KESEHATAN,JS– Kasus superflu kembali menyita perhatian publik setelah seorang pasien dengan penyakit penyerta (komorbid) meninggal dunia di Bandung. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menjelaskan bahwa kematian pasien tidak murni disebabkan virus, melainkan oleh adanya komorbid yang memengaruhi kondisi tubuh.
Komorbid Bisa Perberat Risiko
Dr. Ari Baskoro, pengajar Divisi Alergi-Imunologi Klinik FK Unair Surabaya, menekankan bahwa kasus ini menjadi pelajaran penting bagi masyarakat. Ia menjelaskan, superflu biasanya merupakan penyakit musiman yang bisa sembuh sendiri, tetapi orang dengan sistem imun lemah menghadapi risiko komplikasi serius.
“Komorbid yang sebelumnya stabil bisa memperberat kondisi saat tubuh terinfeksi virus,” ujarnya. Ia menambahkan, lansia di atas 65 tahun dan balita harus lebih waspada. Lansia mengalami kemunduran fungsi imun, sementara imun balita belum berkembang sempurna.
Pencegahan: Vaksinasi dan Hidup Sehat
Dr. Ari menekankan, masyarakat harus fokus pada pencegahan. Ia menyarankan vaksinasi dan hidup bersih serta sehat sebagai langkah utama, sama seperti prinsip pencegahan Covid-19. Vaksin influenza membantu melatih sistem imun. Dua minggu setelah vaksinasi, tubuh mampu mengenali dan menanggulangi virus secara lebih efektif.
Superflu tipe Influenza A (H3n2) Subclade K sudah menyebar di 80 negara, termasuk Indonesia. Para ahli memperkirakan penyebaran akan melandai hingga Februari 2026. Berdasarkan pola epidemiologi, Unair juga menyarankan pemerintah mempertimbangkan vaksinasi bagi calon jamaah haji sesuai indikasi.
Gejala yang Harus Diwaspadai
Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengeluarkan Surat Kewaspadaan Penyakit Influenza A (H3n2) Subclade K pada 7 Januari 2026. Masyarakat perlu mengenali gejala berikut:
-
Demam tinggi hingga 39–41°C
-
Nyeri otot dan sendi hebat disertai rasa lemas
-
Sakit kepala berat yang mengganggu konsentrasi
-
Gangguan saluran pernapasan, termasuk sakit tenggorokan dan batuk kering
Cara Penularan
Virus influenza menular melalui beberapa jalur. Orang bisa terinfeksi melalui percikan droplet dari batuk atau bersin, kontak langsung dengan pasien, atau kontak tidak langsung melalui benda terkontaminasi.
Dr. Ari menekankan, vaksinasi dan kebersihan merupakan langkah paling efektif untuk melindungi diri dari superflu, terutama bagi kelompok rentan. Ia menegaskan, kesadaran masyarakat menjadi kunci mencegah penyebaran virus.(Tim)









