembangan nilam dapat berjalan berdampingan dengan komoditas unggulan lainnya.
Pemerintah daerah dapat mengarahkan pengembangan tersebut melalui peningkatan produktivitas, penguatan kelompok petani, pendampingan teknologi, serta pembukaan akses pasar.
Pada tahap berikutnya, pengembangan industri pengolahan juga dapat menjadi peluang baru.
Jika petani tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga mampu masuk ke tahap pengolahan, nilai tambah komoditas dapat meningkat. Rantai ekonomi pun berpotensi melibatkan lebih banyak masyarakat di daerah.
Diversifikasi Perkebunan Kurangi Risiko Petani
Ketergantungan terhadap satu komoditas selalu membawa risiko bagi petani. Perubahan harga, kondisi cuaca, serangan hama, hingga perubahan permintaan pasar dapat memengaruhi pendapatan.
Diversifikasi menjadi salah satu strategi untuk mengurangi risiko tersebut.
Melalui pola tanam nilam di bawah kulit manis, petani dapat mengembangkan lebih dari satu sumber pendapatan dalam satu kawasan kebun.
Strategi tersebut tentu membutuhkan perencanaan. Petani perlu menyesuaikan jarak tanam, kondisi tanah, ketersediaan air, serta kebutuhan masing-masing tanaman.
Karena itu, pemerintah dan tenaga pendamping perlu memberikan panduan teknis agar pola budidaya tersebut tidak sekadar mengejar peningkatan produksi.
Tujuan akhirnya tetap harus mengarah pada peningkatan pendapatan petani.
Tantangan Pengembangan Nilam Kerinci
Meski menawarkan peluang, pengembangan nilam juga menghadapi sejumlah tantangan.
Pertama, petani membutuhkan kepastian pasar. Buyer menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem komoditas karena petani perlu mengetahui standar produk yang mereka hasilkan.
Kedua, kualitas harus mendapatkan perhatian sejak awal budidaya. Petani perlu memahami bahwa kualitas tanaman akan menentukan daya saing produk ketika masuk ke pasar.
Ketiga, kontinuitas produksi juga menjadi faktor penting. Buyer membutuhkan pasokan yang stabil sehingga pengembangan nilam harus melibatkan petani secara lebih luas dan terorganisasi.
Keempat, pemerintah daerah perlu memastikan petani memperoleh informasi mengenai harga, permintaan pasar, teknologi budidaya, serta peluang pengolahan.
Tanpa dukungan tersebut, ekspansi komoditas berisiko berjalan tanpa arah pasar yang jelas.
Pemerintah Kerinci Dorong Pertanian Lebih Produktif
Peninjauan Bupati Kerinci Monadi bersama buyer PT Natraco di Renah Pemetik menunjukkan perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan komoditas alternatif.
Pemerintah Kabupaten Kerinci memiliki peluang untuk menjadikan nilam sebagai salah satu komoditas yang memperkuat sektor perkebunan.
Langkah tersebut dapat dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah, petani, buyer, pelaku usaha, serta lembaga pendamping.
Kolaborasi menjadi penting karena setiap pihak memiliki peran berbeda. Pemerintah dapat memberikan dukungan kebijakan dan pendampingan. Petani menjalankan produksi. Sementara itu, buyer membantu membuka akses pasar.
Jika ekosistem tersebut berjalan konsisten, pengembangan nilam tidak berhenti pada program uji coba.
Komoditas tersebut dapat berkembang menjadi usaha perkebunan yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Nilam Bisa Jadi Sumber Pendapatan Baru
Bagi petani Kerinci, pengembangan nilam di bawah kulit manis menawarkan gagasan sederhana dengan potensi ekonomi yang cukup besar.
Petani tidak hanya melihat kebun sebagai tempat menanam satu komoditas. Mereka dapat mengoptimalkan setiap ruang produktif untuk menghasilkan pendapatan.
Konsep tersebut juga sejalan dengan kebutuhan pertanian modern yang menuntut efisiensi lahan dan diversifikasi usaha.
Dengan pengelolaan yang tepat, satu kawasan kebun dapat menghasilkan beberapa manfaat ekonomi tanpa menghilangkan tanaman utama.
Kerinci sendiri memiliki modal penting berupa pengalaman petani, lahan perkebunan, serta komoditas yang sudah berkembang. Kehadiran 157 petani nilam sejak 2024 menjadi fondasi awal untuk memperluas pengembangan.
Selanjutnya, kepastian pasar dan peningkatan kualitas produksi akan menjadi kunci.
Jika pemerintah, petani, dan buyer mampu membangun kerja sama jangka panjang, nilam berpeluang menjadi salah satu komoditas yang memperkuat ekonomi perkebunan Kerinci.
Pada akhirnya, keberhasilan program tersebut tidak hanya dapat dilihat dari luas lahan atau jumlah tanaman.
Ukuran yang paling penting adalah seberapa besar komoditas tersebut mampu meningkatkan pendapatan petani, menciptakan aktivitas ekonomi baru, dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Dari sela-sela tegakan kulit manis, peluang ekonomi baru kini mulai tumbuh. Nilam dapat menjadi salah satu jalan bagi petani Kerinci untuk mengoptimalkan lahan sekaligus memperkuat sumber pendapatan keluarga.
Jika pengembangan berjalan konsisten, Kerinci tidak hanya memiliki kekuatan pada komoditas kulit manis, tetapi juga dapat membangun potensi baru melalui budidaya nilam, minyak atsiri, dan pengembangan ekonomi perkebunan bernilai tambah.(*)










