JAKARTA,JS– Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta memantau perkembangan cuaca ekstrem akibat aktivitas siklon tropis dan bibit siklon di sekitar Indonesia. Hingga pukul 19.00 WIB kemarin, BMKG mencatat satu siklon tropis aktif, Nokaen, dan dua bibit siklon, 96S dan 97S, yang berpotensi memengaruhi cuaca serta tinggi gelombang laut.
Siklon Tropis Nokaen Bergerak Menjauhi Indonesia
Siklon Tropis Nokaen terbentuk dari bibit siklon 91W pada 15 Januari 2026 di Laut Filipina utara Sulawesi Utara, tepatnya di koordinat 11.8°LU dan 127.4°BT. Saat ini, angin Nokaen bertiup hingga 40 knot (75 km/jam) dengan tekanan udara 996 hPa.
Meskipun bergerak menjauhi wilayah Indonesia ke arah barat laut, Nokaen tetap memengaruhi kondisi cuaca secara tidak langsung. BMKG memperkirakan hujan sedang hingga lebat akan melanda Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur bagian utara. Selain itu, gelombang setinggi 1,25–2,5 meter muncul di Laut Sulawesi Timur, Laut Maluku, Perairan Bitung, Sangihe-Talaud, Manokwari Utara, Raja Ampat Utara, Biak Utara, Serui, dan Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua.
Bibit Siklon 96S Terpantau di Selatan Jawa Timur
Bibit siklon 96S muncul pada 14 Januari 2026 di Samudra Hindia selatan Jawa Timur (16.0°LS, 111.9°BT) dengan kecepatan angin 25 knot (46 km/jam) dan tekanan udara 1.000 hPa. BMKG menilai peluang bibit ini berkembang menjadi siklon tropis rendah.
Meski begitu, gelombang tinggi tetap mungkin terjadi. Gelombang setinggi 1,25–2,5 meter berpotensi terjadi di Selat Bali, Lombok, Sumba, dan Samudra Hindia selatan Jawa hingga NTB.
Bibit Siklon 97S Muncul Dekat Australia
Bibit siklon 97S terbentuk pada 16 Januari 2026 di daratan Australia barat daya Teluk Carpentaria (16.0°LS, 131.9°BT). Angin maksimum mencapai 15 knot (28 km/jam) dengan tekanan minimum 998 hPa. Potensi bibit ini menjadi siklon tropis juga rendah.
Dampak tidak langsung tetap signifikan. BMKG memprediksi hujan sedang hingga lebat di NTB bagian timur, NTT, dan Maluku bagian selatan. Sementara itu, gelombang laut berpotensi mencapai:
-
1,25–2,5 meter di Laut Sawu dan Laut Arafuru bagian tengah & timur
-
2,5–4 meter di Laut Banda selatan, Perairan Kepulauan Babar & Tanimbar, Kepulauan Kei & Aru, Perairan Kupang, Samudra Hindia selatan NTT, dan Laut Arafuru bagian barat
Imbauan BMKG
BMKG meminta masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir untuk tetap waspada terhadap hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi. Pelaku pelayaran, nelayan, dan pengguna transportasi laut diimbau memantau informasi cuaca secara rutin agar tetap aman saat beraktivitas di laut.(TIM)









