OTOMOTIF,JS- Penjualan mobil listrik BYD menurun drastis pada Januari 2026, menjadi yang terendah sejak Februari 2024. Perusahaan hanya berhasil menjual 83.249 unit mobil listrik murni dari total 205.518 unit kendaraan, termasuk model plug-in hybrid. Angka ini turun signifikan dibanding Februari 2024, ketika penjualan mencapai 121.748 unit.
Penurunan penjualan ini turut menekan harga saham BYD dalam beberapa pekan terakhir, sekaligus menandai tekanan yang semakin besar di pasar mobil listrik China, pasar otomotif terbesar di dunia.
Faktor Perlambatan Penjualan
Sejumlah faktor mendorong perlambatan ini. Pertama, permintaan domestik melemah. Kedua, kelebihan produksi mulai memengaruhi pasar global. Situasi makin sulit setelah pemerintah China menghapus insentif pajak pembelian kendaraan listrik per 1 Januari 2026, dan memberlakukan kembali pajak sebesar 5 persen. Akibatnya, banyak konsumen menunda pembelian.
Helen Liu, Partner Bain & Company, menilai kondisi pasar saat ini menimbulkan tekanan ganda. “Konsumen lebih bersikap wait and see, sementara produsen berhati-hati meluncurkan model baru,” katanya.
Persaingan Domestik Semakin Ketat
Persaingan dari produsen domestik semakin agresif. Aito, yang menggunakan sistem operasi Huawei, mencatat lonjakan pengiriman lebih dari 80 persen menjadi sekitar 40.000 unit. Leapmotor dan Nio masing-masing menjual 32.059 unit dan 27.182 unit. Xiaomi mengirimkan 39.000 unit, meski menurun dibanding bulan sebelumnya.
“BYD telah lama memimpin pasar, tetapi sekarang menghadapi kompetitor yang agresif,” ujar Tu Le, pendiri Sino Auto Insights. Geely melalui lini Galaxy dan Zeekr menempati posisi kedua dengan penjualan lebih dari 270.000 unit pada Januari. Geely menargetkan penjualan kendaraan energi baru naik 32 persen menjadi 2,22 juta unit sepanjang tahun.
Fokus Ekspansi dan Inovasi
Meski penjualan domestik menurun, BYD tetap menargetkan pertumbuhan ekspor 25 persen menjadi 1,3 juta unit pada 2026. Namun, realisasi Januari justru turun menjadi 100.482 unit dari 133.172 unit pada Desember 2025.
Tu Le tetap optimistis. Ia menilai BYD memiliki peluang besar untuk mempertahankan posisi utama melalui inovasi infrastruktur pengisian daya, penyimpanan energi, dan teknologi pengemudian cerdas.
Perlambatan Pasar Kendaraan Energi Baru
Secara keseluruhan, pertumbuhan penjualan kendaraan energi baru di China melambat. Pada Desember 2025, kenaikan tahunan hanya 2,6 persen. Pertumbuhan melambat tiga bulan berturut-turut, menandai sinyal kewaspadaan bagi industri otomotif, terutama di tengah lesunya sektor properti.
Cameron Johnson dari Tidalwave Solutions memperingatkan, jika perlambatan berlanjut, pemerintah kemungkinan akan kembali memberikan subsidi untuk menjaga stabilitas pasar. Sektor otomotif menyerap sekitar 30 juta tenaga kerja, lebih dari 10 persen pekerja perkotaan. Namun, kontribusinya terhadap investasi nasional hanya 3,7 persen, jauh di bawah sektor properti yang mencapai 23 persen.
Harapan Kebijakan Pemerintah
Pemerintah China dijadwalkan mengumumkan arah kebijakan ekonomi dan target 2026 dalam sidang tahunan parlemen pada Maret. Keputusan ini diharapkan memberikan kepastian bagi industri otomotif sekaligus meredam gejolak pasar yang terus berubah.(*)









