JAKARTA,JS— Fenomena Unik: Konsumsi Melemah, Keyakinan Ekonomi Menguat
Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa rata-rata porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi turun ke 72,3% pada Januari 2026. Angka ini merupakan yang terendah dalam enam tahun terakhir, turun dari 74,3% pada bulan sebelumnya. Bahkan, level ini hampir menyamai titik rendah saat pandemi Covid-19 pada Desember 2020, yaitu 69,0%.
Masyarakat Alihkan Pendapatan ke Tabungan dan Cicilan
BI mencatat proporsi pendapatan yang disimpan masyarakat naik menjadi 16,5%, dari sebelumnya 14,8%, dan menjadi level tertinggi sejak awal 2023. Sementara itu, rasio pembayaran cicilan terhadap pendapatan meningkat menjadi 11,2%, dari 10,8% pada akhir 2025.
Kelompok kelas menengah-atas menahan pengeluaran paling ketat. Mereka dengan pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan hanya menggunakan 70,1% pendapatan untuk belanja. Sebaliknya, kelompok berpenghasilan rendah dengan pengeluaran Rp1–2 juta per bulan masih membelanjakan 74,5% pendapatan mereka untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Keyakinan Konsumen Malah Menguat
Meski konsumsi menurun, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) justru meningkat. IKK naik 3,5 poin menjadi 127 pada Januari 2026, level tertinggi dalam setahun terakhir. Kenaikan ini terjadi hampir di semua kelompok pengeluaran dan usia. Lonjakan tertinggi terlihat pada kelompok usia 20–30 tahun, dari 127,9 menjadi 134,2. Secara regional, kota-kota seperti Semarang, Palembang, dan Padang mencatat peningkatan signifikan.
Alasan Optimisme Konsumen
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan, masyarakat tetap optimistis karena perbaikan indikator ekonomi. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) naik menjadi 115,1, ditopang penguatan indeks penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan pembelian barang tahan lama. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mencapai 138,8. Meski ekspektasi lapangan kerja stagnan, keyakinan tetap menguat.
Fenomena Anomali: Menahan Belanja, Tetap Optimistis
Fenomena ini menunjukkan adanya anomali konsumsi. Masyarakat menahan pengeluaran namun tetap optimistis terhadap prospek ekonomi.(*)









