BISNIS,JS- Penyedia indeks saham global S&P Dow Jones Indices memastikan akan melanjutkan penyeimbangan ulang (rebalance) kuartalan untuk saham Indonesia pada Maret 2026. Keputusan ini berbeda dengan langkah MSCI dan FTSE Russell, yang menunda peninjauan awal tahun untuk pasar saham Tanah Air.
S&P Pantau Transparansi, Jalankan Rebalancing Sesuai Prosedur
S&P menyatakan mereka terus memantau perkembangan terkait transparansi kepemilikan saham di Indonesia. Rebalancing mendatang akan dilakukan sesuai prosedur standar dan metodologi yang berlaku saat ini. Langkah ini menunjukkan optimisme S&P terhadap kemajuan pasar Indonesia, meski risiko dan tantangan tetap ada.
MSCI dan FTSE Russell Tingkatkan Pengawasan
Sementara itu, MSCI dan FTSE Russell meningkatkan pengawasan menyusul kekhawatiran tentang konsentrasi kepemilikan saham dan keterbatasan transparansi. Penangguhan sementara MSCI, yang kemudian diikuti FTSE Russell, sempat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga mengalami penurunan terparah sejak krisis 1998.
MSCI menekankan bahwa jumlah free float saham publik terlihat lebih besar daripada yang sebenarnya tersedia di pasar. Gejolak ini bahkan mendorong sejumlah pimpinan di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mundur dari jabatannya.
Tekanan untuk Pulihkan Kredibilitas Pasar
Saat ini, regulator menghadapi tekanan untuk memulihkan kepercayaan investor, terutama setelah MSCI memperingatkan Indonesia berisiko diturunkan statusnya menjadi pasar frontier. Investor juga menyoroti potensi penurunan peringkat utang negara yang semakin menekan sentimen pasar.
Analis Aletheia Capital, Nirgunan Tiruchelvam, menilai keputusan S&P menunjukkan bahwa otoritas Indonesia mulai memenuhi tuntutan penyedia indeks.
“Harapannya, regulator akan terus menuntaskan kekhawatiran terkait struktur kepemilikan yang tidak transparan dan memperbaiki free float secara cepat,” kata Tiruchelvam, dikutip Bloomberg, Senin (16/2/2026).
FTSE Russell Tunda Peninjauan Hingga Juni
Pekan lalu, FTSE Russell menunda peninjauan indeks Indonesia pada Maret karena risiko perputaran saham (turnover) yang tinggi dan ketidakpastian terkait porsi saham publik. Mereka akan mengevaluasi kembali situasi pada Juni.
Indonesia Janji Reformasi untuk Tingkatkan Likuiditas
Sejak gejolak pasar bulan lalu, pemerintah dan regulator berjanji melakukan reformasi untuk meningkatkan transparansi dan likuiditas. Upaya ini mencakup:
- Menambah persyaratan minimum free float menjadi 15%
- Mengetatkan standar keterbukaan informasi
- Melakukan perubahan kepemimpinan di BEI dan OJK
Langkah-langkah ini bertujuan memperkuat kredibilitas pasar dan menarik kembali kepercayaan investor, sekaligus memastikan indeks saham Indonesia tetap menarik bagi penyedia indeks global.
Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)









