Berbeda dari MSCI dan FTSE, S&P Justru Rebalance Saham RI!

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 17 Februari 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

S&P Dow Jones Indices.

S&P Dow Jones Indices.

BISNIS,JS- Penyedia indeks saham global S&P Dow Jones Indices memastikan akan melanjutkan penyeimbangan ulang (rebalance) kuartalan untuk saham Indonesia pada Maret 2026. Keputusan ini berbeda dengan langkah MSCI dan FTSE Russell, yang menunda peninjauan awal tahun untuk pasar saham Tanah Air.

S&P Pantau Transparansi, Jalankan Rebalancing Sesuai Prosedur

S&P menyatakan mereka terus memantau perkembangan terkait transparansi kepemilikan saham di Indonesia. Rebalancing mendatang akan dilakukan sesuai prosedur standar dan metodologi yang berlaku saat ini. Langkah ini menunjukkan optimisme S&P terhadap kemajuan pasar Indonesia, meski risiko dan tantangan tetap ada.

Baca Juga :  Imlek & Ramadan Dekat, Sektor Saham Ini Diprediksi Naik!

MSCI dan FTSE Russell Tingkatkan Pengawasan

Sementara itu, MSCI dan FTSE Russell meningkatkan pengawasan menyusul kekhawatiran tentang konsentrasi kepemilikan saham dan keterbatasan transparansi. Penangguhan sementara MSCI, yang kemudian diikuti FTSE Russell, sempat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga mengalami penurunan terparah sejak krisis 1998.

MSCI menekankan bahwa jumlah free float saham publik terlihat lebih besar daripada yang sebenarnya tersedia di pasar. Gejolak ini bahkan mendorong sejumlah pimpinan di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) mundur dari jabatannya.

Tekanan untuk Pulihkan Kredibilitas Pasar

Saat ini, regulator menghadapi tekanan untuk memulihkan kepercayaan investor, terutama setelah MSCI memperingatkan Indonesia berisiko diturunkan statusnya menjadi pasar frontier. Investor juga menyoroti potensi penurunan peringkat utang negara yang semakin menekan sentimen pasar.

Analis Aletheia Capital, Nirgunan Tiruchelvam, menilai keputusan S&P menunjukkan bahwa otoritas Indonesia mulai memenuhi tuntutan penyedia indeks.

Baca Juga :  Masyarakat Kalteng Doyan Saham: Transaksi Rp 10,6 Triliun!

“Harapannya, regulator akan terus menuntaskan kekhawatiran terkait struktur kepemilikan yang tidak transparan dan memperbaiki free float secara cepat,” kata Tiruchelvam, dikutip Bloomberg, Senin (16/2/2026).

FTSE Russell Tunda Peninjauan Hingga Juni

Pekan lalu, FTSE Russell menunda peninjauan indeks Indonesia pada Maret karena risiko perputaran saham (turnover) yang tinggi dan ketidakpastian terkait porsi saham publik. Mereka akan mengevaluasi kembali situasi pada Juni.

Indonesia Janji Reformasi untuk Tingkatkan Likuiditas

Sejak gejolak pasar bulan lalu, pemerintah dan regulator berjanji melakukan reformasi untuk meningkatkan transparansi dan likuiditas. Upaya ini mencakup:

Baca Juga :  Sumbar Kejar Lonjakan Energi Terbarukan, METI Didorong Tarik Investor
  • Menambah persyaratan minimum free float menjadi 15%
  • Mengetatkan standar keterbukaan informasi
  • Melakukan perubahan kepemimpinan di BEI dan OJK

Langkah-langkah ini bertujuan memperkuat kredibilitas pasar dan menarik kembali kepercayaan investor, sekaligus memastikan indeks saham Indonesia tetap menarik bagi penyedia indeks global.

Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)

Berita Terkait

Prediksi Gold Price 2026 Tembus US$6.000: Ini Strategi Profit Maksimal
Strategi Investasi Jangka Panjang 2026: Cara Cerdas Raih Kebebasan Finansial
Panduan Investasi Logam Mulia Selain Emas 2026: Lengkap dan Praktis untuk Pemula
IHSG Meledak ke 7.184! Saham IMPC Terbang 21%, Ini Daftar Saham Cuan Hari Ini
Pinjaman Online vs Bank 2026: Mana Lebih Untung? Ini Perbandingan Bunga yang Bikin Kaget!
Jangan Sampai Salah! Ini Asuransi Kesehatan Terbaik 2026 dengan Premi Murah & Manfaat Besar
Kredit Murah 6% dari Koperasi Merah Putih Jadi Solusi!, Tekan Pinjol
Laba Bank Mega Melejit 28% ke Rp 3,36 Triliun di 2025, Strategi 2026 Jadi Sorotan Investor
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 3 April 2026 - 18:00 WIB

Prediksi Gold Price 2026 Tembus US$6.000: Ini Strategi Profit Maksimal

Jumat, 3 April 2026 - 11:00 WIB

Strategi Investasi Jangka Panjang 2026: Cara Cerdas Raih Kebebasan Finansial

Kamis, 2 April 2026 - 23:00 WIB

Panduan Investasi Logam Mulia Selain Emas 2026: Lengkap dan Praktis untuk Pemula

Kamis, 2 April 2026 - 13:00 WIB

IHSG Meledak ke 7.184! Saham IMPC Terbang 21%, Ini Daftar Saham Cuan Hari Ini

Rabu, 1 April 2026 - 23:00 WIB

Pinjaman Online vs Bank 2026: Mana Lebih Untung? Ini Perbandingan Bunga yang Bikin Kaget!

Berita Terbaru

Fakta Guru PPPK Paruh waktu

Nasional

Terbaru, 3 Fakta Penting tentang Guru PPPK Paruh Waktu

Jumat, 3 Apr 2026 - 13:00 WIB