TEKNOLOGI,JS- Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi yang dulu hanya digunakan di laboratorium penelitian kini hadir di ponsel, media sosial, hingga ruang kelas. Namun di balik kemajuan tersebut, muncul berbagai tren internet yang terkadang terasa aneh, bahkan tidak masuk akal.
Salah satu contohnya adalah video yang menampilkan chatbot AI diminta menghitung dari satu hingga satu juta. Konten sederhana itu justru menarik ratusan ribu penonton di internet.
Sekilas, tren tersebut hanya terlihat sebagai hiburan ringan. Namun sebenarnya, di balik tontonan singkat itu terdapat sistem komputasi besar yang bekerja tanpa henti dan mengonsumsi energi dalam jumlah tidak sedikit.
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi AI berlangsung sangat cepat. Berbagai platform seperti ChatGPT dan Google Gemini membuat teknologi ini semakin mudah diakses oleh masyarakat luas.
Kini, AI tidak lagi menjadi alat eksklusif perusahaan teknologi besar. Banyak orang memanfaatkannya untuk membantu pekerjaan, merangkum informasi, belajar bahasa baru, hingga mencari inspirasi kreatif.
Selain itu, berbagai sektor juga mulai memanfaatkan AI secara produktif. Dokter, misalnya, dapat menggunakan AI untuk membantu menganalisis data medis secara lebih cepat. Di sisi lain, pelaku bisnis memanfaatkan teknologi ini untuk membaca tren pasar. Sementara itu, siswa dan mahasiswa menggunakan AI untuk memahami materi pelajaran dengan cara yang lebih interaktif.
Dengan kata lain, AI mampu meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas akses pengetahuan bagi banyak orang.
Konten AI Absurd yang Mudah Viral
Salah satu tren yang sempat viral adalah fenomena “Italian brainrot” yang menampilkan karakter-karakter absurd dan tidak masuk akal.
Beberapa konten menampilkan karakter aneh seperti “tung tung tung sahur” atau animasi balerina dengan kepala berbentuk cangkir cappuccino.
Memang, konten seperti ini mampu menghibur dan memicu rasa penasaran. Akan tetapi, hiburan tersebut biasanya hanya bertahan sebentar. Setelah menonton satu video, pengguna segera berpindah ke tren berikutnya.
Akibatnya, pola konsumsi internet semakin cepat dan dangkal. Pengguna terus berpindah dari satu stimulus ke stimulus lain tanpa sempat melakukan refleksi.
Infrastruktur AI yang Sangat Besar
Di balik kemudahan penggunaan AI, terdapat infrastruktur teknologi yang sangat besar. Sistem AI sebenarnya tidak berjalan di perangkat pengguna, melainkan di pusat data raksasa yang beroperasi selama 24 jam setiap hari.
Sebagai gambaran, pusat data AI milik Microsoft di Wisconsin memiliki luas sekitar 127 hektare.
Server-server dalam pusat data tersebut memproses permintaan pengguna dari seluruh dunia. Karena itu, sistem ini membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar agar dapat terus beroperasi.
Sebagian energi yang digunakan masih berasal dari bahan bakar fosil. Oleh karena itu, peningkatan penggunaan AI juga berpotensi meningkatkan jejak karbon dari aktivitas digital.
Kebutuhan Energi yang Tidak Sedikit
Selain infrastruktur yang besar, sistem AI juga membutuhkan energi yang tinggi untuk memproses setiap permintaan pengguna.
Menurut laporan dari United Nations Environment Programme tahun 2025, energi yang dibutuhkan untuk menjawab satu permintaan AI yang kompleks dapat jauh lebih besar dibandingkan pencarian sederhana di mesin pencari.
Artinya, permintaan yang terlihat sederhana di layar ponsel sebenarnya memicu proses komputasi yang cukup berat di pusat data.
Konsumsi Air untuk Mendinginkan Server
Selain listrik, pusat data AI juga membutuhkan air dalam jumlah sangat besar. Operator pusat data menggunakan air untuk mendinginkan server agar mesin tetap bekerja stabil.
Beberapa analisis bahkan menunjukkan bahwa konsumsi air infrastruktur AI bisa mencapai skala yang sangat besar. Dalam sejumlah perkiraan, penggunaannya bahkan disebut dapat mencapai beberapa kali lipat konsumsi air negara seperti Denmark yang memiliki populasi sekitar enam juta orang.
Kontras ini terasa cukup ironis. Di satu sisi, jutaan orang di berbagai wilayah dunia masih kesulitan mendapatkan akses air bersih. Namun di sisi lain, sistem digital raksasa menggunakan air dalam jumlah besar untuk menjaga server tetap dingin.
Dalam skala individu, satu permintaan ke AI memang terlihat kecil. Namun ketika miliaran permintaan dilakukan setiap hari, konsumsi energi dan sumber daya tersebut menjadi sangat besar.
Ironisnya, sebagian penggunaan AI justru digunakan untuk menghasilkan konten hiburan yang hanya bertahan beberapa detik di layar ponsel.
Pengguna menonton sebentar, tertawa sejenak, lalu langsung beralih ke konten berikutnya.
Kesadaran Digital yang Masih Rendah
Meski demikian, banyak orang masih menanggapinya dengan candaan atau sikap meremehkan.
Budaya internet yang mengutamakan hiburan cepat membuat dampak jangka panjang terasa jauh dan abstrak. Karena tidak terlihat secara langsung, banyak orang merasa tidak perlu memikirkannya.
Padahal, jika jutaan orang memiliki pola konsumsi yang sama, konsekuensinya bisa menjadi sangat besar bagi lingkungan.
Menggunakan AI Secara Lebih Bertanggung Jawab
Pada akhirnya, AI merupakan salah satu inovasi teknologi terbesar di abad ini. Namun kemajuan teknologi juga membutuhkan kesadaran dalam penggunaannya.
AI pada dasarnya hanyalah alat. Teknologi ini tidak pernah memaksa siapa pun untuk membuat konten absurd atau mengikuti tren yang tidak bermakna.
Sebaliknya, pengguna memiliki kendali penuh atas cara memanfaatkan teknologi tersebut. AI dapat digunakan untuk belajar, bekerja, dan memecahkan berbagai masalah nyata.
Karena itu, masyarakat dapat mulai dari langkah sederhana. Misalnya menggunakan AI ketika benar-benar membantu produktivitas atau pembelajaran. Selain itu, pengguna juga dapat lebih selektif dalam mengonsumsi konten AI yang hanya bersifat tren sementara.(*)








