BISNIS,JS- Ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2026 mendorong banyak orang kembali memburu logam mulia. Inflasi yang belum sepenuhnya terkendali, tekanan nilai tukar, hingga tensi geopolitik membuat masyarakat mencari aset yang lebih aman dan tahan guncangan.
Di tengah situasi tersebut, perdebatan lama kembali muncul: sebaiknya menyimpan emas atau mulai beralih ke perak? Keduanya sama-sama logam mulia, tetapi karakter dan strategi pemanfaatannya berbeda.
Tren Investasi Logam Mulia Kembali Menguat
Dalam beberapa bulan terakhir, minat terhadap emas dan perak meningkat signifikan. Investor ritel tidak hanya membeli untuk koleksi, tetapi juga untuk menjaga daya beli dalam jangka panjang.
Selain itu, kemudahan akses pembelian melalui platform digital dan lembaga resmi membuat masyarakat semakin percaya diri masuk ke pasar logam mulia. Namun, sebelum mengambil keputusan, investor perlu memahami perbedaan mendasar antara emas dan perak.
Emas: Stabil, Likuid, dan Penuh Kepastian
Pertama, mari melihat karakter emas. Sejak lama, pasar global mengakui emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Ketika pasar saham bergejolak, banyak investor memindahkan dana mereka ke emas untuk menjaga kestabilan nilai.
Di Indonesia, investor ritel banyak memilih produk dari PT Aneka Tambang Tbk melalui merek Logam Mulia Antam. Produk ini menawarkan kadar kemurnian tinggi dan sertifikat resmi, sehingga memudahkan proses jual kembali.
Lebih jauh lagi, emas memiliki likuiditas tinggi. Investor dapat menjualnya di toko emas, pegadaian, maupun lembaga resmi kapan saja. Pergerakan harganya pun cenderung stabil dalam jangka panjang. Karena itu, emas cocok bagi investor konservatif yang mengutamakan keamanan modal.
Namun demikian, harga emas relatif tinggi. Investor membutuhkan modal awal lebih besar untuk membangun kepemilikan dalam jumlah signifikan.
Perak: Lebih Terjangkau, Lebih Agresif
Sebaliknya, perak menawarkan pintu masuk yang lebih ramah bagi investor pemula. Harganya jauh lebih terjangkau dibanding emas, sehingga masyarakat dengan modal terbatas tetap bisa mulai berinvestasi.
Akan tetapi, perak memiliki karakter berbeda. Selain berfungsi sebagai instrumen investasi, industri menggunakan perak sebagai bahan baku utama untuk panel surya, komponen elektronik, dan peralatan medis. Permintaan industri tersebut membuat harga perak sangat sensitif terhadap kondisi ekonomi global.
Ketika sektor manufaktur dan energi bersih tumbuh pesat, harga perak sering melonjak lebih cepat daripada emas. Sebaliknya, saat aktivitas industri melambat, harga perak bisa turun tajam. Dengan kata lain, perak menawarkan potensi keuntungan lebih tinggi, tetapi juga menghadirkan volatilitas yang lebih besar.
Perbandingan Karakter: Mana Lebih Sesuai?
Agar lebih jelas, berikut perbandingan karakter investasi keduanya:
Emas
- Menjaga nilai dalam jangka panjang
- Memiliki likuiditas tinggi
- Cocok sebagai pelindung kekayaan saat krisis
- Membutuhkan modal awal lebih besar
Perak
- Harga lebih terjangkau
- Berpotensi memberi imbal hasil lebih tinggi
- Dipengaruhi kuat oleh permintaan industri
- Memiliki volatilitas dan spread lebih lebar
Dengan memahami perbedaan ini, investor dapat menyesuaikan pilihan dengan tujuan keuangan masing-masing.
Strategi Cerdas Membangun Portofolio
Selanjutnya, investor perlu menyusun strategi agar investasi logam mulia benar-benar optimal.
Pertama, pantau harga secara rutin. Nilai logam mulia dipengaruhi harga global dan pergerakan dolar AS terhadap rupiah. Informasi harian membantu menentukan waktu beli yang tepat.
Kedua, terapkan diversifikasi. Banyak perencana keuangan menyarankan pembagian proporsi, misalnya 70–80 persen emas untuk stabilitas dan 20–30 persen perak untuk mengejar pertumbuhan.
Ketiga, periksa kemurnian dan sertifikat. Pilih kadar 99,9 persen atau 99,99 persen agar mudah menjual kembali di masa depan.
Keempat, siapkan penyimpanan aman. Gunakan brankas pribadi atau layanan penitipan resmi untuk mengurangi risiko kehilangan.
Terakhir, fokus pada jangka panjang. Simpan logam mulia minimal tiga hingga lima tahun agar potensi keuntungan dapat menutup selisih harga jual dan beli.
Menentukan Pilihan Berdasarkan Profil Risiko
Pada akhirnya, keputusan investasi harus selaras dengan profil risiko. Jika Anda mengutamakan kestabilan dan tidak nyaman melihat fluktuasi tajam, emas menjadi pilihan rasional. Emas berperan sebagai jangkar yang menjaga keseimbangan portofolio.
Sebaliknya, jika Anda masih muda, memiliki dana terbatas, dan siap menghadapi pergerakan harga yang dinamis, perak dapat menjadi pelengkap menarik. Terlebih lagi, tren transisi energi hijau mendorong peningkatan kebutuhan panel surya yang menggunakan perak sebagai komponen utama.
Oleh karena itu, banyak analis menyarankan kombinasi keduanya. Strategi ini memberi keseimbangan antara keamanan dan peluang pertumbuhan.
Di tengah ketidakpastian ekonomi 2026, investor tidak perlu memilih secara ekstrem. Dengan perencanaan matang dan disiplin jangka panjang, emas dan perak sama-sama dapat memperkuat fondasi keuangan.(*)









