FTSE Russell Tunda Rebalancing Indeks Indonesia, Pasar Saham Tetap Stabil

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 10 Februari 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Pasar Saham.(Sumber/Google)

Ilustrasi Pasar Saham.(Sumber/Google)

BISNIS,JS – FTSE Russell menunda peninjauan indeks saham Indonesia untuk periode rebalancing Maret 2026. Keputusan tersebut membuat FTSE Russell belum menambah atau menghapus saham Indonesia. Lembaga indeks global itu juga menahan perubahan klasifikasi kapitalisasi besar, menengah, dan kecil.

Keputusan tersebut belum memicu gejolak di pasar saham domestik. Hingga pembukaan perdagangan Selasa (10/2/2026), investor masih mencatat pergerakan harga saham yang relatif stabil.

Baca Juga :  Saham GOTO Sideways, Investor Tahan Aksi

FTSE All-World Index Menampung 39 Saham Indonesia

Saat ini, FTSE All-World Index memuat 39 saham Indonesia. Sektor basic materials dan consumer staples mendominasi komposisi indeks. Masing-masing sektor menyumbang tujuh emiten.

Sektor telekomunikasi menyumbang enam saham. Sektor keuangan menghadirkan lima emiten. Sementara itu, sektor industri dan energi masing-masing mengisi empat saham.

Kapitalisasi Pasar Tembus US$115,19 Miliar

Hingga 30 Januari 2026, saham Indonesia di FTSE Index mencatat total kapitalisasi pasar US$115,19 miliar. Emiten-emiten tersebut menghasilkan dividend yield 5,31%.

Baca Juga :  Saham Big Banks Melemah, BBRI Paling Terdampak

Rata-rata kapitalisasi pasar setiap emiten mencapai US$2,94 miliar. Emiten terbesar membukukan kapitalisasi US$21,64 miliar, sedangkan emiten terkecil mencatat sekitar US$181 juta.

10 Saham Terbesar Menguasai 76% Market Cap

Sebanyak 10 saham berkapitalisasi terbesar menguasai 76,07% total market cap saham Indonesia di FTSE Index.

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memimpin dengan kapitalisasi pasar US$21,64 miliar. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menempati posisi kedua dengan US$14,99 miliar. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menyusul dengan kapitalisasi US$12,45 miliar.

Bank Besar Masih Menjadi Penopang Utama

Setelah tiga bank besar, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) mencatat kapitalisasi pasar US$9,34 miliar. PT Astra International Tbk. (ASII) membukukan market cap US$7,63 miliar.

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) mencatat kapitalisasi US$7,23 miliar. PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) menyusul dengan kapitalisasi US$5,46 miliar.

Baca Juga :  Mengenal Free Float: Ukuran Risiko dan Peluang Saham

Selanjutnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mencatat kapitalisasi US$3,22 miliar. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) membukukan US$2,98 miliar. PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) melengkapi daftar dengan kapitalisasi US$2,66 miliar.

Harga Saham Bergerak Terbatas

Pada perdagangan pagi ini, pasar menunjukkan respons terbatas. Hingga pukul 09.16 WIB, saham BBCA bertahan di Rp7.500. BBRI turun tipis 0,27% ke Rp3.760. BMRI bertahan di Rp5.000.

Sebaliknya, TLKM naik 1,79% ke Rp3.410. ASII menguat 0,38% ke Rp6.675. AMMN naik 0,67% ke Rp7.475, sedangkan BRPT menguat 0,75% ke Rp2.010.

Di sisi lain, DSSA turun 0,91% ke Rp92.100. BBNI melemah 0,66% ke Rp4.490. GOTO turun 1,67% ke Rp59.

OJK dan BEI Dorong Reformasi Pasar Modal

Sebelumnya, FTSE Russell menyampaikan alasan penundaan rebalancing. Lembaga tersebut menilai reformasi pasar modal Indonesia masih berlangsung. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) memimpin proses reformasi tersebut.

Reformasi tersebut mencakup penyesuaian aturan free float dan peningkatan transparansi data investor. Proses tersebut membutuhkan kepastian sebelum FTSE Russell melakukan peninjauan ulang.

FTSE Russell Menunggu Kepastian Free Float

FTSE Russell menilai reformasi tersebut berpotensi menimbulkan ketidakpastian dalam penentuan persentase free float. Kondisi tersebut juga berisiko mendorong peningkatan turnover pasar.

Atas dasar itu, FTSE Russell memilih menunda peninjauan indeks Indonesia yang semula dijadwalkan berlangsung pada Maret 2026.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. jambisun.id tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.(*)

Berita Terkait

Cara Tarik Tunai OVO di ATM BCA dan Indomaret Tanpa Kartu, Praktis dan Cepat 2026
Harga Emas Perhiasan 16 Mei 2026 Turun Drastis, Cek Harga 24K hingga 5K Terbaru
Kabar Baik Seller Online! Pemerintah Siapkan Aturan Baru untuk TikTok Shop dan Shopee
Pinjol Tanpa BI Checking Cair Cepat 2026, Ini Daftar Legal OJK dan Cara Aman Ajukan Pinjaman Online
Cara Transfer OVO ke DANA Terbaru 2026, Praktis dan Cepat Tanpa Ribet
Tips Finansial: Cara Aman Pakai Kartu Kredit Supaya Dompet Tetap Aman
10 Peluang Usaha Desa Terbaru 2026 yang Menjanjikan, Modal Kecil Untung Besar
Harga BBM Naik Saat Long Weekend Mei 2026, Pertamax hingga Solar Non Subsidi Melonjak Tajam
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 16 Mei 2026 - 11:02 WIB

Cara Tarik Tunai OVO di ATM BCA dan Indomaret Tanpa Kartu, Praktis dan Cepat 2026

Sabtu, 16 Mei 2026 - 10:02 WIB

Harga Emas Perhiasan 16 Mei 2026 Turun Drastis, Cek Harga 24K hingga 5K Terbaru

Jumat, 15 Mei 2026 - 23:03 WIB

Kabar Baik Seller Online! Pemerintah Siapkan Aturan Baru untuk TikTok Shop dan Shopee

Jumat, 15 Mei 2026 - 18:05 WIB

Pinjol Tanpa BI Checking Cair Cepat 2026, Ini Daftar Legal OJK dan Cara Aman Ajukan Pinjaman Online

Jumat, 15 Mei 2026 - 12:05 WIB

Cara Transfer OVO ke DANA Terbaru 2026, Praktis dan Cepat Tanpa Ribet

Berita Terbaru

Kondisi banjir di bungo

Bungo

Banjir Bungo Jambi Meluas, Ribuan Rumah Warga Terendam

Sabtu, 16 Mei 2026 - 13:04 WIB