JAMBI,JS- Ancaman banjir rob kembali menghantui wilayah pesisir Provinsi Jambi. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kenaikan air laut yang bisa memicu genangan di sejumlah daerah pesisir.
Selain itu periode 23 hingga 26 Maret 2026 bertepatan dengan momentum libur Lebaran. Karena itu kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat secara luas.
Fenomena Alam Picu Lonjakan Air Laut
Pertama BMKG mengidentifikasi faktor utama penyebab banjir rob. Fenomena fase bulan baru bertemu dengan kondisi perigee saat jarak bulan berada paling dekat dengan bumi.
Akibatnya gaya tarik gravitasi meningkat dan langsung mendorong kenaikan permukaan air laut.
Selain itu angin kencang dan tekanan udara rendah ikut memperparah kondisi di wilayah pesisir. Karena kombinasi tersebut risiko banjir rob meningkat secara signifikan dalam beberapa hari ke depan.
Wilayah Pesisir Jadi Titik Paling Rentan
Selanjutnya pemerintah memetakan daerah yang berisiko tinggi. Wilayah pesisir timur Jambi masuk dalam kategori rawan.
Fokus utama berada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Kedua wilayah ini memiliki dataran rendah serta garis pantai panjang. Oleh sebab itu air laut lebih mudah meluap ke daratan.
Bahkan di beberapa titik air berpotensi masuk ke permukiman warga dan mengganggu akses jalan utama.
Waktu Kritis yang Harus Diwaspadai
Sementara itu masyarakat perlu memahami waktu terjadinya banjir rob. Air laut biasanya mencapai puncak pasang pada pagi hari serta malam hingga dini hari.
Karena itu warga harus meningkatkan kewaspadaan pada jam jam tersebut.
Jika air laut naik, genangan bisa muncul dengan cepat dan langsung mengganggu aktivitas harian.
Dampak Banjir Rob Semakin Meluas
Di sisi lain banjir rob tidak hanya menimbulkan genangan ringan. Dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor kehidupan masyarakat.
- Pertama air laut bisa menggenangi rumah warga terutama di dataran rendah.
- Kemudian genangan air bisa menghambat akses jalan sehingga mobilitas masyarakat terganggu.
- Selain itu nelayan menghadapi risiko tinggi saat melaut akibat kondisi laut yang tidak stabil.
- Bahkan tekanan air laut bisa merusak infrastruktur seperti drainase jalan dan fasilitas umum.
Pemerintah Tingkatkan Kesiapsiagaan
Sebagai respons pemerintah daerah langsung bergerak cepat. Pemerintah menyebarkan peringatan dini ke masyarakat pesisir agar mereka segera bersiap.
Selain itu pemerintah menyiagakan alat berat dan pompa air di titik rawan untuk mempercepat penanganan.
Kemudian pemerintah terus memantau kondisi cuaca dan pasang air laut melalui koordinasi intensif dengan BMKG.
Tidak hanya itu pemerintah juga mengaktifkan posko siaga bencana agar petugas bisa merespons situasi darurat dengan cepat.
Langkah Penting yang Harus Dilakukan Warga
Oleh karena itu masyarakat perlu mengambil langkah antisipasi sejak dini.
- Pertama warga harus memindahkan barang berharga ke tempat yang lebih tinggi.
- Selanjutnya warga sebaiknya menghindari aktivitas di pesisir saat air laut pasang.
- Kemudian warga perlu memastikan saluran air tetap lancar agar genangan tidak semakin parah.
- Selain itu masyarakat perlu menyiapkan perlengkapan darurat seperti senter dan obat obatan.
- Terakhir warga harus rutin memantau informasi resmi dari BMKG agar tidak ketinggalan update terbaru.
Momentum Lebaran Perbesar Risiko
Di sisi lain momentum Lebaran meningkatkan aktivitas masyarakat secara signifikan.
Banyak warga melakukan perjalanan mudik dan berkumpul bersama keluarga. Namun kondisi ini justru meningkatkan risiko ketika banjir rob terjadi.
Karena itu pemerintah mengingatkan masyarakat agar tetap waspada meskipun sedang menikmati liburan.(*)









