Akuisisi Menggila, Investor Bersiap Hadapi Arah Baru Emiten

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 26 Februari 2026 - 07:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah emiten yang tercatat di bursa efek tengah memasuki babak baru seiring terjadinya pergantian pemegang saham pengendali di tahun 2026.

Sejumlah emiten yang tercatat di bursa efek tengah memasuki babak baru seiring terjadinya pergantian pemegang saham pengendali di tahun 2026.

BISNIS,JS- Pasar modal Indonesia memasuki fase konsolidasi baru sepanjang 2026. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia berganti pemegang saham pengendali. Aksi ini menandai pergeseran strategi investor dalam mempercepat ekspansi bisnis.

Pergantian pengendali tak sekadar perubahan kepemilikan. Lebih dari itu, langkah ini kerap menjadi pintu masuk transformasi model usaha, restrukturisasi operasional, hingga reposisi sektor bisnis.

BLUE Jadi Target Akuisisi Investor Tambang Hong Kong

Pertama, PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) mengumumkan rencana pengambilalihan oleh Dragonmine Mining yang berbasis di Hong Kong.

Baca Juga :  OJK Siapkan Notasi Khusus untuk Emiten dengan Free Float Rendah

Perusahaan tersebut akan mengakuisisi 80% saham BLUE. Kedua pihak menandatangani Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) pada 18 Februari 2026. Transaksi ini membuka ruang perubahan arah bisnis BLUE ke depan, meski detail strategi masih menunggu pengungkapan lanjutan.

MGLV Masuk Radar Ekonomi Digital

Selanjutnya, PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) resmi berganti pengendali. Sebanyak 78,74% saham emiten ini kini berada di bawah kendali PT Nextier Datamate Center.

Masuknya pemain pusat data langsung memicu spekulasi pasar. Investor menilai MGLV berpotensi bertransformasi ke bisnis berbasis ekonomi digital, seiring meningkatnya kebutuhan cloud, AI, dan infrastruktur data nasional.

ASLI Perkuat Arah ke Infrastruktur Strategis

Perubahan signifikan juga terjadi pada PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI). Perusahaan konstruksi ini kini dikendalikan PT Wahana Konstruksi Mandiri (WKM) setelah menguasai 62,72% saham.

Seiring masuknya pengendali baru, ASLI langsung menajamkan fokus bisnis ke proyek infrastruktur transportasi berskala nasional.

Direktur ASLI, Yudra Saputra, menegaskan manajemen telah menyiapkan peta jalan yang lebih terukur.

Baca Juga :  Dividen Jumbo Emiten Blue Chip Belum Mampu Tahan Outflow Asing

“Kami memperkuat kompetensi inti di sektor konstruksi infrastruktur strategis seperti jalan, jembatan, bandara, dan fasilitas logistik nasional,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).

Menurut Yudra, WKM mendorong ASLI agar aktif membidik proyek bandara serta konektivitas transportasi nasional.

INET Akuisisi PADA, Sinergi Digital Menguat

Sementara itu, PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) menuntaskan akuisisi 53,57% saham PT Personel Alih Daya (PADA), yang sebelumnya dimiliki Koperasi Pegawai ISAT.

Akuisisi ini dinilai sejalan dengan strategi penguatan ekosistem infrastruktur digital dan jaringan. Pasar melihat peluang sinergi langsung, khususnya melalui ekspansi layanan konektivitas dan monetisasi jaringan.

AYLS dan VISI Masih Tunggu Kejelasan Roadmap

Di sisi lain, PT Bintang Cahaya Investment resmi mengambil alih PT Agro Yasa Lestari Tbk (AYLS) melalui pembelian 69,69% saham dari PT Anugrah Cakrawala Dunia.

Adapun Chief Executive Officer RANS, Nagita Slavina, dikabarkan tengah menjajaki negosiasi untuk menjadi pengendali PT Satu Visi Putra Tbk (VISI). Namun hingga kini, pasar masih menunggu kejelasan strategi bisnis pasca-akuisisi.

Analis: Akuisisi Lebih Efisien dari Bangun Bisnis Baru

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai akuisisi emiten terbuka memberikan keunggulan signifikan dibandingkan greenfield investment.

Baca Juga :  BBCA Tertinggal, Saham Bank BUMN Jadi Rebutan Investor

Menurut Alrich, akuisisi menawarkan:

  • akses cepat ke pasar modal,
  • efisiensi waktu dan regulasi,
  • platform ekspansi bisnis lintas sektor,
  • serta peluang market re-rating.

“Pergantian pengendali sering menjadi titik balik emiten karena diikuti perubahan arah bisnis, restrukturisasi, dan injeksi modal,” ujar Alrich kepada Kontan, Selasa (24/2/2026).

Meski begitu, ia mengingatkan investor agar tidak berharap hasil instan. Realisasi kinerja umumnya baru terlihat dalam 1 hingga 3 tahun, tergantung eksekusi manajemen.

Saham INET Masih Berpeluang Rebound

Dari sisi teknikal, Alrich menilai INET tengah menguji MA 20 di kisaran Rp 386–Rp 390 per saham.

“Selama harga bertahan di atas area itu, peluang rebound tetap terbuka. Golden cross pada MACD mendukung skenario penguatan,” jelasnya.

Ia merekomendasikan entry di Rp 386, target jangka pendek Rp 438, target jangka panjang Rp 500, serta stop loss di bawah Rp 374 per saham.

Menutup analisisnya, Alrich mengingatkan investor agar disiplin mengelola risiko. Menurutnya, euforia akuisisi kerap memicu reli spekulatif jangka pendek, sehingga keputusan investasi tetap harus berbasis fundamental dan strategi yang jelas.

Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)

Berita Terkait

Ekspansi Alfamart Terancam? Ini Dampak Wacana Larangan Minimarket ke Desa
BBCA Tertinggal, Saham Bank BUMN Jadi Rebutan Investor
Investor Domestik Menguat, Saham Bank Jumbo Tetap Solid
Jadwal Berubah! Penukaran Uang Lebaran Dibuka Lebih Cepat
Catat Lokasi ATM pecahan Rp10 ribu dan Rp20 ribu Bank Mandiri
Tak Perlu Jago Analisis, Ini Cara Mudah Menilai Saham yang Layak Dibeli
Harga Emas Perhiasan 24 Februari 2026 Melonjak, Cek Daftarnya
BRPT Didepak, Berikut Rekomendasi Saham Top Picks Mirae
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 26 Februari 2026 - 07:30 WIB

Akuisisi Menggila, Investor Bersiap Hadapi Arah Baru Emiten

Rabu, 25 Februari 2026 - 23:00 WIB

Ekspansi Alfamart Terancam? Ini Dampak Wacana Larangan Minimarket ke Desa

Rabu, 25 Februari 2026 - 16:00 WIB

BBCA Tertinggal, Saham Bank BUMN Jadi Rebutan Investor

Rabu, 25 Februari 2026 - 11:00 WIB

Investor Domestik Menguat, Saham Bank Jumbo Tetap Solid

Rabu, 25 Februari 2026 - 06:00 WIB

Jadwal Berubah! Penukaran Uang Lebaran Dibuka Lebih Cepat

Berita Terbaru

Fitur baru whatsapp akan segera dirilis, kirim pesan di WhatsApp bisa dijadwal.

Teknologi

WhatsApp Siapkan Fitur “Ditunda”, Pesan Bisa Kirim Sendiri

Kamis, 26 Feb 2026 - 09:00 WIB

Ilustrasi, PNS dan PPPK akan dihapus diganti ASN

Nasional

Aturan Baru; PNS DAN PPPK Dihapus, Ini Gantinya

Kamis, 26 Feb 2026 - 08:30 WIB