INTERNASIONAL,JS– Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menghadapi tekanan besar dari Amerika Serikat (AS) untuk menyerahkan wilayah strategis Ukraina. Tekanan ini terkait inisiatif perdamaian yang digagas pemerintahan Donald Trump, menurut Axios dan pejabat Ukraina, Senin (9/12/2025).
Pejabat Ukraina menyatakan AS mendorong Kyiv menerima konsesi besar, termasuk wilayah di Donbas dan pengelolaan pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia. Menurut pejabat tersebut, “Ada banyak hal penting terkait wilayah yang perlu dibahas: siapa menguasai apa, siapa tinggal di mana, siapa mundur, dan bagaimana memastikan Rusia juga mundur.”
Tekanan AS dan Pertemuan Moskow
Selain itu, rencana perdamaian menjadi lebih rumit setelah utusan Trump, Steven Witkoff, dan Jared Kushner, mengunjungi Moskow dan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin selama lima jam. Pejabat AS menyebut mereka juga menekan Putin agar melonggarkan tuntutannya.
Kemudian, AS mengirim versi terbaru rencana perdamaian ke Ukraina pada Jumat lalu. Zelenskyy mengaku tidak sempat membacanya sebelum melakukan panggilan telepon dengan Witkoff dan Kushner pada Sabtu. Oleh karena itu, Kyiv menilai kedua utusan AS menuntut jawaban “ya” dari Zelenskyy setelah pertemuan tiga hari di Miami.
Tidak Ada Terobosan Wilayah atau Jaminan Keamanan
Pejabat Ukraina dan AS menyebut negosiasi belum menghasilkan terobosan signifikan terkait wilayah atau jaminan keamanan. Sementara itu, Trump mengklaim tim negosiator Zelenskyy “menyukai” rencana AS, tetapi Rusia menolak beberapa poin dalam rencana itu.
Reaksi Eropa dan Politik Dalam Negeri
AS menilai kunjungan Zelenskyy ke London untuk bertemu pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman sebagai upaya mengulur waktu. Akibatnya, Washington menganggap hal ini melemahkan tekanan terhadap Kyiv dan menghambat proses perdamaian.
Sekutu Eropa mendorong Ukraina bersabar dan berhati-hati. Namun demikian, AS menilai sikap ini menghalangi tercapainya kesepakatan damai dengan cepat.
Tantangan dan Implikasi
Jika Ukraina menyerahkan wilayah strategis tanpa jaminan keamanan yang kuat, peta geopolitik regional bisa berubah. Lebih jauh lagi, Kyiv akan menjadi lebih rentan terhadap agresi di masa depan.
Ukraina menegaskan mereka belum bersedia mengorbankan wilayahnya. Sebagai langkah selanjutnya, mereka menyiapkan counter-proposal terhadap rencana perdamaian AS.(AN)









